Pasukan TPNPB-OPM menunjukkan peluru, telepon genggam, dan pakaian tempur yang mereka klaim direbut dari posko TNI-Polri di Kabupaten Nduga, pertengahan Mei 2020. | Istimewa/TPNPB-OPM

Nusantara

29 May 2020, 02:00 WIB

Aparat-OPM Saling Bantah Soal Amunisi

TPNPB mengaku menyerang pos darurat aparat TNI-Polri di wilayah Alguru.

 

JAKARTA -- Pihak kepolisian membantah kabar kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) melakukan penyerangan dan perampasan amunisi terhadap empat pos darurat TNI-Polri di Nduga, Papua. Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Mustafa Kamal mengeklaim, KKSB pimpinan Egianus Kogoya memang kerap menyebarkan berita untuk menimbulkan kepanikan warga di Papua, khususnya di wilayah Nduga.

"Tidak benar atau hoaks. KKSB pimpinan Egianus Kogoya terus melakukan provokatif dan menyebarkan berita atau informasi yang menimbulkan kepanikan warga di Papua, khususnya di Kabupaten Nduga," ujar Mustafa Kamal menegaskan saat dikonfirmasi, Kamis (28/5).

Mustafa mengaku, pihaknya tidak pernah menerima laporan dari Polres jajaran terkait kejadian tersebut. Menurut dia, aksi KKSB yang ia ketahui terakhir, yakni penganiayaan dan perampasan senjata api milik anggota Polri yang berada di Pos Pol 99 Polres Paniai pada Jumat (15/5) lalu.

Selain itu, KKSB juga melakukan aksinya di beberapa daerah, salah satunya penembakan terhadap warga nonkaryawan di Mile 61 Area Freeport, Kabupaten Mimika, pada Kamis (21/5) lalu. KKSB juga dituding melakukan penembakan terhadap dua petugas medis di Intan Jaya pada Jumat (22/5) pekan kemarin. Dari peristiwa penembakan petugas medis itu, satu petugas medis gugus.

"Satu petugas medis gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan di Distrik Wandai Kabupaten Intan Jaya. Untuk satu tenaga medis yang selamat, saat ini masih menjalani perawatan intensif di RSUD Nabire," kata dia.

photo
Pasukan TPNPB-OPM menunjukkan peluru-peluru, telepon genggam, dan pakaian tempur yang mereka klaim direbut dari sejumlah posko TNI-Polri di Kabupaten Nduga, pertengahan Mei 2020. - (Istimewa/TPNPB-OPM)

Menurut Mustafa, aparat keamanan berupaya terus mengejar para pelaku penyerangan tersebut. Dia mengatakan, bukan halangan bagi TNI-Polri untuk melakukan penegakan hukum kepada kelompok tersebut meski pergerakan mereka terhambat medan yang sulit.

Sebelumnya, pihak Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengaku telah melakukan penyerangan di empat pos darurat TNI-Polri yang ada di wilayah Alguru, Kabupaten Nduga, Papua. Dari penyerangan tersebut, mereka mengeklaim berhasil merebut sejumlah barang dan amunisi milik TNI-Polri.

"Karena Bapak-Bapak mengirimkan pasukan yang dalam jumlah besar ke Papua, khususnya wilayah Nduga, Intan Jaya, Tembagapura, dan Pegunungan Bintang, namun kami sudah mengalahkan pasukan Bapak Presiden," klaim Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, melalui keterangannya, Kamis (28/5).

Sebby menjelaskan, serangan terhadap pos darurat TNI-Polri tersebut dilakukan pada 23 Mei lalu. Serangan tersebut dipimpin Egianus Kogoya dan Pemne Kogoya. Dari penyerangan tersebut, TPNPB-OPM merebut sejumlah barang dan amunisi milik TNI-Polri. Antara lain, uang tunai sebanyak Rp 30 juta, 2.310 butir peluru, 15 buah rompi antipeluru, hingga 16 amunisi bazoka.

"Dalam penyerangan empat pos darurat TNI-Polri ini, empat anggota pasukan keamanan Indonesia TNI-Polri dikabarkan hilang kontak dan masih di hutan Alguru," kata dia. Menurut Sebby, pihaknya yang berada di wilayah Nduga menyatakan siap menyambut TNI-Polri jika suatu saat masuk ke Nduga.

Pasukan TPNPB-OPM, kata dia, akan tetap bertahan di Jembatan Kali Keneyam dan Abeakdan Min Kampung Bangggimbeak. "Hari ini kami tidak susah peluru. Silakan datang ke markas kami. Kami akan menjemput sesuai gaya kami," ujar dia menegaskan.

TPNPB-OPM juga menolak tudingan terlibat dalam penembakan perawat. Juru Bicara TPNPB Sebby Sambom menuturkan, kedua perawat yang ditembak sedang naik sepeda motor untuk mengantarkan obat-obatan ke Wandai namun kemudian dicegat di salah satu palang jalan yang didirikan TNI-Polri di Homeyo. "Keduanya korban militer Indonesia," kata Sebby. Ia mengatakan, pihak TPNPB tengah mengumpulkan laporan dan bukti-bukti dari warga saksi mata penembakan tersebut.

photo
Pasukan TPNPB-OPM berpose di pedalaman Kabupaten Nduga, pertengahan Mei 2020. - (Istimewa/TPNPB-OPM)

Penangung Jawab Politik TPNPB-OPM Bomanak Jeffrey sebelumnya menjanjikan, ada sejumlah prosedur yang akan dilakukan pihaknya terkait merebaknya Covid-19 di Papua.  Ia menjanjikan, TPNPB tak akan menyerang fasilitas kesehatan serta menjamin kebebasan pergerakan peralatan dan tenaga medis. “TPNPB-OPM juga akan membantu menegakkan karantina wilayah serta upaya pencegahan lain dari pemerintah daerah Papua,” tulisnya dalam lansiran resmi pada Rabu (8/4).

Menurutnya, Covid-19 saat ini jadi ancaman mengerikan bagi warga Papua karena terbatasnya fasilitas kesehatan di wilayah itu. “Bencana kemanusiaan ini mengkhawatirkan mengingat pengabaian kualitas layanan kesehatan oleh pemerintah Indonesia di Papua selama bertahun-tahun,” kata dia.


×