Takmir menyalurkan zakat fitrah ke rumah warga di Desa Ilie Ulee Kareng, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (23/5). | IRWANSYAH PUTRA/ANTARA FOTO
08 Jul 2020, 05:37 WIB

Kampanye Zakat Bersama

Covid-19 membuat ruang gerak kampanye zakat kian sempit.

MUHAMMAD INDRA SAPUTRA, Peneliti Junior Pusat Kajian Strategis Baznas

NENDEN IRNA NURSYABANI, Marketing Intern Shopee Indonesia

Puskas Baznas mengeluarkan Indeks Literasi Zakat di Indonesia pada Juni 2020. Angka indeks tersebut memiliki rata-rata nasional 66,78 dari nilai minimal 0 dan maksimal 100. Maka itu, literasi zakat di Indonesia masih kategori moderat atau menengah.

Indonesia dengan negara mayoritas Muslim terbesar, seharusnya memiliki lingkungan yang mendukung literasi zakat yang tinggi, tetapi kenyataannya berlainan. Salah satu penyebabnya adalah edukasi zakat yang belum masif.

Terkini

Zakat hanya dipelajari pada pelajaran agama Islam di sekolah dan terbatas pada pendidikan dasar zakat sehingga pemahaman lanjutan soal zakat tergolong rendah atau hanya 56,68. Dampaknya, terlihat pada realisasi zakat.

 
Di sisi lain, Covid-19 membuat ruang gerak kampanye kian sempit dan OPZ harus beradaptasi dengan protokol kenormalan baru.
 
 

Jumlahnya hanya 3,5 persen atau Rp 8,2 triliun dari potensinya yang bisa mencapai Rp 233 triliun. Maka itu, penting bagi seluruh organisasi pengelola zakat (OPZ) berkolaborasi melakukan kampanye zakat agar meningkatkan literasi dan kesadaran berzakat.

Terdapat sekitar 534 OPZ di hampir seluruh Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan ini. Terlebih lagi, pada masa Covid-19, suasana saling membantu antarmasyarakat semakin meningkat sehingga bisa menjadi momentum peningkatan literasi zakat.

Di sisi lain, Covid-19 membuat ruang gerak kampanye kian sempit dan OPZ harus beradaptasi dengan protokol kenormalan baru.

Berdasarkan Indeks Literasi Zakat Puskas Baznas, saat ini sumber informasi zakat paling dominan melalui ceramah agama secara tatap muka. Lalu, dari kantor ataupun kampus responden yang juga mengharuskan pertemuan tatap muka.

Namun, pandemi membuat pertemuan langsung terbatas sehingga OPZ harus cari cara lain berkampanye. Menurut kajian Puskas Baznas tahun 2020 terkait efektivitas kampanye zakat, media sosial (medsos) punya preferensi tertinggi daripada berbagai media kampanye zakat lain.

Hal ini juga didukung peningkatan pengguna medsos aktif di Indonesia sebesar 8,1 persen dari 2019 dan mencapai 160 juta pengguna pada 2020. Jadi, medsos berpotensi menjadi media paling mudah dan efektif untuk membuat kampanye zakat kolaborasi.

Medsos tak membutuhkan interaksi langsung sehingga potensi penularan Covid-19 sangat rendah. Selain itu, medsos merupakan media dengan cost per thousand impression (biaya yang dibutuhkan untuk mencapai 1.000 target konsumen) paling rendah.

Selama ini, OPZ memang kampanye lewat medsos, tetapi bergerak masing-masing. Perlu inovasi kampanye efektif untuk meningkatkan literasi zakat. Di antaranya, kampanye bersama di medsos dengan viral marketing dan konten pada waktu bersamaan.

Jika diasumsikan setiap OPZ memiliki 40 karyawan dan 50 persennya memiliki medsos dengan pengikut 50 orang, estimasi unggahan kampanye kolaborasi ini akan mencapai 10.680 unggahan, dan dapat menjangkau hingga lebih dari 534 ribu pengguna medsos lainnya.

 
Masyarakat Indonesia lebih tertarik pada user generated content di medsos karena memberikan kebebasan berkreasi bagi partisipan kampanye.
 
 

Lalu, bila diasumsikan sebanyak lima persen atau 26.700 pengguna melihat unggahan kampanye dan menjadi ingin membayar zakat, diestimasikan pengumpulan dana zakat akan meningkat Rp 101,43 miliar per tahun.

Angka ini diperoleh jika besaran zakat yang dibayarkan dihitung berdasarkan PMA Nomor 52 Tahun 2014 dan menggunakan data per bulan Juni serta nisab terendah.

Nisab zakat terendah sesuai data dan peraturan tersebut adalah Rp 6,28 juta untuk zakat pendapatan, dengan harga rata-rata beras dari BPS sebesar Rp 12 ribu dan Rp 76,5 juta untuk zakat mal dengan harga emas sekitar Rp 900 ribu.

Peningkatan pengumpulan dana zakat cukup besar ini bisa direalisasikan dengan biaya promosi hampir Rp 0. Besarnya dampak kampanye pada literasi dan pengumpulan zakat kian meningkat jika menggunakan konten menarik, seperti virtual challenge.

Sebab, virtual challenge merupakan user generated content atau konten yang dibuat sendiri oleh pengguna medsos dengan memberikan caption tambahan atau menambahkan foto sesuai tema virtual challenge yang dibuat.

Masyarakat Indonesia lebih tertarik pada user generated content di medsos karena memberikan kebebasan berkreasi bagi partisipan kampanye sehingga para pengguna medsos dapat melihat konten yang lebih bervariasi.

Ice bucket challenge, contoh keberhasilan virtual challenge yang hampir diikuti jutaan orang di dunia. Kampanye ini sukses meraih dana 115 juta dolar AS dan mencapai tujuannya untuk menemukan penyebab penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis.

OPZ bisa menggunakan konten dengan format seperti ini agar semakin banyak pengguna tertarik, dan mengikuti kampanye kolaboratif yang dilakukan.

Konten kreatif dan menarik seperti ini dapat menjangkau lebih banyak masyarakat bila melibatkan influencer di medsos sehingga mampu meningkatkan engagement relationship dengan konsumen atau muzaki dalam konteks zakat.

Pada akhirnya, setelah kampanye zakat kolaborasi berhasil, seluruh OPZ di Indonesia akan lebih mudah melakukan kampanye individual dan mempromosikan lembaganya karena masyarakat telah memiliki kesadaran dan literasi zakat cukup tinggi. 


×