Presiden Donald Trump | EPA-EFE/CHRIS KLEPONIS / POOL
20 Jul 2020, 23:19 WIB

Covid Makin Meroket, Trump Kian Nyungsep

Inilah masker pertama yang dikenakan Trump di depan publik setelah lima bulan kelimpungan akibat Covid.

OLEH HARUN HUSEIN

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akhirnya mengenakan masker. Anjuran yang selama ini ditolak dan diabaikannya. Namun, langkah itu sudah terlambat dan tak mampu lagi menolongnya.

Bak sedang bermain jungkat-jungkit, grafik Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Amerika kian menjulang. Sebaliknya, elektabilitas sang petahana kian terbenam.

Trump mengenakan masker saat mengunjungi Walter Reed National Military Medical Center, di kawasan Bethesda, negara bagian Maryland, Sabtu, 11 Juli 2020. Trump mengenakan masker berwarna biru dongker. Demikian pula para personel militer, agen dinas rahasia, dan staf Gedung Putih yang mendampinginya. Bedanya, masker Trump dihiasi pin emas kepresidenan. 

Terkait

Penampilan Trump pekan lalu, itu, seketika menarik perhatian. Karena, inilah masker pertama yang dikenakannya di depan publik, setelah lima bulan negara adidaya itu dibuat kelimpungan oleh wabah coronavirus. “Finally, Trump donned (akhirnya Trump mengenakan [masker],” tulis laman Politico.

Namun, media lain menuliskan sindiran keras bahwa ketika masker tersebut dikenakan, jumlah orang yang meninggal karena Covid-19 di Amerika Serikat telah berjumlah lebih dari 137 ribu orang. Persisnya, menurut data Worldometer adalah 137.371 orang atau bertambah 732 orang dibanding korban tewas pada 10 Juli, yang berjumlah 136.639 orang.

Politisasi masker

Merespons langkah Trump yang tiba-tiba mengenakan masker, kubu Joe Biden, melayangkan sindiran. Andrew Bates, bekas juru bicara wakil presiden, mengatakan bahwa Trump telah membuang waktu empat bulan. Selama itu, langkahnya menolak masker, diikuti sebagian orang Amerika yang menjadi pendukungnya. Sementara, kata dia, Joe Biden telah mengenakan masker sejak awal dan memberi contoh yang baik kepada publik.

“Donald Trump menghabiskan berbulan-bulan mengabaikan nasihat para ahli medis dan mempolitisasi penggunaan masker, yang merupakan salah satu hal paling penting yang bisa kita lakukan untuk mencegah penyebaran virus," kata Andrew Bates, seperti dikutip CNN.

Beberapa bulan terakhir, pernyataan dan perilaku Trump dalam menyikapi Covid-19 memang membikin resah orang-orang dekatnya. Karena, elektabilitas Trump terus tergerus seiring terus meningkatnya Covid di negara itu.

Bekas Gubernur New Jersey, Chris Christie, yang meng-endorse Trump pada 2016 silam mengatakan, “Dia (Trump) kalah. Dan, jika dia tidak segara mengubah arah, baik dalam hal substansi dan pendekatannya terhadap publik Amerika, maka dia akan kalah,” katanya kepada ABC News, seperti dikutip The Guardian.

Boleh jadi, langkah Trump mengenakan masker tersebut, merupakan salah satu cara dia mengakomodasi nasihat-nasihat itu. Meski demikian, ‘politik masker’ tersebut ternyata tak banyak berguna. Sebab mood publik Amerika telah semakin berubah. Selain itu, Trump pun tidak konsisten mengenakan masker.

Saat mengunjungi dan bercakap-cakap dengan para veteran yang terluka di Walter Reed National Military Medical Center, Trump memang pasang masker. Namun, saat berada di luar rumah sakit, dia kembali melepasnya.

Trump pun, ternyata, masih tetap dengan 'kebandelannya' saat mengatakan bahwa di kawasan-kawasan dengan testing yang baik, serta diberlakukan social distancing, masker tidaklah diperlukan. “Saya tidak pernah menentang penggunaan masker. Tapi, saya yakin ada waktu dan tempat untuk mengenakannya,” katanya.

Pendukung bertumbangan

Dan, situasi pun terbukti semakin parah. Para pendukung Trump mulai bertumbangan karena Covid. Antara lain Gubernur Oklahoma, Kevin Stitt, yang pada Selasa sore, 14 Juli, menyampaikan kepada pers bahwa hasil tes menyatakan bahwa dia positif terinfeksi coronavirus. Infeksi tersebut, kata dia, terjadi setelah beberapa pekan sebelumnya dia menghadiri kampanye Trump di kawasan Tulsa, Oklahoma.

Kampanye Trump yang berlangsung pada 20 Juni tersebut dinilai para pejabat kesehatan di Oklahoma sebagai salah satu penyebab melonjaknya Covid di negara bagian itu. Saat kampanye itu berlangsung, jumlah kasus positif Covid di Oklahoma sekitar 10 ribu. Tapi, per 16 Juli, jumlahnya telah mencapai 23.441 kasus atau meningkat lebih dari dua kali lipat. 

“Saya baik-baik saja. Kemarin saya merasa sedikit sakit. Saya akan bekerja dari rumah dan mengisolasi diri,” kata Gubernur Kevin Stitt. 

Pembaca acara game show, Chuck Woolery, juga kena batunya. Pada Ahad, 12 Juli, dia berkicau di Twitter dengan menyatakan semua orang berbohong tentang Covid, termasuk media, Partai Demokrat, para dokter, dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC). Bahkan, dia mengaitkannya dengan intrik pemilu.

Kicauan lengkap Chuck berbunyi: “The most outrageous lies are the ones about Covid 19. Everyone is lying. The CDC, Media, Democrats, our Doctors, not all but most, that we are told to trust. I think it’s all about the election and keeping the economy from coming back, which is about the election. I’m sick of it”

Kicauan Chuck --pembaca acara Wheel of Fortune dan Love Connection ini viral. Apalagi, setelah kicauan itu di-retweet oleh Trump.

Tapi, keesokan harinya, Senin sore, 13 Juli, dia mengumumkan anaknya positif Covid. Dan, baru pada saat itulah, dia menulis kicauan berbeda: “Ini hanya untuk memperjelas dan menambah perspektif kita, bahwa Covid-19 nyata dan ada di sini. Anak saya telah dinyatakan positif terkena virus itu.”

Rabu, 15 Juli, kicauannya yang sempat di-retweet Donald Trump, hilang dari Twitter. Chuck menghapusnya.

Terus merosot

Lalu, bagaimana perkembangan Covid dan elektabilitas Trump? Polanya tetap sama: ketika grafik Covid terus naik, elektabilitas Trump semakin turun.

Berdasarkan data Worldometer pada 1 Juli, kasus positif di AS berjumlah 2.781.217, dan 130.726 orang meninggal. Pada 16 Juli, jumlah kasus positifnya 3.695.025, dan yang meninggal 141.118. Dengan demikian, kasus positifnya dalam setengah bulan bertambah sebanyak 913.808, sedangkan yang meninggal bertambah 10.392 orang.

Selama periode itu, elektabilitas Trump juga kian merosot. Berdasarkan data The Economist, pada 1 Juli, popular vote Trump masih 45,7 persen, namun pada 16 Juli turun menjadi 45,1 persen. Sebaliknya, Joe Biden naik dari 54,3 persen pada 1 Juli, menjadi 54,9 persen pada 16 Juli.

Electoral vote Trump juga turun. Pada 1 Juli, Trump diprediksi meraih 191 electoral vote. Namun, pada 16 Juli tinggal 185. Sebaliknya, Joe Biden naik dari 345 pada 1 Juli, menjadi 353 pada 16 Juli.

Kans Trump pun semakin tipis. Pada 1 Juli, peluang Trump masih 10 persen. Namun, pada 16 Juli, peluangnya tinggal tujuh persen. Dan tentu, saja, peluang Biden untuk menang semakin besar, yaitu 93 persen.


×