Sejumlah santri sedang membaca Alquran. Taklim pesantren sangat dinanti untuk aktif kembali meski di tengah ancaman Covid-19. | Prayogi/Republika

Khazanah

Antara Rindu Pesantren dan Ancaman Covid-19

Taklim pesantren sangat dinanti untuk aktif kembali meski di tengah ancaman Covid-19.

OLEH M UBAEDILLAH, ANDRIAN SAPUTRA

 

Di tengah pandemi covid-19 yang tak kunjung usai, pesantren berupaya untuk kembali aktif. Kegiatan taklim di dalamnya sangat dirindukan para kaum santri. Namun itu tak mudah, karena aktivitas pesantren berada di tengah ancaman virus korona.

Seorang santri Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahus Sa'adah Kudus Jawa tengah, Hashim Umar Sahid (18 tahun) mengaku sudah rindu suasana pesantren. Dirinya telah pulang sejak tiga bulan lalu saat pandemi Covid-19 mulai merebak. Biasanya paling lama ia pulang sekitar dua minggu dalam setahun. 

"Saya bosan di rumah terus, rindu ngaji, Pak Kiai, kegiatan padat, sekolah, dan teman-teman di pesantren. Semoga aturan (untuk pesantren) segera ada dan korona cepat berlalu, biar saya bisa lekas balik ke pesantren lagi," katanya kepada Republika, Selasa (9/6). 

Hashim melanjutkan dirinya masih dilarang balik ke pesantren. Hal ini dikarenakan tempat tinggalnya berada di zona terdampak Covid-19 yakni Indramayu, Jawa Barat. Di mana saat ini PSBB di Indramayu masih diperpanjang. Sehingga pesantrennya masih melarang santri yang berasal dari daerah terdampak Covid-19 untuk masuk pesantren. "Yang dari Jawa Barat sama Jawa Timur belum boleh datang," katanya. 

Hal tersebut dibenarkan pihak Ponpes Miftahus Sa'adah Kudus, Jawa Tengah. Menurut Pengawas Kebijakan Pencegahan Covid-19 Ponpes Miftahus Sa'adah Kudus, Arwani Habibul Umam hal itu semata-mata untuk mencegah penyebaran Covid-19 agar tidak meluas. Ia berharap santri yang dari daerah terdampak Covid-19 untuk bersabar. 

Arwani melanjutkan pondok sudah buka sejak 1 Juni namun untuk saat ini hanya santri yang berasal dari Kudus, Pati, dan Jepara yang diperbolehkan datang. Untuk luar daerah tersebut masih ditutup. Kedatangan mereka pun bergelombang tidak boleh bersamaan. Wali santri yang mengantar juga dibatasi hanya dua orang dan diperintahkan untuk segera pulang 30 menit kemudian. 

"Jadi yang datang wajib pakai masker, isi form keterangan bebas Covid-19, naik kendaraan pribadi, dan suhu badan tidak boleh lebih dari 37,5 derajat. Bagi santri yang tidak memenuhi syarat dan datang tidak melalui prosedur misal lewat jalan tikus (untuk mengindari pemeriksaan petugas) maka diwajibkan kembali pulang, tidak boleh masuk pondok," ujarnya, Selasa (9/6).

Untuk memfasilitasi santri agar tidak keluar lingkungan pesantren, pihak pesantren membuka toko pusat perlengkapan santri. Selain itu agar KBM daring santri yang sekolah formal tetap berjalan, pesantren menyediakan laptop dan komputer yang bisa dipakai bergantian.

Santri juga diimbau untuk jaga jarak, memakai masker, senantiasa mencuci tangan dan menjaga kebersihan, baik ketika pengajian, kegiatan keseharian, maupun saat beribadah.

Arwani mengaku pesantrennya siap mematuhi aturan dari pemerintah. Namun ia berharap kebijakan pemerintah untuk membuka pesantren benar-benar nyata. Artinya pemerintah harus memerhatikan kondisi pesantren yang beragam. Sehingga nantinya aturan yang dikeluarkan tidak sia-sia dan benar-benar dijalankan pesantren yang ada. "Kalau aturan hanya tertera di kertas akibat tidak sesuai kondisi yang ada kan jadinya percuma," katanya.

Pencegahan penularan Covid-19 di pesantren juga dilakukan Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah. Ponpes yang berada di Jakarta Selatan ini telah meliburkan kegiatan santri sejak 16 Maret lalu. Semua santri dipulangkan dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Penerimaan santri baru gelombang dua juga dilakukan secara daring.

Meski santri pulang, pihak pesantren tetap menggelar kegiatan secara daring. Pengajian, pembelajaran santri, dan ujian dilakukan secara virtual melalui berbagai macam aplikasi. Bahkan orang tua diberi form untuk mengawasi kegiatan anaknya, mulai dari kegiatan berpergian, belajar, hingga kondisi kesehatan.

Ketua Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Ustaz Muhammad Sofwan Yahya mengatakan pihaknya saat ini belum membuka pesantren. Dikarenakan PSBB di Jakarta masih masa transisi pertama. Panduan pencegahan Covid-19 juga masih digodok. Namun jika perkembangan PSBB transisi positif, Ponpes Al-Tsaqafah kemungkinan buka di minggu ketiga Juni ini. 

Persiapan pembukaan pesantren juga tengah dimatangkan. Hal-hal teknis seperti menyediakan cairan sanitasi tangan, bilik disinfektan, dan penyemprotan disinfektan juga telah tersedia. Ruang kamar yang biasa diisi 10 orang juga akan dikurangi hingga 50 persen. Nantinya santri yang datang juga harus sesuai protokol kesehatan mulai keberangkatan hingga tiba di pesantren. 

"Semua sedang dipersiapkan dengan matang. Perkembangan Covid-19 juga kita pantau terus," ujarnya kepada Republika, Selasa (9/6). 

Pemerintah sebagai pembuat kebijakan, lanjut Ustad Sofwan agar tidak sekadar membuat aturan dan imbauan. Ia berharap ada aksi nyata seperti bantuan tes Covid-19 di pesantren maupun pembuatan klinik kesehatan. Sehingga kesehatan santri nantinya bisa dipantau terus oleh pihak pesantren tanpa harus keluar lingkungan pondok.

Sebelumnya pada 29 Mei lalu, RMI-PBNU mengeluarkan rilis terkait kebijakan new normal di pesantren. Dalam rilis tersebut  RMI-PBNU meminta pemerintah tidak memaksakan new normal di pesantren jika tidak siap.

Tiga poin yang harus diwujudkan pemerintah untuk menerepkan new normal di pesantren yakni kebijakan yang konkrit dan memihak kepada pesantren sebagai wujud keseriusan pemerintah, lalu dukungan fasilitas kesehatan, dan terakhir dukungan fasilitas pendidikan.

Kemudian jika tidak ada ketiga hal tersebut, maka RMI-PBNU menyarankan pesantren memperpanjang masa belajar di rumah. RMI-PBNU juga meminta keputusan yang diambil terkait nasib pesantren harus melibatkan kalangan pesantren. 

 

New normal pesantren

Pemerintah melalui Kementerian Agama tengah merampungkan pembahasan draf tentang penerapan new normal di lingkungan pesantren. Plt Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Prof Kamaruddin Amin mengatakan saat ini draf tersebut sedang dalam tahap penyelesaian. 

Namun demikian, ia mengungkapkan santri yang masih berada di rumah diharapkan tidak pulang dulu ke pesantren. Sementara itu pesantren didorong untuk dapat melaksanakan pembelajaran via daring. Sedangkan menurut Kamaruddin santri yang masih bertahan di pesantren diharapkan untuk mengikuti pembelajaran pesantren dengan memperhatikan protokol kesehatan. 

"(Draf) sedang finalisasi, intinya kami berharap agar pesantren yang telah memulangkan santrinya agar tetap tidak pulang ke pondok dan mengupayakan pembelajaran secara online. Yang santrinya masih di pondok dan tidak pulang agar dilaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan protokol kesehatan, membentuk gugus tugas Covid-19 dan berkoordinasi dengan gugus tugas/pemda setempat," kata Kamaruddin kepada Republika pada Selasa (9/6). 

Lebih lanjut Kamaruddin menjelaskan pihaknya juga terus menjalin koordinasi dengan dinas kesehatan setempat untuk memastikan setiap pondok pesantren aman dan terbebas dari covid-19. Sementara itu terkait dengan fasilitas yang diperlukan setiap pesantren untuk mendukung penerapan new normal, menurutnya pemerintah tengah berupaya memberikan bantuan operasional pesantren. 

"Kami sedang mengupayakan untuk memberi afirmasi kepada pesantren dalam bentuk bantuan oprasional pesantren dan bantuan pembelajaran daring. Kami juga komunikasi dengan kemensos dan kemendes untuk membantu para ustaz di pesantren lewat BLT (bantuan langsung tunai) kemensos dan dari kemendes," katanya.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat