Ilustrasi Nano Technology | Freepik
27 May 2020, 12:01 WIB

Teknologi Eksentrik Beragam Manfaat

Jika material dibuat dalam ukuran nano, banyak tercipta material dengan sifat baru.

Teknologi nano masih terbilang belum populer di Indonesia dan masih kerap dipandang sebelah mata. Padahal, teknologi nano dapat memberikan kemudahan bagi manusia, termasuk untuk hidup lebih baik pada masa depan. Teknologi nano merupakan teknologi yang menggunakan skala nano atau sepersemiliar dengan sifat material pada ukuran nano atau atom.

Bagi Dr Chaidir dari Pusat Teknologi Farmasi dan Medis BPPT, mungkin membahas sesuatu yang tak kasat mata akan dianggap mustahil. Namun, jika dilihat secara histori, pertama kali ide atau visi nano ini diberikan oleh Richard Feynman yang merupakan seorang fisikawan teoretis.

Penemuannya telah banyak memberikan sumbangan dalam kuantum mekanik. Ia pun telah membuat prediksi tentang teknologi nano. Waktu itu dia mengatakan, saat dia pelajari partikel paling kecil dan melihat fenomenanya, dia memprediksi nanti akan ada sebuah mikro mesin. "Mesin yang amat kecil tapi bisa memiliki kemampuan membuat partikel tertentu dengan memasang atom demi atom dan akan berikan sifat yang kita inginkan," ungkap Dr Chaidir dalam acara paparan penemuan teknologi nano, di Jakarta, pekan lalu.

Jika suatu material dibuat dalam ukuran nano, ada kemungkinan terciptanya material dengan sifat-sifat baru yang luar biasa. Meskipun masih awam bagi kebanyakan orang Indonesia, teknologi nano tidak asing bagi dua remaja putri Indonesia, yaitu Alicia Chan (15 tahun) dan Aileen Bachtiar (16 tahun), siswi kelas 11 Jakarta Intercultural School.

Terkini

Alicia dan Aileen meneliti teknologi nano saat mengikuti sekolah musim panas di Columbia University dan University of Pennsylvania, Amerika Serikat (AS), pada Juli 2019 lalu selama 21 hari. Keduanya pun memaparkan penemuan mereka yang diharapkan dapat diaplikasikan dengan baik di Indonesia.

Alicia sejak kecil sudah selalu tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan sains karena ia merasa bisa mendapatkan hal-hal baru saat melakukan penelitian.

Apalagi, Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi faktanya masih banyak orang yang hidup dalam garis kemiskinan. "Selain itu, perkem bangan teknologi di Indonesia masih tertinggal jauh dari negara tetangga," ujarnya.

Pada saat mengikuti sekolah musim panas di Columbia University, Alicia merasakan perbedaan yang sangat jauh dalam hal pemanfaatan teknologi. Padahal, pemanfaatan teknologi bisa sangat membantu kehidupan masyarakat.

Selama di Columbia University, ada satu penilitian yang menarik perhatian Alicia, yaitu superhydrophobicity, penilitian yang membuat benda memiliki permukaan antiair. Salah satu hasilnya adalah cairan spraysuperhydrophobicityjika disem protkan ke suatu benda, benda tersebut akan memiliki tekstur nano seperti daun lotus.

Nama teknik tersebut adalah Biomi micry. Dalam teknik ini, karakteristik organisme (lotus) ditiru untuk meningkatkan kehidupan sehari-hari. Aplikasi dari cairan spray superhydrophobicityini dapat diaplikasikan ke segala permukaan apa pun sebagai antibocor, salah satu contohnya atap rumah.

Ia menggunakan konsep penelitian self-assembling monolayer, sebuah permukaan yang bisa dibuat sangat antiair. Karena itulah, setetes airnya bisa menggumpal ke bentuk bola dan berlari ke bawah dengan mudah, sama seperti permukaan teflon. "Tujuan saya bereksperimen dengan konsep ini adalah saya dapat membantu masyarakat kurang mampu yang atap rumahnya bocor. Selain praktis dan efektif, teknologi ini bisa bertahan sangat lama," kata Alicia.

Fokus pada kesehatan

Sementara itu, Aileen Bachtiar menemukan bentuk alternatif lain pengawet makanan, yaitu nanopartikel perak untuk pembuatan minuman anggur. Aileen sejak lama tertarik dalam bidang makanan dan minuman.

Pada saat belajar tentang teknologi nano di University of Pennsylvania, Aileen kagum dengan potensi aplikasi teknologi nano di bidang makanan. Ia banyak melakukan riset dan akhirnya memulai penelitian fermentasi anggur.

Sulfit yang saat ini banyak digunakan untuk pengawet anggur memiliki efek berbahaya dalam jangka panjang bagi kesehatan seperti hipotensi dan bronkospasme.

Target penelitian saya adalah menemukan bentuk alternatif pengawet lain yang efektif sebagai pengganti sulfit sehingga dapat mengurangi efek berbahaya bagi kesehatan.

 
"Nanopartikel perak mempunyai properti antibakteri untuk membunuh kuman bahaya pada proses fermentasi anggu."
Aileen Bachtiar
Siswa peneliti teknologi nano
 
 

 

Solusi nanopartikel perak, yang dibuat dari ion perak, juga bisa diterapkan pada makanan atau minuman lain, seperti pada kemasan makanan yang dapat meningkatkan umur simpan makanan. Pada obat, nano partikel perak dapat memungkinkan penyerapan obat oleh tubuh manusia menjadi lebih maksimal.

Berdasarkan riset telah terbukti, nanopartikel perak aman dikonsumsi. Penelitian keduanya telah membuktikan bahwa teknologi nano bermanfaat bagi kehidupan karena kemampuannya untuk meningkatkan efektivitas dalam berbagai bidang.

Penerapan teknologi ini juga akan memberikan nilai lebih bagi kehidupan manusia. Kemudian, menurut M Ikhlasul Amal dari Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI sekaligus Ketua Masyarakat Nano Indonesia, nano tidak kasatmata dengan mikroskop optik sekalipun.

Nano baru dapat dilihat dengan mikroskop elektronik untuk melihat lebih dalam, melihat lebih faktual apa yang terjadi di skala atom. "Pada kenyataannya, teknologi yang tidak terlihat ini telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, jadi building block semua material yang ada di bumi di berbagai bidang," ujarnya.

Teknologi ini kemudian direkayasa untuk menjadi teknologi yang dimanfaatkan manusia. Di AS, teknologi ini akan menjadi pemicu teknologi lainnya dan masuk dalam 13 teknologi destruktif atau destructive technology yang ikut membangun revolusi industri 4.0. 

Program Pendidikan Penunjang 

photo
Program Pendidikan Robotika - (Dok MDIS)

Saat ini, disrupsi teknologi tak bisa lagi dihindari. Mulai dari, asisten yang diaktifkan melalui suara, pengenalan ID wajah, atau sensor perawatan kesehatan digital, kini sudah menjadi bagian dari teknologi yang kerap ditemui sehari-hari. 

Ada empat komponen utama dalam perkembangan revolusi  industri keempat, yaitu Cyber-Physical Systems, Internet of Things, Smart Factory, dan Internet of Services. Meskipun kondisi ekonomi global sedang tidak pasti, permintaan untuk peningkatan tenaga kerja yang signifikan di industri ini ternyata tetap positif. 

Untuk mendukung meningkatnya permintaan sumber daya berbasis keterampilan, Management Development Institute of Singapore (MDIS) memperkenalkan program baru, yaitu Sarjana Teknik Teknologi Robotika. Dalam program ini siswa akan dilatih tentang robotika.

Kepala MDIS School of Engineering Dr Tham Yieng Wei menjelaskan program Sarjana Teknik Robot ini dirancang dengan cermat dan terstruktur untuk memastikan peserta didik bergerak secara bertahap. “Mulai dari, pendekatan berbasis pengajaran dalam dua tahun pertama ke pendekatan berbasis proyek di tahun terakhir. Tujuannya, mendorong dan mendukung siswa untuk mengembangkan sikap belajar dan keterampilan manajemen diri, seperti bekerja secara efektif di bawah kendala waktu dan sumber daya,” ujarnya. 

Informasi mengenai program kerjasama MDIS dengan University of Plymouth, Inggris ini, bisa diakses dari sini

 


Berita Terkait

×