Jajaran mobil bekas pakai saat Bazaar Mobil Seken di JX International Surabaya, beberapa waktu lalu. Pedagang mobil seken terpaksa menjual di bawah harga pasar. | ANTARA FOTO

Otomotif

28 May 2020, 16:29 WIB

Pasar Mobil Seken Terjun Bebas

Pedagang mobil seken pun terpaksa menjual di bawah harga pasar.

 

 

Pada masa pandemi Covid-19, banyak anggota masyarakat yang terpaksa menunda rencananya untuk membeli kendaraan. Menjelang lebaran yang biasanya digunakan sebagai momentum mengganti mobil untuk sarana mudik pun harus batal lantaran serangan virus yang mematikan itu.

Kondisi ini telah membuat pasar mobil nasional anjlok dalam beberapa bulan terakhir, termasuk penjualan mobil bekas. Senior Manager Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua Jakarta, Herjanto Kosasih, mengatakan, selama ini tren penjualan mobil seken selalu sejalan dengan perkembangan pasar mobil baru.

"Jadi, saat penjualan mobil baru meningkat, penjualan mobil bekas pun demikian. Saat penjualan mobil baru anjlok karena korona, seperti sekarang, maka hal itu juga terjadi di pasar mobil bekas. Masyarakat yang akan membeli mobil untuk mudik lebaran pun batal melakukan transaksi," kata Herjanto kepada Republika, pekan lalu.

Ia mengungkap, saat ini Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua Jakarta sedang tidak beroperasi. Penutupan itu dilakukan sejak peraturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan. Otomatis, hal itu memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap para pedagang mobil bekas dalam bursa tersebut.

photo
Pengunjung melihat mobil bekas di Pusat Penjualan Mobil Bekas, Blok M, Jakarta, beberapa waktu lalu. Pedagang mobil seken terpaksa menjual di bawah harga pasar - (Republika/ Wihdan)

Untuk dapat menyambung hidup, para pedagang mobil bekas lebih fokus melakukan skema penjualan lewat online dan media sosial. Akan tetapi, kata dia, upaya itu sepertinya tetap tak banyak menolong, mengingat jumlah permintaan memang sangat minim.

"Saat ini saya belum memiliki data pasti berapa angka penjualan yang dilakukan secara online. Tapi mayoritas teman-teman pedagang mobil bekas mengaku panjualannya tak sebanyak saat dalam kondisi normal. Tak jarang, pedagang pun terpaksa harus menjual di bawah harga pasar," ujarnya.

Sebenarnya, lanjut Herjanto, sebelum penerapan PSBB, penjualan mobil seken sempat mengalami peningkatan. Hal itu terjadi pada awal Maret 2020 selama sekitar dua pekan. Ia mengungkap, peningkatan itu terjadi juga berkaitan dengan adanya Covid-19.

Pada awal Maret, sejumlah anggota masyarakat yang tadinya bepergian menggunakan transportasi umum maupun taksi kemudian memutuskan untuk membeli mobil. Mereka memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk menekan potensi penyebaran virus.

 
Penjualan mobil seken sempat mengalami peningkatan sebelum penerapan PSBB.
HERJANTO, Senior Manager Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua Jakarta
 

Mobil pun sempat dinilai jadi sarana paling aman untuk tetap dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Selain itu, masyarakat juga sempat bersiap untuk pengadaan mobil sebagai sarana pulang kampung saat libur lebaran. Hal ini terlihat dari banyaknya konsumen yang memilih kendaraan tujuh kursi dari berbagai segmen mulai dari multi purpose vehicle (MPV) hingga sport utility vehicle (SUV).

Namun, setelah PSBB diterapkan, otomatis aktivitas masyarakat mulai berkurang dan membuat kebutuhan akan sarana transportasi jadi menurun yang kemudian berdampak pada penjualan mobil bekas yang kian anjlok.

Kondisi ini diperparah dengan leasing yang untuk sementara ini meningkatkan uang muka dalam setiap pembelian mobil secara kredit. Ia menyadari, kebijakan itu dilakukan untuk menghindari adanya kredit macet.

photo
Pedagang memoles mobil dagangannya di bursa mobil bekas WTC Mangga Dua, Jakarta, beberapa waktu lalu. Pedagang mobil seken terpaksa menjual di bawah harga pasar - (ANTARA FOTO)

"Saya berharap ada kebijakan yang lebih fleksibel. Jika memang ada konsumen yang berpotensi dapat melakukan pembayaran angsuran dengan lancar, maka juga dimudahkan dengan uang muka ringan sekitar 10 hingga 15 persen. Skema ini sepertinya sangat diperlukan demi dapat menjembatani kebutuhan masyarakat akan transportasi yang aman dan sekaligus mampu berperan dalam menjaga pasar mobil bekas," ucap dia.

Jika tidak ada skema itu, ia memperkirakan pasar masih akan lesu hingga beberapa bulan ke depan. Bahkan, saat ini, tak jarang pedagang terpaksa menjual dengan harga murah untuk mendapatkan dana segar.

Menurut Herjanto, saat ini sejumlah kecil transaksi yang terjadi adalah untuk kendaraan dengan harga di bawah Rp 100 juta. Konsumen membeli mobil low budget karena benar-benar mereka membutuhkan transportasi darurat yang relatif aman selama pandemi.

"Paling laris saat ini Toyota Calya dan Daihatsu Sigra karena produk ini harganya relatif murah dan fungsional, sehingga sangat tepat untuk digunakan sebagai sarana transportasi," ujarnya. Selain itu, Toyota Kijang kapsul diesel dan Fortuner diesel generasi awal juga diminati lantaran harganya juga cukup reasonable.

Lemahnya penjulan mobil seken juga dirasakan oleh diler mobil bekas resmi, Suzuki Auto Value. Business Development Head PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Hendro Kaligis mengatakan, penjualan mobil bekas sempat meningkat pada Maret, namun terjung langsung ketika PSBB mulai diterapkan.

"Februari penjualan masih rendah karena adanya beberapa bencana, seperti banjir. Kemudian, penjualan mulai naik pada Maret karena banyak membutuhkan mobil pribadi agar tidak tergantung pada transportasi umum selama pandemi," kata Hendro.

Tapi kemudian, penurunan penjualan mulai terjadi secara signifikan pada awal April, bahkan angkanya sampai 80 persen. Kondisi ini otomatis berpengaruh terhadap harga pasar mobil bekas.

photo
Seorang warga melintas di samping deretan mobil yang dijual di Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu. Penjualan mobil seken pada momentum lebaran tahun ini turun drastis - (ANTARA FOTO)

Posisi sulit dan dilematis

Pengamat otomotif, Bebin Juana menilai, pelemahan pasar pasti terjadi dalam masa krisis seperti ini. Sejumlah strategi yang akan ditempuh pun menjadi dilematis mengingat kondisinya sangat berbeda dibanding situasi sebelumnya.

"Semua pihak memang tengah menghadapi persoalan yang menantang. Baik itu pabrikan maupun diler mobil baru dan mobil bekas. Tak hanya itu, perusahaan pembiayaan atau leasing pun menghadapi kondisi yang dilematis. Saat ini seluruh pihak lebih cenderung berusaha untuk tetap bertahan," kata Bebin.

Meskipun, ia menyadari bahwa dalam kondisi seperti ini leasing memegang peranan yang cukup signifikan. Mengingat, sebagian besar penjualan mobil penumpang maupun komersial menggunakan skema kredit.

Tapi, leasing juga dituntut untuk dapat berhati-hati dalam memberikan pinjaman atau kredit. Jika lengah, maka angka kredit macet berpotensi melonjak dan kelak akan memberikan dampak yang lebih buruk dan lebih luas bagi perusahaan. Karena itu, tak heran kini leasing pun meningkatkan kewajiban uang muka, meski ini dianggap memberatkan para pedagang mobil bekas.

"Dalam kondisi saat ini memang risikonya sangat besar. Kompetisi pun kian ketat karena masyarakat akan mencari leasing yang memberikan fasilitas yang paling mudah. Ini posisi yang sulit dan dilematis," ujar Bebin.

Namun, ia menilai, leasing yang lebih selektif merupakan hal yang wajar. Karena kebijakan ini juga berkaitan erat dengan kelangsungan bisnis pembiayaan perusahaan untuk jangka panjang. Artinya, jika memang sangat diperlukan, maka solusi yang paling tepat saat ini adalah masyarakat dapat membeli mobil dengan harga yang paling sesuai dengan kondisi keuangan saat ini setelah mempertim bangkan pengeluaran pokok lainnya.


×