Santri membaca Alquran. Normal baru ala pesantren perlu dirumuskan untuk meningatkan kualitas kebersihan di pesantren. | Prayogi/Republika

Khazanah

06 Jun 2020, 06:55 WIB

Tingkatkan Kualitas Kebersihan Pesantren

Normal baru ala pesantren perlu dirumuskan untuk meningkatkan kualitas kebersihan.

 

 

JAKARTA -- Pada masa pandemi virus korona jenis baru (Covid-19) semua orang dituntut menjaga kebersihan diri dan lingkungan agar terhindar dari paparan virus ini. Tak terkecuali pesantren, yang diminta meningkatkan kualitas kebersihan agar para santri terhindar dari paparan Covid-19 dan penyakit lainnya.

Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid al-Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Ghaffar Rozin mengatakan, new normal adalah pola hidup yang bersih dan rapi. Di dalam ajaran Islam juga disampaikan bahwa kebersihan sebagian dari iman.

"Sayangnya kebersihan ini merupakan salah satu yang belum dimiliki pesantren, ini yang mendasari kemarin kita minta supaya merumuskan new normal ala pesantren," ujar Kiai Rozin saat menjadi pembicara webinar bertema "Memaknai New Normal Ala Pesantren" yang diselenggarakan Asosiasi Ma'had Aly Indonesia (Amali), Jumat (5/6).

Ia yakin, pesantren memiliki kemandirian yang luar biasa. Ia juga yakin pesantren mandiri secara ekonomi dan memiliki khazanah keilmuan yang luar biasa. Namun, ia menilai, standar kebersihan dan kesehatan di pesantren agak meragukan.

photo
Surya Hadiwinata (21 tahun) santri asal Jambi berada di asrama pondok induk Pesantren Darul Ulum Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Rabu (3/6/2020). Ponpes di Jawa Timur bakal segera beraktivitas kembali setelah selama ini libur akibat pandemi Covid-19. Normal baru ala pesantren perlu dirumuskan untuk meningkatkan kualitas kebersihan di pesantren - (SYAIFUL ARIF/ANTARA FOTO)

Dua tahun lalu, lanjut Kiai Rozin, RMI NU bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan. Diketahui bahwa Indonesia adalah negara ketiga di dunia yang penduduknya banyak menderita tuberkulosis (TB) setelah Cina dan India. Ada tiga kelompok penyumbang terbesar TB di Indonesia, salah satunya pesantren.

"Yang kena TBC di pesantren, kalau tidak sekamar, ya satu kelas," ujar dia.

Walau TB dan Covid-19 tidak sama, menurut dia, hal itu merupakan tanda bahwa perhatian terhadap kebersihan di pesantren itu harus menjadi perhatian utama.

RMI, kata dia, tegas mengambil sikap bahwa jika belum siap menerapkan protokol kesehatan yang baik ditahan dulu. Namun, jika siap menerapkan protokol kesehatan yang baik maka silakan jalankan dengan baik dan disiplin agar Covid-19 bisa dicegah masuk ke pesantren.

photo
Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw (kiri) beradu tangan dengan santri saat mengunjungi Pondok Pesantren Hidayatullah Holtekamp, Distrik Muara Tami, Jayapura, Papua, Jumat (15/5/2020). Polda Papua menyerahkan bantuan sembako dan baju kepada warga terdampak Covid-19 di Kota Jayapura - (Gusti Tanati/ANTARA FOTO)

Dalam forum yang sama, pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, mengatakan, nilai new normal bagi dunia pesantren adalah kembali hidup sehat ala Nabi dan tidak lagi menggunakan alat kebersihan secara sembarangan di pesantren.

"Supaya pesantren bisa melanjutkan fungsi dan perannya. Bisa saling bertatap muka dan santri bisa meneladan gurunya dengan melihat langsung perilaku keseharian gurunya. Tapi, dengan tetap dikawal oleh protokol kesehatan," katanya.

Hingga hari ini, kata dia, pesantren-pesantren terus bermusyawarah dan diskusi mengikuti perkembangan pandemi Covid-19. Pesantren sedang merumuskan protokol kesehatan agar aktivitas di pesantren dapat kembali berjalan.


×