Bintang daud simbol Yahudi | DOK Pxhere

Kisah

05 Jul 2020, 19:00 WIB

Pelajaran dari Watak Bani Israil

Tak sedikit ayat Alquran yang membicarakan tentang Bani Israil.

OLEH HASANUL RIZQA

Tak sedikit ayat Alquran yang membicarakan tentang Bani Israil. Israil sendiri adalah nama lain dari Nabi Ya'qub AS, yakni putra Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim AS.Dengan demikian, Bani Israil berarti keturunan Nabi Ya'qub AS.

Mereka pada mulanya sempat menghuni Mesir. Kisahnya berawal dari Nabi Yusuf, seorang putra Nabi Ya'qub. Setelah melalui berbagai cobaan, sosok yang terkenal rupawan itu akhirnya menduduki jabatan penting di Mesir. Sesudah itu, ia kembali berjumpa dengan ayahnya tercinta. Begitu pula saudara-saudara yang dahulu menjerumuskannya ke dalam bahaya --tetapi kemudian Yusuf memaafkannya.

Zaman berganti. Bani Israil akhirnya menjadi kaum yang tersingkir di Mesir. Mereka bahkan dipekerjakan bak budak oleh penguasa setempat. Allah SWT mengutus Nabi Musa untuk meneguhkan tauhid dan membebaskan Bani Israil dari penindasan Fir'aun.

Akan tetapi, kaum Nabi Musa itu memiliki suatu watak yang buruk, yakni enggan bersyukur. Padahal, berkali-kali Allah SWT menganugerahkan nikmat dan perlindungan kepada mereka melalui Nabi Musa AS. Bukannya semakin taat, tak sedikit dari mereka yang malahan membangkang terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.

 
Kaum Nabi Musa itu memiliki suatu watak yang buruk, yakni enggan bersyukur.
 
 

Puncaknya, mereka minta kepada Nabi Musa agar dibuatkan patung sapi. Rupanya, mereka tak bisa lepas dari kebiasaan masyarakat Mesir yang gemar menyembah berhala. Ketika Nabi Musa sedang bermunajat di Thur Sina selama 40 hari, kaumnya yang durhaka justru berpesta pora sembari memuja patung anak sapi.

Mereka mengabaikan nasihat Nabi Harun, saudara Nabi Musa yang kepadanya amanat kepemimpinan dititipkan untuk sementara. Alhasil, begitu sang kalimullah itu kembali, ia mendapati kaumnya telah jauh dalam kesesatan. Saking kesalnya, Nabi Musa membanting batu yang dibawanya dari hasil bermunajat kepada Allah di gunung tersebut.

Musyrik merupakan suatu dosa yang amat besar. Bagaimanapun, perbuatan itu justru tak menjadi pengingat bagi mereka. Tampaklah satu watak lagi yang ditunjukkan Bani Israil yakni lupa diri.

Suatu ketika, Allah SWT menyuruh Nabi Musa AS untuk mengajak kaumnya agar bertolak menuju Yerusalem. Daerah itu disebut sebagai tanah yang dijanjikan Rabb semesta alam bagi mereka. Waktu itu, Yerusalem sedang diduduki suatu bangsa yang terkenal kuat dan tangguh.

Jawaban Bani Israil atas seruan Nabi Musa AS diabadikan dalam Alquran, surah al-Maidah ayat 24. Artinya, "Mereka berkata, 'Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja'."

Terhadap kekurangajaran kaumnya itu, Nabi Musa lantas bermohon kepada Allah. "Ya Tuhanku, aku hanya menguasai diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu." (QS al-Maidah: 25).

Allah Ta'ala kemudian menghukum Bani Israil. Mereka dibiarkan tersesat, berputar-putar tanpa arah di Gurun Sinai selama 40 tahun. Mereka tak bisa kembali ke Mesir, tidak pula keluar menuju Yerusalem. Dalam periode itu pula, generasi lama digantikan yang baru. Dengan pimpinan generasi yang lebih muda itulah, mereka akhirnya bisa keluar dari padang pasir tersebut.

 
Mereka dibiarkan tersesat, berputar-putar tanpa arah di Gurun Sinai selama 40 tahun.
 
 

Selain melawan langsung (perintah) nabi, sifat lainnya dari Bani Israil ialah gemar bertanya yang menyulitkan diri mereka sendiri. Contohnya, suatu ketika mereka diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih seekor sapi betina. Bukannya langsung melaksanakan perintah, mereka justru bertanya lebih lanjut tentang ciri-ciri sapi tersebut.

Maka, disampaikanlah bahwa usia sapi tidak boleh terlalu tua atau terlalu muda. Pertanyaan kembali mereka ajukan, kali ini tentang warna sapi. Disampaikanlah bahwa warnanya kuning tua, dan tidak pernah dipakai tenaganya untuk membajak.

Nabi Musa menyuruh mereka untuk segera melaksanakan apa yang telah diperintahkan. Alhasil, karena banyak bertanya mereka merasa kesulitan mencari jenis sapi yang dimaksud. Allah menghendaki kemudahan, tetapi mereka sendiri mempersulit keadaan. Itulah sifat Bani Israil yang diabadikan dalam surah al-Baqarah ayat 67-71.

Masih ada lagi berbagai karakteristik Bani Israil yang patut menjadi pelajaran orang-orang beriman. Alquran menyebut mereka sering mengingkari ayat-ayat-Nya. Para tokoh mereka mengubah ketentuan yang telah digariskan-Nya. Yang halal dikatakan haram. Yang haram dibilang sebagai halal. Ayat-ayat Allah SWT dipermainkan seturut hawa nafsu mereka.

 
Yang halal dikatakan haram. Yang haram dibilang sebagai halal.
 
 

Lebih buruk lagi, mereka pun terbiasa membunuh para nabi Allah yang mulia hanya karena syiarnya tak sesuai dengan kebiasaan hidupnya (QS Ali Imran: 112). Dalam sejarah, nabi yang menjadi korban keganasan kaum ini antara lain adalah Nabi Zakaria dan Nabi Yahya.

Nabi Isa AS pun sempat menjadi target kekejian mereka. Akan tetapi, Allah SWT mengangkat putra Maryam itu ke langit. Yang berhasil mereka bunuh hanyalah orang yang penampakannya diserupakan oleh Allah seperti Nabi Isa. Rasul yang termasuk ulul azmi itu tidak dibunuh dan tidak pula disalib oleh mereka (QS an-Nisa: 157-158).


×