Presiden Joko Widodo memberikan sambutan saat meninjau Kawasan Industri Terpadu Batang, di Kedawung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6/2020). | ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra

Ekonomi

01 Jul 2020, 22:49 WIB

Kawasan Batang Jadi Asa Baru

Kawasan Batang bertujuan menjadikan Pulau Jawa sebagai sentra manufaktur.

 

 

JAKARTA -- Kawasan industri Batang, Jawa Tengah, diharapkan menjadi lokasi andalan baru di Tanah Air. Badan Usaha Milik Negara (BUMN), seperti PT PP (Persero) Tbk, PT Perusahaan Perkebunan (Persero), dan PT Kawasan Industri Wijaya kusuma (Persero) berharap dapat merelokasi investasi asing ke Indonesia.

Direktur Utama PT PP Novel Arsyad mengatakan, PP bersama PTPN IX dan KIW sedang mematangkan konsep desain dan bisnis kawasan industri Batang dan kemudahan berinvestasi agar mampu menarik minat investor. Novel menilai, kawasan industri Batang harus memiliki diferensiasi dengan area industri yang ada di Indonesia.

"Kita harus menarik investor asing supaya mereka tidak pindah ke Vietnam dan Kamboja. Kita punya kelebihan dan harus kompetitif. Kita harus berkompetisi membuat diferensiasi," kata Novel seusai peninjauan Presiden Joko Widodo ke kawasan industri di Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6).

Tak sekadar kawasan industri, Novel ingin kawasan industri Batang juga memiliki ruang terbuka hijau yang cukup dan dilengkapi fasilitas menarik agar memberikan kenyamanan bagi para investor. Novel optimistis proses perizinan akan jauh lebih mudah dengan dukungan penuh dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan kementerian terkait.

Direktur Utama Kawasan Industri Wijayakusuma (Persero) Rachmadi Nugroho berharap proses pembangunan kawasan industri Batang dapat segera terealisasi menyusul telah adanya nota kesepahaman antara KIW dengan PTPN IX dan PT PP. Rachmadi menilai, nota kesepahaman merupakan wujud kolaborasi apik antarperusahaan pelat merah dalam membangun sebuah kawasan industri terpadu.

"Kita bisa buktikan ini jadi area yang kompetitif untuk pengembangan industri di Indonesia. Kita akan buat desain yang komprehensif agar punya daya tarik," kata Rachmadi.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III (Persero) atau PTPN III Mohammad Abdul Gani optimistis keberadaan kawasan industri Batang mampu merelokasi investasi asing ke Indonesia. Gani mengatakan, fasilitas yang dibangun di kawasan industri Batang terbilang komplet dengan kemudahan akses. Untuk menarik minat investor asing, dia menilai, perlu adanya fasilitas yang kompetitif dan harga yang lebih murah dibanding Vietnam maupun Kamboja.

Gani menjelaskan, posisi kawasan industri Batang sangat strategis lantaran dilewati jalan tol, kereta api, dekat jalan pantura, dan memiliki kedalaman 15 meter dari sisi laut untuk bisa disinggahi kapal berukuran 30 ribu gross ton (gt). "Nanti ada exit tol. Pelindo juga akan membangun pelabuhan dan Kereta Api bangun dry port (di sekitar kawasan)," ujar Gani.

Gani menyampaikan, Presiden Joko Widodo menargetkan pembangunan kawasan industri terpadu Batang, Jawa Tengah, terealisasi tahun depan. Gani mengatakan, PTPN III melalui anak usahanya, PTPN IX akan membentuk konsorsium dengan PT PP dan KIW mewujudkan perintah Presiden Jokowi.

Proses pembangunan, kata dia, akan berjalan secara bertahap. Dari total area seluas 4.300 hektare milik PTPN IX, tahap pertama akan dibangun seluas 450 hektare terlebih dahulu.

photo
Presiden Joko Widodo (tiga kanan) didampingi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia (tiga kiri), Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir (kiri), Bupati Batang Wihaji (empat kiri) dan jajaran menteri lainnya berbincang saat peninjauan Kawasan Industri Terpadu Batang dan Relokasi Investasi Asing ke Indonesia di Kedawung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6/2020). Dalam kunjungan tersebut, Presiden meninjau kesiapan pengembangan Kawasan Industri Terpadu Batang - (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, pembangunan kawasan industri di Batang merupakan bagian dari upaya pemerintah mendorong penguatan sektor industri Tanah Air. "Kawasan Batang bertujuan menjadikan Pulau Jawa sebagai sentra manufaktur yang memiliki tiga tumpuan, seperti yang kita ketahui ada kawasan Cikarang, Gresik dan Batang," ujar Erick.

Erick menyampaikan, lokasi pengembangan kawasan industri yang berdiri di atas lahan milik PTPN IX merupakan sangat strategis dan tidak mengalami persoalan lahan. Sehingga, kata Erick, tidak akan ada isu terkait hambatan dalam relokasi atau mandeknya perizinan.

Erick mengaku ingin memadukan industri yang ada di Jawa Tengah saat ini antara kawasan industri Batang dengan kawasan industri yang ada di Brebes dan Kendal, serta yang tidak kalah penting kawasan wisata Borobudur yang menjadi satu kesatuan.

Erick menjelaskan, pengembangan kawasan industri Batang yang memiliki luas sekira 4.300 hektare akan berlangsung dalam tiga fase.Pembangunan fase pertama dilakukan pada lahan seluas 450 hektare yang sudah dalam posisi siap.

"Tinggal akses jalan untuk segera dilakukan. Hasil rapat dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) segera menyiapkan fasilitas jalan, air, dan lain-lain, ujar Erick.

Erick juga sudah meminta direksi PLN dan Pertamina untuk menyiapkan akses listrik dan gas untuk kebutuhan industri di Batang. Erick meminta fasilitas kelistrikan dan gas dapat disiapkan dalam kurun waktu enam bulan ke depan.

"Saya mohon dukungan Kemenko Maritim, BKPM, untuk segera menyusun proposal ekosistem pembangunan investasi untuk mitra stategis dan kita akan tindak lanjuti dengan kunjungan ke beberapa negara," kata Erick.


×