Karyawan Biro Perjalanan Munir Imani melayani konsumen di Serang, Banten, beberapa waktu lalu. | ASEP FATHULRAHMAN/ANTARA FOTO

Ekonomi

20 Jul 2020, 03:00 WIB

Tertekan Pandemi, Agen Perjalanan Haji Umrah Banting Setir

Ekonomi Indonesia berpotensi tergerus Rp 43 triliun akibat matinya bisnis haji dan umrah.

JAKARTA – Perusahaan agen perjalanan haji dan umrah terpaksa mengerjakan bisnis lain di luar bisnis inti untuk tetap bertahan di tengah pandemi. Gelombang penarikan dana calon jamaah membuat perusahaan kesulitan arus kas. Perusahaan yang bertahan berupaya tetap menjaga hubungan dengan pelanggan dengan membuat terobosan menggunakan basis data jamaah untuk berbisnis makanan dan pakaian.

"Kita berupaya untuk bisa menjaga jamaah," kata Wakil Ketua Umum Bidang Humas dan Kelembagaan Himpuh Muharom Ahmad kepada Republika, Ahad (19/7).

Muharom mengeklaim, bisnis umrah dan haji khusus dari biro travel Indonesia merugi hingga lebih dari Rp 25 triliun. Hal itu berasal dari perhitungan kehilangan pendapatan selama delapan bulan aktivitas umrah pada 1441 Hijriyah dan lima bulan pada 1142 Hijriyah.

"Kita diperkirakan kehilangan bisnis sekitar 13 bulan atau lebih dari satu tahun. Jika rata-rata jamaah umrah sampai satu juta per tahun maka dikali Rp 25 juta per orang, maka hilang lebih dari Rp 25 triliun," kata Muharom.

photo
Jamaah dengan jumlah terbatas melaksanakan shalat dengan menjaga jarak di Masjidil Haram, Makkah, Selasa (5/5). Selama pandemi Covid-19 kerajaan Arab Saudi menutup akses kedua masjid suci dari umum. - (Saudi Press Agency/Handout via Reuters)

Saat ini, biro perjalanan masih diliputi ketidakpastian terkait pembukaan kembali aktivitas ibadah umrah. Sementara, untuk haji khusus yang sudah pasti tidak berangkat tahun ini, biro perjalanan kehilangan omzet berputar sekitar Rp 4,2 triliun. Jamaah haji khusus Indonesia berjumlah sekitar 17 ribu hingga 21 ribu orang. Himpuh memiliki porsi sekitar 10 ribu calon jamaah.

"Praktis, penyelenggara umrah tidak ada pemasukan sama sekali. Tidak ada paket yang bisa dijual juga karena banyaknya ketidakpastian," katanya.

Menurut Muharom, sekitar 60 persen perusahaan biro perjalanan haji dan umrah diproyeksikan gulung tikar karena pandemi Covid-19. Tutupnya bisnis tersebut terjadi pada pelaku usaha yang tidak punya lini usaha lain. Beberapa perusahaan yang masih bisa bertahan mengandalkan bisnis sampingan.

Biro travel Wahana yang dipimpin oleh Muharom pun belum menawarkan paket perjalanan karena banyaknya ketidakpastian. Seperti harga-harga akomodasi di Arab Saudi, protokol keamanan, dan lainnya. Ia memperkirakan, keberangkatan paling cepat bisa terjadi pada kuartal III 2020.

"Tapi, kita belum berani menawarkan, dari sisi syar'i juga tidak bisa menawarkan sesuatu yang tidak pasti," katanya.

Direktur Patuna Tour and Travel Syam Resfiadi juga menyampaikan, hingga saat ini bisnis perjalanan haji dan umrah masih tutup atau kosong. "Tutup semuanya, ada pendaftaran dengan perjanjian, bisa bertemu di kantor, tapi tidak banyak," ujarnya kepada Republika.

Sejumlah jamaah yang sudah mendaftar beberapa waktu sebelum wabah pun banyak yang membatalkan perjalanannya. Menurut Syam, terdapat 700 jamaah umrah Patuna yang seharusnya berangkat selama periode Maret-Mei dan Syawal.

Ekonom Indef Rusli Abdullah menyebut, ekonomi Indonesia berpotensi tergerus sebesar Rp 43 triliun atau setara 0,27 persen dari PDB akibat matinya bisnis haji dan umrah pada 2020. Menurutnya, terdapat tiga sektor yang terdampak, yakni penerbangan, perdagangan, dan industri makanan serta minuman. Rusli menjelaskan, kegiatan ekonomi di tiga sektor tersebut berputar karena adanya pengeluaran belanja rumah tangga jamaah haji atau umrah untuk keperluan ibadah.

"Ketiga sektor ini mendapatkan perubahan permintaan akhir akibat aktivitas ekonomi haji dan umrah terhenti," ungkap Rusli.

photo
Pedagang merapikan barang dagangannya di salah satu toko oleh-oleh haji di Jalan Pasar Utara, Kota Bandung, Jumat (5/6). Berdasarkan keterangan pedagang, penjualan oleh-oleh haji menurun hingga 90 persen setelah keputusan pemerintah untuk membatalkan pemberangkatan jamaah haji tahun ini karena pandemi Covid-19 - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Rusli menyampaikan, aktivitas ekonomi yang kehilangan momentum akibat ketiadaan haji dan umrah adalah tradisi walimatussafar. Tradisi tersebut terkait penyediaan makanan dan minuman yang menyasar UMKM. Pada musim haji dan umrah 2020 diasumsikan terdapat belanja rumah tangga Rp 4,2 triliun.

Angka ini diperoleh dari rata-rata belanja per jamaah untuk tasyakuran sebelum berhaji Rp 7,5 juta per jamaah dengan total Rp 1,7 triliun. Jamaah umrah, diasumsikan rata-rata mengeluarkan Rp 2,5 juta per jamaah, totalnya Rp 2,5 triliun.

Selain itu, haji dan umrah tak terlepas dari oleh-oleh. Setidaknya, Rp 3,6 triliun hilang akibat pembatalan keberangkatan ke Tanah Suci. Asumsi belanja oleh-oleh Rp 5 juta per jamaah dan Rp 2,5 juta oleh jamaah umrah. Dengan 231 ribu jamaah haji dan satu juta jamaah umrah, potensi ekonomi yang hilang Rp 3,6 triliun.

Menurut Rusli, perlu ada kebijakan untuk menanggulangi dampak pembatalan haji 2020, terutama bagi UMKM. Dia pun mendorong anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN) bisa segera digelontorkan sebagai insentif kepada UMKM. 


×