Kepala Kepolisian Los Angeles Cory Palka (C) berlutut bersama pengunjuk rasa, Selasa (2/6) waktu setempat. | EPA-EFE/ETIENNE LAURENT

Kisah Mancanegara

04 Jun 2020, 01:55 WIB

Protes AS Meluas Namun Lebih Damai

Lebih dari 20 ribu personel Garda Nasional AS dikerahkan di 29 negara bagian.

 

NEW YORK -- Unjuk rasa memprotes kematian George Flyod (46 tahun) masih berlanjut di Amerika Serikat hingga Rabu (3/6) pagi. Pada Selasa malam, massa bahkan melanggar aturan jam malam di sejumlah kota mulai pukul 20.00 waktu AS. 

Sejumlah laporan menyebutkan, ada penjarahan di New York City (NYC) pada Selasa malam. Pada Rabu pagi, tercatat secara nasional sudah ada sekitar 9.000 orang ditahan sejak aksi meletup. 

NYC termasuk kota yang memberlakukan jam malam dan ini akan berlangsung hingga Ahad (7/6). Kebijakan ini diambil Wali Kota NYC Bill de Blasio untuk mencegah meluasnya pengrusakan dan penghancuran di jalanan dalam dua malam sebelumnya.  

Namun, de Blasio menolak desakan Presiden AS Donald Trump agar NYC mengerahkan Garda Nasional untuk memulihkan ketertiban. Pengerahan ini juga sempat ditawarkan Gubernur New York Andre Cuomo. 

"Saudara-Saudara, ini saat kita pulang agar kita bisa menjaga semua orang tetap selamat," kata de Blasio di radio WINS-AM, beberapa saat setelah jam malam mulai berlaku.

Ribuan orang ternyata tetap mengalir di jalanan NYC. Namun, kali ini jalanan relatif lebih tenang setelah kisruh yang berlangsung dalam delapan hari terakhir sebelumnya.  

Sementara Trump mengulangi sikapnya sejak Senin (1/6) lalu, saat ia mengancam akan mengirim pasukan militer. Hal itu akan ia lakukan untuk memulihkan ketertiban jika para gubernur negara bagian tak sanggup melakukannya. 

"NYC, panggil Garda Nasional," cicit Trump di Twitter. "Orang rendahan dan pecundang merobek-robek kalian. Bertindaklah cepat!". Sejauh ini lebih dari 20 ribu personel Garda Nasional AS dikerahkan di kota-kota di 29 negara bagian, kecuali di NYC. 

Protes terlihat di seantero AS termasuk Los Angeles, Miami, St. Paul, Minnesota, Columbia, South Carolina, dan Houston. Di Houston, kepala kepolisian berdialog dengan pengunjuk rasa dan menjanjikan reformasi.  "Tuhan menjadi sanksi, perubahan akan datang," kata Art Acevedo. "Kita akan melakukannya dengan cara yang benar."

photo
Presiden AS Donald Trump berpose memegang Alkitab di Washindton DC, Selasa (2/6). Aksi itu dikritik karena untuk berfoto para pengunjuk rasa di lokasi itu dibubarkan dengan brutal oleh aparat gabungan. - (EPA-EFE/SHAWN THEW)

Di Washington, DC, ribuan pengunjuk rasa berkumpul satu blok dari Gedung Putih. Sehari sebelumnya, petugas turun ke lapangan dan mengerahkan pasukan berkuda untuk mendesak massa dari Lafayette Park. 

Kondisi yang kondusif ini sempat digunakan Trump untuk berfoto di dekat Gereja Santo Yohanes yang terletak dekat Gedung Putih. Meski, aksi ini ternyata disayangkan oleh kaum rohaniwan. 

Rentetan aksi kali ini adalah protes atas kematian warga kulit hitam Amerika, Flyod, pada 25 Mei lalu di Minneapolis, AS. Ia meninggal setelah dibekuk polisi dengan cara menindih lehernya dengan lutut. Flyod sempat mengatakan ia tidak bisa bernapas. Namun, lutut polisi tetap mengunci leher Flyod hingga akhirnya meninggal dunia.  

Seruan Paus Fransiskus

Laman the Independent melaporkan, Paus Fransiskus akhirnya ikut bersuara menentang rasialisme, Rabu. Ia menyerukan warga AS agar bersatu di tengah kekisruhan yang disebutnya bersifat "merusak diri sendiri."

photo
Pekerja mulai membenahi kerusakan selepas aksi unjuk rasa yang berujung penjarahan di Madison Avenue, New York, Selasa (2/6). - (EPA-EFE/Peter Foley)

"Temanku sekalian, kita tidak boleh menoleransi atau menutup mata terhadap rasialisme dan pengecualian dalam bentuk apa pun, sementara kita mengaku membela kesucian setiap nyawa manusia," kata Paus yang kemudian menyerukan perdamaian. "Tidak akan ada hasil yang bisa diperoleh melalui kekerasan dan malah yang ada adalah kerugian begitu besar." 

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI memastikan warga negara Indonesia (WNI) di Amerika Serikat (AS) dalam keadaan aman dan baik. Kabar ini terkait kerusuhan yang berkobar akibat dampak dari demonstrasi menuntut kematian pria kulit hitam Amerika George Floyd.  

"Berdasarkan informasi terakhir dari perwakilan RI di AS bahwa tidak ada WNI yang terdampak dari proses demo yang ada di lebih dari 140 kota di AS," ujar Direktur Perlindungan WNI-Badan Hukum RI (PWNI-BHI) Kemenlu RI, Judha Nugraha, dalam konferensi pers, Rabu (3/6).

Data terakhir dari enam perwakilan RI di seluruh AS, yakni KBRI Washington DC, KJRI San Francisco, KJRI Los Angeles, KJRI Chicago, KJRI New York, KJRI Houston, total WNI yang menetap di seluruh AS ada 142.141 yang tercatat dan lapor diri di perwakilan RI di AS. Seluruh perwakilan RI di AS telah memperluas komunikasi dengan berbagai macam komunitas yang berada di AS, termasuk melalui virtual untuk memantau kondisi WNI. "Alhamdulillah hingga saat ini kondisi WNI baik dan aman termasuk akses kepada jaringan kesehatan yang ada di AS," ujar Judha. 

Judha sempat ditanya soal beredarnya foto pendemo AS yang merusak properti dengan lengan tergambar peta Indonesia. Judha mengatakan, sang pendemo adalah warga negara AS.

Sumber : Reuters/Associated Press


×