Aneka figur aksi yang diburu para kolektor. | Santi Sopia/Republika
10 Jul 2020, 09:23 WIB

Antara Komunitas dan Figur Aksi Favorit

Kehadiran komunitas bisa membantu membuka wawasan.

Memiliki hobi terkadang membuat seseorang lebih bersemangat melakukan aktivitas. Seperti Aufar Putra yang mengaku banyak menghabiskan waktu selama masa di rumah saja dengan menonton film One Piece kegemarannya. ‘’Sekarang ini (film seri) One Piece sudah hampir  1.000 episode, tapi saya baru nonton  sekitar 500-an episode,’’ ujar mahasiswa Universitas Negeri Jakarta ini.

Aufar tidak sendiri. Demi hobi juga, muncul dorongan untuk bersosialisasi atau bertemu kenalan-kenalan baru. Angga Lendrasidi (26 tahun) turut mencoba bergabung dengan salah satu komunitas seri anime Jepang demi mendukung hobinya. Saat ditemui di Jakarta, Angga mengaku mencari dan bergabung dengan komunitas One Piece Indonesia sejak 2014 lalu. Hanya berselang satu tahun setelah komunitas itu berdiri.

Tujuan Angga bergabung adalah agar bisa lebih mengenal dunia hobinya sekaligus bertemu dengan orang-orang yang memiliki tujuan serupa. Ketika berada dalam satu komunitas itu, mereka saling berbagi informasi seputar hobi. Banyak yang berbagi soal harga, apa yang sedang tren, eksis atau ngetop. Bergabung dengan komunitas juga menjadi ajang bertemu kawan. Karena lebih sering bertegur sapa di dunia maya, maka ajang bertemu langsung sangat dimanfaatkan oleh Angga. "Sering juga gathering, misal di kota-kota besar, seperti Yogya, Semarang, Surabaya," kata Angga.

Terkait

Angga memilih satu tokoh One Piece yang menjadi kegemarannya: Franky. Inilah karakter fiktif dalam serial manga dan anime One Piece yang merupakan cyborg yang berasal dari kota air Water Seven dan juga pemimpin dari kelompok pembongkar kapal keluarga Franky. "Franky itu robotnya bisa jadi motor atau tank,'' ujarnya menjelaskan.

photo
Suasana di ajang komunitas para kolektor figur aksi. - (Santi Sopia/Republika)

 

Berburu koleksi figur aksi juga menjadi hobi Taufan Bara (22). Bedanya, dia memilih Gundam. Demi hobinya itu, dia bergabung dalam komunitas Gundam Depok Community agar punya wawasan lebih luas.

Komunitasnya sudah berdiri sejak lima tahun lalu. Pertemuan sehari-harinya tentu dilakukan di Depok, tepatnya daerah Margonda. Seiring waktu, anggota komunitas semakin bertambah, maka komunitas pun tidak jarang membuat acara ke kota-kota lain. Interaksi anggota komunitas juga cukup intens di media sosial.

Bagi Taufan, mengoleksi Gundam menawarkan tantangan tersendiri, karena membutuhkan perakitan yang tidak cukup mudah. Apalagi jika ada salah satu bagian yang hilang sehingga membuat koleksinya tampak tidak utuh. "Kalau ada yang hilang itu, aduh rasanya sakit. Kalau Gundam kan banyak rakitan, di situ kesulitannya," katanya.

Saking sulitnya proses perakitan, menurut Taufan, sampai diadakan perlombaan langsung dari pihak produsen. "Kita biasanya memang merakit, tapi kalau malas ya beli yang jadi bayar jasa rakit. Kita pernah ikut kejuaraan merakit 2014 dan 2016," tambah Taufan.

 
Kalau ada yang hilang itu, aduh rasanya sakit. Kalau Gundam kan banyak rakitan, di situ kesulitannya.
Taufan Bara, kolektor
 

 

Berburu Hingga ke Jepang

Ketika masih sekolah, Angga Lendrasidi harus menahan keinginan memiliki koleksi sang idola. Maklum, harga figur aksi favoritnya tak murah.  Akhirnya, setelah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, Angga pun berani membeli beberapa koleksi. ''Saya suka One Piece dari kecil tapi kalau dulu belum mampu beli, nah sekarang sudah kerja. Saya sudah lama ingin mengoleksi," tuturnya.

Agar koleksinya makin lengkap, dia pun berburu hingga ke negeri asal kisah One Piece: Jepang.  Sistem praorder dari Jepang ini sebenarnya susah-susah gampang karena ada kebijakan bea cukai. Ada biaya yang dikenakan per orang agar barang impor bisa masuk ke Indonesia.

Meski begitu, Angga tidak terlalu masalah dengan kebijakan tersebut. Menyukai figur aksi sedari kecil, inilah saat yang tepat mewujudkan mimpi mengoleksi barang idaman. "Jadi saya punya seri yang keren banget, harganya sekitar Rp 2 jutaan, ada juga Rp 3,8 juta. Dilihat dari detail dan figur bisa berubah-berubah, bahan asli metal, persendiannya enggak gampang patah jadi harganya sesuai," ujarnya.

Untuk melengkapi koleksi, Angga lebih suka mencari yang paling susah karena itu akan menjadi kebanggaan tersendiri. Dia memang terobsesi ingin memiliki semua jenis figur Franky. "Ada yang saya order langsung ke Jepang, tingginya lima sentimeter, harganya Rp 700 ribuan. Memang edisi terbatas, jadi saya saja yang punya. Itu jadi kebanggaan sendiri sih," ujarnya.

Langkahnya baru terhenti saat kondisi keuangannya tidak bersahabat. Saat itulah ia memilih menunda membeli. Tidak melulu membeli yang orisinal atau asli, Angga juga sesekali memilih yang KW alias palsu. Ada cerita unik karena salah satu koleksi KW-nya  tidak dimiliki teman komunitasnya yang lain.

Angga menjelaskan memang tidak semua figur aksi diproduksi langsung dari Jepang sehingga disebut asli. Banyak juga yang tidak asli tetapi tetap menarik minat para pemburu koleksi. Untuk mengetahui kabar terbaru, biasanya ja dan rekan komunitas lainnya mengandalkan informasi melalui internet.

photo
Suasana di ajang komunitas para kolektor figur aksi. - (Santi Sopia/Republika)

Karakter Lokal Mulai Diminati

Riza Satyagraha dari komunitas Star Wars Indonesia mengungkapkan terbentuknya komunitas berawal dari kolektor juga. Saat mereka bertemu, terjalin pertemanan dan jaringan. "Bisa berbagi cari barang lebih murah, distributor bisa kasih harga spesial enggak. Ada simbiosis mutualisme juga, saling menguntungkan. Ada juga yang gabung ke beberapa komunitas biar menjalin jaringan," ujar Riza.

Saat ini jumlah penggemar figur aksi, die cast, lego, komik dan radio kontrol merupakan yang paling tinggi. Pengaruhnya sudah pasti dari film, tren box office atau merchandise. Untuk kokeksi mobil, misalnya, banyak juga yang suka mobil replika, karena menawarkan beragam varian. Tidak perlu merogoh kocek ratusan juta, mobil mainan replika pun jadi hak milik.

Ada juga desain mobil yang futuristik. Sebenarnya selain hobi, memburu barang yang disukai juga sekaligus bisa dijadikan sebagai investasi karena jika dijual lagi bisa naik harga dalam jangka waktu tertentu, apalagi untuk edisi terbatas. Selain sebagai ajang memamerkan koleksi, pertemuan komunitas juga tentunya perlu dilihat dari sisi positif, salah satunya membangun jaringan.

Riza berharap jumlah komunitas koleksi mainan terus bertembah dari tahun ke tahun. Hal itu bertujuan untuk mengembangkan jaringan, walaupun latar belakang setiap anggota berbeda-beda mulai dari artis, pengacara, atlet, karyawan dan lainnya. Karena dengan hobi yang sama, setiap orang bisa membaur.  

Riza menjelaskan produksi figur karakter lokal juga mulai meningkat. Pasalnya, permintaan figur karakter lokal kian diminati di Indonesia. Pnggemar karakter mainan lokal tidak sedikit. Kualitas produknya juga tidak kalah bersaing dengan figur Asia lainnya. "Bahkan lewat penjualan daring,  dalam waktu singkat koleksi lokal langsung habis," ujar Riza.

 
Bahkan lewat penjualan daring,  dalam waktu singkat koleksi lokal langsung habis.
Riza Satyagraha dari komunitas Star Wars Indonesia
 

Riza mengatakan, figur karakter lokal, seperti Gundala dan Gatotkaca memang kian diminati para pencinta figur aksi. Itu sebabnya dalam ajang Jakarta Toys & Comics Fair 2020 yang berlangsung Maret lalu, pihaknya membawa langsung Dolanan Keren sebagai pembuat figur karakter lokal. Hobi koleksi figur karakter bagi pria, lanjut Riza, memberikan rasa kepuasan tersendiri. Terlebih, bila mendapatkan dan bisa mengoleksi figur karakter yang sedang jadi target.

Para kolektor figur karakter tidak jauh berbeda dengan para kolektor barang lainnya. Pencinta figur karakter juga rela merogoh kocek yang tidak sedikit semi mendapatkan barang idaman.

"Rasanya sama seperti kalau wanita mengoleksi tas, misalnya. Ada kepuasan, kebanggaan, ada juga show off (pamer). Tapi, yang ingin kita tonjolkan sisi positifnya, bagaimana berkumpul, serta membangun network (jaringan)," jelas Riza.

 

 


×