Presentasi di depan umum | Freepik
21 Jul 2020, 09:09 WIB

Jurus Jitu Milenial Tangguh

Kunci milenial tangguh adalah tetap berpikir positif dan terbuka menerima saran kritik.

Josie Valentino sempat merasa kecewa. Suatu waktu, atasan di kantor mengatakan dia belum layak ikut sebuah presentasi penting. Alasannya, kemampuan berbahasa Inggris Josie dinilai masih kurang. Pemuda 29 tahun itu tidak mau patah arang. Josie segera mengikuti kursus bahasa Inggris untuk orang dewasa di lembaga pendidikan bahasa asing. Tepatnya, di English First (EF) Adults.

Josie tidak hanya memperbaiki bahasa Inggrisnya, dia juga belajar public speaking. Setelah delapan bulan les, kemampuan Josie kian berkembang hingga dipercaya memimpin presentasi di kantornya. "Menurut aku bahasa Inggris membantu banget di dunia kerja, bikin lebih percaya diri dan bisa punya banyak teman," kata lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta itu.

Dia menyadari, kekurangannya berbahasa Inggris sebelum mengikuti kursus adalah takut memulai. Ada rasa malu apabila melakukan kesalahan, padahal semua orang sejatinya memang terus belajar. Josie berhasil mengatasi itu, sehingga bisa mengembangkan apa yang sebelumnya dianggap sebagai kekurangan. Dia pun terus berusaha memaksimalkan potensinya, terutama di bidang komunikasi.

Selain kemampuan berbahasa asing, Josie menganggap ada sejumlah soft skill yang sangat berguna melebihi gelar formal. Misalnya, beradaptasi dengan tempat, lingkungan, dan dunia baru. Era saat ini sangat menuntut seseorang untuk fleksibel, ditambah dengan berbagai inovasi teknologi yang selalu berubah. Menurut Josie, hal penting lain adalah berpikir positif serta terbuka menerima saran kritik dari orang lain.

Terkait

Josie semula masih belum yakin potensi apa yang dia miliki dan bisa dikembangkan. Terlebih, pria yang berdomisili di Jakarta Utara itu menyadari dirinya adalah sosok introver. "Waktu belajar bahasa Inggris, didorong untuk ngomong sama banyak orang, ternyata aku merasa bagus di bidang komunikasi," ujar salah satu EF Ambassadors 2020 tersebut.

photo
Sesi bincang santai mengenai kompetensi generasi milenial pada peluncuran kampanye EF Ambassadors 2020 yang digelar oleh EF Adults. - (Dok EF Adults)

 

Kompetitif

Psikolog klinis dewasa Tara Adhisti De Thouars menyoroti bahwa cara berpikir dan nilai-nilai yang dianut satu generasi, berbeda dengan generasi lainnya. Begitu pula milenial yang punya cara sendiri untuk belajar serta bisa menjadi produktif. Istilah milenial berlaku untuk mereka yang lahir antara 1981-1996.

Menurut Tara, karakteristik milenial antara lain berpikiran terbuka, menyukai tantangan, multitasking, dan suka mengejar progres. Akan tetapi, generasi ini cenderung mudah bosan.

Milenial menghadapi banyak tantangan. Karena perkembangan internet, segala sesuatu terpampang di media sosial. Informasi serbaterbuka itu membuat lingkungan kian kompetitif. "Kalau tidak bisa bersaing, mereka akan stres sendiri karena ada banyak perbandingan dengan orang lain," ucap lulusan Universitas Queensland, Australia, itu.

Itu sebabnya milenial perlu memaksimalkan kompetensinya. Tara mengutip teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Hierarki itu menunjukkan bahwa seseorang memiliki kebutuhan fisiologi, keamanan, kasih sayang, penghargaan, hingga mencapai aktualisasi diri.

Dari perspektif psikologi, kompetensi terletak pada kebutuhan akan penghargaan. Artinya, seseorang bisa melakukan sesuatu, diakui, dan dapat memanfaatkan kemampuan itu dengan sebaik-baiknya. "Supaya kebutuhan esteem(penghargaan diri) itu terpenuhi, ada dua hal yang perlu dilakukan, yaitu mengasah hard skill dan soft skill," ucapnya.

Berdasarkan sejumlah riset yang dibaca Tara, soft skill paling populer yang dibutuhkan perusahaan adalah kecakapan berkomunikasi. Orang dengan kemampuan verbal dan nonverbal, yaitu terampil menulis dan berbicara, relatif dicari. Hal tersebut karena bahasa merupakan kebutuhan dasar saat seseorang berinteraksi dengan orang lain. Dengan adanya globalisasi, seseorang pun dituntut untuk memiliki kemampuan berbahasa asing, utamanya bahasa Inggris yang menjadi bahasa internasional.

Dia pun mengaku kerap menangani pasien usia produktif yang mengalami depresi dan gangguan kecemasan karena merasa menjalani hidup yang kurang memuaskan. Lantas, apa yang terjadi bila  kebutuhan terhadap penghargaan itu tidak terpenuhi? ‘’Mereka akan sulit naik ke puncak aktualisasi diri,’’ kata Tara.

 

Dengarkan kata hati

Berkarier sebagai staf pemasaran dengan klien yang sebagian besar berasal dari negara lain sempat membuat Melisa Djajaatmadja kurang percaya diri. Perempuan 31 tahun yang berdomisili di Surabaya tersebut bingung saat harus menghadapi para klien warga negara asing. "Waktu join EF, pikiran pertama ingin bisa ngomong bahasa Inggris dengan lancar, tetapi ternyata ada materi business English yang support pekerjaan aku banget," ungkapnya.

Sama seperti Josie, Melisa juga merupakan EF Ambassadors 2020 yang dianggap berprestasi di kelas kursus. Melisa mengaku bangga mendapat kesempatan itu karena dia tipe orang yang suka belajar. Selain menjadi wanita karier, Melisa merupakan ibu rumah tangga dengan tiga anak. Pengembangan kemampuan bahasa Inggris membuat dia bisa mengajari anak-anaknya yang berusia 7, 10, dan 13 tahun.

Padahal, awalnya Melisa kebingungan mengajari anak-anaknya yang sudah sangat mahir berbahasa Inggris. Hal itu lantaran sekolah mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Seraya menjalani peran menjadi istri dan ibu sambil meniti karier, Melisa ingin terus mengembangkan potensinya. Melengkapi kemampuan berkomunikasi, dia mengembangkan soft skill lain.

Menurut Melisa, kemampuan yang penting dimiliki adalah cara membawa diri dan menghadapi orang yang berbeda-beda. Dia banyak membaca buku pengembangan diri untuk mendukung itu semua. "Menurut aku, hidup itu setiap hari, setiap saat, harus belajar," kata Melisa yang menuntaskan studi di Jurusan Akuntansi Universitas Pelita Harapan itu.

Menurut psikolog klinis dewasa Tara Adhisti De Thouars, ada pola pikir yang perlu dimiliki apabila seseorang mau memaksimalkan kompetensinya. Hal pertama adalah keluar dari zona nyaman. Sayangnya, masih banyak yang sulit melakoninya.

Hal kedua adalah menantang diri sendiri. Pada dasarnya, Tuhan menciptakan otak manusia sangat canggih, punya kemampuan belajar. Oleh karenanya, tidak perlu takut menantang diri. "Menolak tantangan, berarti menolak sesuatu bagus yang kita tidak tahu sebeumnya. Tanpa menantang diri, kita tidak akan pernah tahu potensi maksimal kita ada di mana," tuturnya.

Perempuan yang juga mendalami bidang psikologi pendidikan itu menyampaikan pola pikir selanjutnya. Hal penting tersebut yakni mendengarkan kata hati. Tidak sedikit orang, khususnya milenial, yang membiarkan pikiran ketakutan mengambil alih. Pihak lain yang sangat berperan adalah lingkungan, utamanya orang tua.

Seringkali orang tua membesarkan anak dengan kepengasuhan penuh larangan dan perintah. Secara tidak sadar, pola itu membuat seseorang tumbuh dengan keyakinan 'tidak boleh salah'.

Tara mengingatkan orang tua untuk tidak serta-merta melontarkan kritik pada anak saat melakukan kesalahan karena itu bisa membuatnya patah semangat. Bagaimanapun, rumah dan lingkungan terdekat akan mencetak pola pikir anak. "Setiap orang pasti ingin punya kemampuan. Salah satu cara menjadi manusia yang punya makna adalah dengan mengembangkan diri," ungkap Tara yang menamatkan program magister psikologi profesi klinis dewasa di Universitas Indonesia.

 

 
Setiap orang pasti ingin punya kemampuan. Salah satu cara menjadi manusia yang punya makna adalah dengan mengembangkan diri.
Tara Adhisti De Thouars, psikolog klinis dewasa
 

 


×