Sunarsip | Daan Yahya | Republika
06 Jul 2020, 02:00 WIB

Prospek Pembiayaan Sektor Energi di Tengah Pandemi

Melemahnya kinerja industri di sektor energi akan berdampak pada minat investasi.

OLEH SUNARSIP

Di tengah pandemik Covid-19 ini, sektor energi di seluruh dunia menghadapi tekanan yang berat. Tekanan tidak hanya berasal dari melemahnya permintaan (demand), yang berarti penjualan turun, juga berasal dari harga (price) yang turun (khususnya di industri hulu minyak dan gas bumi/migas) serta tekanan melemahnya nilai tukar mata domestik terhadap dollar Amerika Serikat/AS (terutama bagi industri kelistrikan).

Di industri migas, sebenarnya era kejayaannya telah meredup sejak 2005. Hal ini terlihat dari mulai menurunnya kemampuan perusahaan di industri migas dalam menghasilkan pengembalian investasi bagi pemegang sahamnya (annual returns to shareholders/ARTS). Studi Mckinsey pada Mei 2020 lalu menyebutkan, pada 1990-2005, perusahaan di industri migas, kecuali refining and marketing, mampu menghasilkan ARTS di atas ARTS perusahaan dalam kelompok S&P 500.

Namun, pada 2005-2019, praktis tidak ada satupun perusahaan migas mampu menghasilkan ARTS di atas kelompok S&P 500. Bahkan, untuk bisnis oil-field service equipment (OFSE) memiliki ARTS negatif.

Terkait

 

 
Laporan studi dari S&P pada 30 Juni 2020 lalu menyebutkan, sektor kelistrikan diperkirakan akan menjadi salah satu sektor yang paling lama recovery-nya.
 
 

 

Krisis akibat pandemik Covid-19 semakin menenggelamkan kinerja industri migas. Sebagai contoh, dalam kondisi dimana harga minyak mentah (crude) saat ini berada pada level yang rendah (sempat di bawah 30 dolar AS per barel), semestinya menjadi kesempatan bagi kilang migas untuk meraih keuntungan tinggi karena biaya bahan baku (yaitu crude) yang rendah. Faktanya, ternyata tidak demikian.

Studi yang dilakukan Wood Mackenzie pada 3 Juli 2020 memperlihatkan, pada Mei-Juni 2020 lalu, rata-rata gross margin kilang (refining) di dunia hanya sebesar 0,20 dolar AS per barel. Diperkirakan pada 2020 ini, gross margin kilang hanya 1,40 dollar AS per barel, lebih rendah dibanding tahun lalu sebesar 3,70 dolar AS per barel dan terendah di abad ini.

Rendahnya keuntungan bisnis kilang ini terutama disebabkan oleh turunnya demand. Demand minyak turun lebih dari 20 juta barel per hari di Maret-April 2020 lalu. Meskipun tahun depan oil demand diperkirakan naik, namun diperkirakan masih lebih rendah 3 juta barel per hari dibanding kondisi sebelum Covid-19. Rendahnya oil demand menyebabkan utilisasi kilang merosot, tinggal sekitar 70 persen dari kapasitasnya. Kini, industri kilang dunia menghadapi “structural overcapacity”.

Kondisi industri kelistrikan tidak kalah berat. Laporan studi dari S&P pada 30 Juni 2020 lalu menyebutkan, sektor kelistrikan diperkirakan akan menjadi salah satu sektor yang paling lama recovery-nya. Studi S&P yang berjudul “Credit Conditions Emerging Markets: Slow Recovery, Prevalent Risks” tersebut membagi 4 kelompok industri berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk pulih.

Kelompok 1 diperkirakan pulih di semester 1-2021 dan kelompok 4 (terakhir) diperkirakan pulih di 2023. Industri pembangkitan (power), atau kelistrikan hulu, masuk kelompok 3 dan diperkirakan pulih di 2022. Sedangkan industri utilities, kelistrikan hilir, masuk kelompok 4 menjadi industri yang paling lama recovery-nya, yaitu baru pulih di 2023.

Melemahnya kinerja industri di sektor energi tentunya akan berdampak pada minat investasi dari para pelaku usaha di sektor energi. Hampir dapat diperkirakan minat investasi mereka menurun. Tidak hanya khawatir terhadap prospek bisnis ke depan, tetapi juga dipengaruhi oleh tekanan sisi likuiditas keuangan. Kebutuhan likuiditas dijaga untuk menjaga aktivitas operasionalnya, sekaligus memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

 

 
Melemahnya kinerja industri di sektor energi tentunya akan berdampak pada minat investasi dari para pelaku usaha di sektor energi. 
 
 

 

Akibatnya, mereka lebih konservatif dalam investasi. Bahkan, beberapa perusahaan di sektor energi melakukan divestasi sejumlah asetnya, baik dalam rangka konsolidasi bisnis maupun menjaga likuiditasnya. BP yang merupakan salah satu anggota Big Oil, misalnya, baru-baru ini menjual bisnis petrokimianya ke INEOS senilai 5 miliar dollar AS.

Sehubungan dengan kondisi ini, pertanyaannya adalah apakah memang prospek investasi dan pembiayaan di sektor energi di Indonesia, tidak memiliki peluang tumbuh dalam beberapa tahun ke depan? Lalu, bagaimana prospek beberapa proyek strategis di sektor energi yang telah direncanakan pemerintah pada beberapa tahun sebelumnya?

Saya berpendapat, kita masih memiliki peluang untuk menjaga momentum investasi di sektor energi. Sebagai contoh, meskipun bisnis kilang kini meredup, namun ini tidak berarti investasi kilang di Indonesia tidak memiliki peluang tumbuh. Bila hanya mengandalkan kemampuan keuangan Pertamina, misalnya, memang sulit kilang skala besar dapat terwujud. Kemampuan keuangan Pertamina terbatas. Satu-satunya cara, Pertamina wajib menggandeng investor luar negeri.

Terdapat satu fakta yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh pembiayaan bagi kilang migas skala besar di Indonesia. Kini, BUMN-BUMN migas (NOCs) sedang mencari mitra di Asia untuk mengembangkan bisnis hilirnya (kilang dan petrokimia). NOCs melihat Asia adalah pasar strategis dan kini diperebutkan oleh NOCs dari Timur Tengah dan Rusia. 

Seiring dengan semakin rendahnya margin di hulu migas akibat rendahnya harga crude, kini NOCs merambah ke bisnis migas lainnya seperti midstream, downstream, bahkan trading. Tujuannya, memaksimalkan margin di industri migas agar kembali ke NOCs sebagai penghasil migas. Indonesia merupakan pasar produk migas yang besar. Ini adalah peluang bagi Pertamina untuk mengembangkan kilang di Indonesia dengan bermitra dengan NOCs luar negeri. Selain memiliki resources energi primer yang besar dan murah, NOCs ini juga memiliki kekuatan finansial yang besar.

 
Pasokan listrik saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional. Kini, tinggal bagaimana agar suplai listrik ini terjual ke seluruh konsumen. 
 
 

Di sektor kelistrikan, kita juga memiliki alternatif sumber pembiayaan lain, di luar sumber keuangan internal PLN. Sebagaimana diberitakan, Menteri BUMN mengharapkan agar PLN lebih fokus menggarap infrastruktur transmisi dan distribusi. Saya kira, harapan Menteri BUMN ini tepat. Dalam beberapa tahun terakhir, PLN telah banyak membangun infrastruktur pembangkitan (baik oleh PLN sendiri maupun melalui kemitraan).

Pasokan listrik saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional. Kini, tinggal bagaimana agar suplai listrik ini terjual ke seluruh konsumen. Salah satu kuncinya adalah penguatan di transmisi dan distribusi (sisi hilirnya).

Selama ini, PLN lebih banyak bermitra dengan investor untuk pembangkitan (sisi hulunya). Kemitraan dengan investor untuk menggarap sisi hilirnya relatif masih kecil. Di tengah kebutuhan untuk mengakselerasi penjualan tenaga listrik, perlu dipikirkan kemungkinan akselerasi infrastruktur hilirnya melalui kemitraan dengan investor. PLN, misalnya, dapat mendorong anak perusahaannya terlibat dalam bisnis transmisi dan distribusi melalui kemitraan dengan investor.

Kemitraan didesain dengan tetap menempatkan PLN melalui anak perusahaannya sebagai pemegang kontrol. Kemudian, kreditor yang diajak merupakan lembaga keuangan yang kredibel dengan persyaratan kredit yang mudah dipenuhi PLN.

Belum lama ini, Menteri ESDM mengharapkan agar industri menyerap listrik dari PLN, tidak membangun tenaga kelistrikan sendiri. Saya memiliki keyakinan bahwa bila jaringan di sisi hilirnya ini mampu mengimbangi supply listrik pembangkit serta diimbangi pemasaran yang efektif dari PLN, harapan Menteri ESDM tersebut akan lebih efektif dapat diwujudkan.

Di tengah pandemik Covid-19 ini, prospek investasi dan pembiayaan di sektor energi di Indonesia memang akan terhambat. Namun, hal itu tidak berarti bahwa kita tidak memiliki peluang meraih pembiayaan untuk mendorong investasi. Peluang tetap terbuka dan peluang itu akan tergantung pada pilihan kebijakan investasi yang kita ambil.


×