Hikmah Republika Hari ini | Republika

Hikmah

23 Jun 2020, 06:57 WIB

Keimanan dan Kenyamanan

Kemantapan iman itulah yang menjadi gerbang untuk memasuki dunia kenyamanan abadi.

 

OLEH JOHANSYAH

Di berbagai tempat, kita sering mencari sauasana aman dan nyaman. Ketika ingin bepergian ke tempat jauh dengan transportasi udara, orang menginginkan pesawat yang ditumpangi itu nyaman. Atau ketika ingin berekreasi ke sebuah tempat, orang juga ingin merasakan suasana tenteram. Apalagi, tujuannya untuk melepas kejenuhan.

Namun, sering kali keamanan dan kenyamanan itu hanya hadir sementara. Katakan saat berekreasi, kenyamanan yang dirasakan seseorang itu hanya sekejap, setelah itu hilang.

Demikian juga di saat seseorang menaiki pesawat yang mewah, terkadang tidak merasakan kenyamanan. Bukan karena pesawatnya, melainkan karena orang yang duduk di sampingnya pening dan muntah sehingga suasana nyaman pesawat mewah itu tidak dapat dinikmati.

Sebenarnya, keamanan dan kenyamanan itu bukan berada di luar diri, melainkan berada pada diri kita masing-masing. Rasa nyaman itu sangat bergantung pada suasana batin yang diliputi keimanan. Seseorang yang memiliki keimanan mantap akan merasa nyaman kapan dan di mana pun dia berada. 

Allah SWT berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati akan menjadi tenang." (QS ar-Ra’d: 28). Dari ayat ini kita memahami bahwa sumber kenyamanan itu adalah hati yang selalu ingat kepada Allah SWT.

Keliru besar ketika kita menyatakan bahwa kenyamanan itu pada ciptaan-Nya; menikmati puncak gunung yang indah, menginap di hotel yang fasilitasnya mewah, menatap pantai yang disapa ombak silih berganti. Kita pun mengatakan; ‘saya menemukan kenyamanan’. Kenyamanan dan ketenangan itu bisa jadi berubah menjadi ketakutan. Misalnya, ketika sedang kita sedang menikmati indahnya pantai, tiba-tiba datang gempa bumi sehingga kita merasa takut dan lari dari tempat tersebut karena takut tsunami. 

Kita mungkin masih ingat sosok sufi Nizhan al-Mahdudi yang kaya raya, tapi hidup di rumah yang sangat sederhana. Suatu saat, anaknya pernah bertanya kepada beliau, "Mengapa tidak membangun rumah mewah yang nyaman untuk dihuni?" 

Beliau menjawab dengan bijak; pertama, sebesar apa pun rumah, toh yang kita butuhkan hanya tempat berbaring. Rumah yang mewah sering melalaikan kita dan tidak peduli dengan kehidupan sosial.

Kedua, katanya, rumah kecil ini akan membuatmu lebih cepat mandiri dan dewasa. Ketiga, suatu saat nanti setelah tua, kami akan tinggal berdua sebagaimana kami dulu baru menikah karena kalian juga telah hidup bersama keluarga masing-masing.

Rasa kenyamanan hidup yang berbeda dari kebanyakan orang ini tidak hadir begitu saja dalam jiwanya kecuali karena hatinya sudah diliputi keimanan yang kokoh. Al-Mahdudi percaya sepenuhnya kepada Allah SWT bahwa kenyamanan yang abadi itu justru ketika seseorang menggantungkan hidup sepenuh hati hanya kepada Sang Khalik.

Akhirnya, kalau kita serius mencari ketenangan, carilah ketenangan abadi dengan berusaha merajut iman dalam diri. Kemantapan iman itulah yang menjadi gerbang untuk memasuki dunia kenyamanan abadi. Dalam kondisi apa pun; susah atau senang, ditimpa atau tidak ditimpa musibah, kita senantiasa merasa aman dan nyaman. Wallahu a’lam bishawab!


×