Masjid Utama Ottawa, lokasi dilaksanakannya shalat Id drive-in. | CTV-News

Kisah Mancanegara

24 May 2020, 13:40 WIB

Drive-in di Ottawa, Lengang di Jeddah

Komunitas Muslim di berbagai belahan dunia merayakan Lebaran di tengah pandemi.

Oleh ZAHROTUL OKTAVIANI, ADYSHA CITRA RAMADHANI 

Seperti di Tanah Air, umat Islam di luar negeri juga mengubah cara mereka merayakan Idul Fitri di tengah pandemi. Di Ottawa, Kanada, misalnya, shalat Idul Fitri dilakukan dengan sistem drive-in. 

Menjelang shalat, pada Sabtu (23/5) waktu setempat, ratusan mobil memenuhi tempat parkir di belakang masjid di Northwestern Avenue. Seluruh mobil menyalakan radio dan diarahkan ke sebuah stasiun khusus di mana Imam Muhammad Sulaiman memimpin sholat Ied.

Dilansir di Ottawa Citizen, beberapa mobil yang hadir dihiasi dengan balon atau pita. Ini menjadi salah satu cara untuk mempertahankan keceriaan akhir Ramadhan. Terkadang, beberapa kepala akan keluar dari sunroof, sehingga bisa melambai kepada teman lainnya yang ada di lokasi.

Kegiatan ini diatur dengan mematuhi perintah Pemerintah Ontario baru-baru ini, yang memungkinkan layanan keagamaan drive-in sambil menjaga jarak fisik. Adapun keputusan diadakannya kegiatan ini menunggu hingga menit terakhir, karena Dewan Imam Ottawa-Gatineau harus mengonfirmasi penampakan bulan baru, untuk memulai perayaan Idul Fitri.

Presiden Asosiasi Muslim Ottawa, Ahmed Ibrahim mengatakan, perjuangan mempersiapkan ibadah drive-in ini merupakan puncak Ramadhan paling aneh yang pernah ada. "Masjid biasanya dalam kapasitas penuh sepanjang waktu, sepanjang bulan. Ibadah shalat dan Iftar menyatukan komunitas yang terasa lebih seperti keluarga," kata Ibrahim dikutip di Ottawa Citizen, Ahad (24/5).

Di tengah pandemi Covid-19 ini, Muslim Ottawa menghabiskan bulan Ramadhan di rumah, berlatih menjaga jarak fisik seperti umat Muslim lainnya. Mereka beribadah dengan keluarga alih-alih di masjid.

photo
Warga berbelanja bahan-bahan makanan untuk persiapan perayaan Idul Fitri di Denhaag, Belanda. - (FREEK VAN DEN BERGH/EPA-EFE)

Ibrahim menyebut, ada banyak hal yang harus dilewatkan, tetapi ada juga nilai positif dari kondisi saat ini. Orang tua didorong untuk mendekat dan mengakrabkan diri dengan anak-anak mereka. Membaca Alquran dan mempraktikkan ritual Ramadhan bersama.

"Orang-orang menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga dan anak-anak mereka. Ada banyak koneksi. Mudah-mudahan, itu akan menyuburkan hubungan keluarga," kata dia.

Ia juga menyebut, saat ini perayaan Idul Fitri telah beralih. Dari saling tatap muka, dari hati ke hati, manusia ke manusia, kini beralih dari mesin atau TV ke manusia.

Salah seorang peserta shalat Idul Fitri, Khadra Gulaid mengatakan, putrinya yang masih muda dapat menyelesaikan puasa Ramadhannya untuk pertama kalinya. Kegiatan puasa dipermudah dengan berada di rumah bersama keluarga.

Hal ini menjadi efek positif dari kebijakan penutupan sekolah yang sedang berlangsung dan mengganggu rutinitas setiap siswa Ontario. "Tahun ini menjadi pengalaman yang indah," kata Gulaid.

Peserta shalat Idul Fitri drive-in lainnya, Tarik Saleh mengatakan, selama pandemi ini, imannya telah menjadi hal yang berharga. Beribadah selama Ramadhan menjadi salah satu hal yang membantu meningkatkan keimanannya.

photo
Perempuan Irak menyiapkan kue-kue lebaran di Baghdad. - (Nabil al-Jurani/AP)

"Selama musibah, Anda perlu beralih ke sesuatu untuk mendapatkan kekuatan untuk tetap menjalani kehidupan sehari-hari. Beralihlah ke keluarga Anda, beralihlah ke keyakinan Anda," kata Saleh.

Seperti setiap komunitas agama lainnya, umat Muslim harus menyesuaikan situasi dan kondisi untuk menjalankan ibadah di tengah Covid-19. Sebagian besar akan menghabiskan sisa hari merayakan Idul Fitri melalui telepon, FaceTime, WhatsApp, dan platform virtual lainnya.

Meski demikian, ia menyebut tetap berharap pemerintah Ontario akan mengizinkan pertemuan keagamaan dengan jumlah terbatas. Kebijakan ini nantinya memungkinkan umat Muslim kembali memasuki masjid sambil menjaga jarak secara fisik.  

Pemerintah Arab Saudi pada masa pandemi juga menerapkan lockdown atau jam malam 24 jam penuh selama lima hari pada libur Lebaran 23-27 Mei 2020. Aturan ini diterapkan untuk mencegah terjadinya keramaian di tengah pandemi Covid-19.

Malam sebelum Lebaran, berbagai pusat perbelanjaan di Arab Saudi biasanya dipenuhi dengan para pengunjung yang ingin berbelanja baju hingga sepatu baru. Toko-toko cokelat sampai salon juga biasanya dipadati oleh pelanggan.

photo
Petugas berjaga-jaga pada masa pandemi di Jeddah, Arab Saudi. - (EPA)

Namun tahun ini, situasi perayaan Lebaran di Arab Saudi sangat berbeda. Jalanan terlihat lengang dan berbagai toko yang biasanya dipadati pengunjung tampak tutup. Shalat Idul Fitri berjamaah juga tidak diselenggarakan di Arab Saudi tahun ini. Imam besar Saudi memperbolehkan para Muslim untuk menjalankan ibadah shalat Idul Fitri di rumah masing-masing.

Perbedaan suasana ini juga dirasakan oleh salah satu warga, Jana Bashraheel. Bashraheel mengatakan 1 Syawal biasanya diawali dengan menggunakan baju yang bersih, menyantap camilan lalu pergi ke masjid terdekat bersama keluarga untuk menjalankan shalat Idul Fitri dan bersilaturahmi dengan teman-teman dan keluarga besar.

"Saya akan merindukan makan pagi bersama teman dan keluarga di hari pertama Lebaran," ungkap Bashraheel seperti dilansir Arab News.

Meski tak bisa berkumpul, warga Arab Saudi tetap berupaya membuat Lebaran tahun ini berkesan. Banyak keluarga yang melakukan kegiatan-kegiatan unik dan tak biasa di rumah selama Lebaran, seperti memasang dekorasi Lebaran di rumah, melakukan beragam permainan dan bahkan membuat pinata untuk dimainkan bersama keluarga.

Bagi sebagian warga, keterbatasan ini justru memberikan pengalaman Lebaran yang baru. Adanya keterbatasan selama lockdown juga membuat banyak warga menjadi lebih menghargai dan memaknai perayaan Lebaran.

"Dengan situasi krisis yang muram saat ini, kami tak ingin membuatnya menjadi lebih muram," tambah warga dari Jeddah Amal Al Thobaiti.

photo
Petugas memperlihatkan isi kemasan sembako saat penyerahan bantuan sembako kepada Kementerian Agama di Atase Keduataan Besar Arab Saudi, Jakarta, Jumat (1/5). Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia menyalurkan bantuan sembako dan kurma melalui Kementerian Agama sebanyak 4 - (Republika/Thoudy Badai)

Untuk mengisi libur Lebaran di tengah Lockdown, Al Thobaiti membuat dekorasi Lebaran bersama-sama dengan keluarga. Dia juga membuat menu makanan khas Lebaran bersama-sama keluarga di rumah. Selain itu, Al Thobaiti juga membelikan hadiah Lebaran untuk keluarga dan diri sendiri secara daring. 

Dia juga mempersiapkan beragam permainan hingga film sebagai hiburan selama Lebaran. "Ini terasa seperti Lebaran pertama," terang Al Thobaiti.

Al Thobaiti mengungkapkan lebih baik menahan diri saat ini. Karena menurut Al Thobaiti keluarga meruapakn hal yang terpenting dibandingkan kesenangan untuk berkumpul dalam keramaian di tengah pandemi Covid-19. "Hal terpenting bagi saya adalah keluarga saya. Selama saya bersama dengan mereka, semua akan baik-baik saja," tutur Al Thobaiti. 


×