Peneliti menunjukkan alat deteksi cepat atau Rapid Test CePAD Antigen di Pusat Riset Bioteknologi Molekular dan Bioinformatika Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (21/5). | M Agung Rajasa/ANTARA FOTO
26 May 2020, 11:24 WIB

Berapa Kasus Covid-19 di Indonesia Sebenarnya?

Data yang diumumkan pemerintah membawa masyarakat ke perjalanan waktu.

 

Oleh BAYU ADJI P, SAPTO ANDIKA CANDRA, RR LAENY SULISTYAWATI

 

Maret lalu, seorang pasien dengan status dalam pengawasan (PDP) dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Slamet Garut. Kala itu ia diindikasikan mengalami gejala Covid-19. Ia kemudian diisolasi dan menjalanani rangkaian pengambilan sampel untuk diuji positif atau tidak tertular Covid-19.

Terkini

 

Pada 28 Maret, tanpa sepengetahuan petugas rumah sakit, yang bersangkutan kabur dari isolasi. Merasa sehat, ia berbaur dengan masyarakat. Namun pada 1 April, kondisinya tiba-tiba memburuk. Ia kemudian meninggal dunia dan dikuburkan pihak keluarga.

 

Lama setelah itu, sekitar 20 hari kemudian, baru ketahuan bahwa mendiang positif Covid-19. Sesuai prosedur, sebanyak 315 kepala keluarganya kemudian harus dites semuanya dan menjadi orang dalam pemantauan (ODP).

 

Pihak Pemkab Garut menerangkan, kejadian itu adalah buntut dari lamanya keluar hasil tes Covid-19. Sampel pasien tersebut harus mengantre dengan ratusan bahkan ribuan sampel lainnya yang dikirimkan ke Labkesda Jawa Barat di Bandung.

 

photo
Petugas medis melakukan pemeriksaan cepat (rapid test) COVID-19 terhadap sejumlah pedagang di Pasar Botania 2, Batam, Kepulauan Riau, Jumat (15/5). Pemeriksaan ini dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19 di sejumlah pasar tradisional - (M N Kanwa/ANTARA FOTO)

 

Peristiwa tersebut sedikit banyak bisa memberikan gambaran soal apa sebenarnya data Covid-19 yang disampaikan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di setiap harinya. Angka-angka yang didengar khalayak ramai sedianya semacam perjalanan waktu ke belakang. 

 

Saat Gugus Tugas mengumumkan rekor nyaris seribu kasus baru pada Kamis (21/5), ia bukan kejadian baru-baru saja. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengungkapkan, hasil tes yang disampaikan per hari merupakan hasil infeksi virus corona yang terjadi pada seminggu yang lalu. 

 

Artinya, penambahan kasus hari ini bisa menjadi cerminan perilaku masyarakat pada sepekan yang lalu. "Penambahan kasus yang tinggi bisa disebabkan banyak faktor. Selain kapasitas tes kita yang naik, juga karena masih ada masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan," ujar Yurianto, Kamis (21/5).

 

Dengan begitu, masyarakat sedianya tak mengetahui data riil kasus Covid-19. Soal berapa yang sebenarnya tertular hari ini, bahkan sepekan belakangan, masih mengendap di laboraturium-laboraturium.

 

Di Kalimantan Selatan, menurut Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan, Pengendalian dan Penanganan Covid-19 Kalimantan Selatan, HM Muslim, hingga Kamis (21/5) sekitar 800 spesimen masih menumpuk di Laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) Banjarbaru. Ratusan spesimen itu menunggu giliran uji laboratorium melalui metode polymerase chain reaction (PCR). 

 

photo
Petugas memeriksa hasil reagen rapid test COVID-19 di mal Apollo, Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (20/5). - (Destyan Sujarwoko/ANTARA FOTO)
 

Menurut Muslim, sejauh BTKL-PP telah melakukan tes terhadap 3.000 spesimen dan hasilnya telah disampaikan setiap hari. "Saat ini, masih tersisa sekitar 800 spisemen yang sedang dalam proses untuk pengetesan," kata Muslim, Kamis (21/5).

 

Pemerintah mengakui, laju tes Covid-19 di Indonesia masih menjadi salah satu yang terendah di dunia. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Kepala Bappenas) Suharso Monoarfa menyebutkan, kapasitas pemeriksaan Covid-19 (swab test) di Tanah Air masih di angka 743 tes per satu juta orang. Sampai Rabu (20/5), sudah 202.936 orang yang sudah diperiksa dengan swab test di Indonesia.

 

"Dengan kapasitas kita yang sekarang sudah naik 10 ribu-12 ribu bahkan kemarin tanggal 18 (Mei) sudah mencapai 12 ribu lebih tes, maka diharapkan dalam satu bulan kedepan kita bisa mencapai angka 1.838 per satu juta penduduk," ujar Suharso usai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo, Rabu (20/5).

 

Daya tes rendah

 

Bila menengok datar memang terlihat Indonesia kalah jauh dibanding negara tetangga. Malaysia misalnya, berhasil melakukan tes untuk 14.304 orang per sejuta penduduk. Filipina di angka 2.238 tes per satu juta penduduk, Vietnam 2.828 tes per satu juta penduduk, dan Thailand 4.099 tes per satu juta penduduk. "Brazil yang relatif hampir sama kayak Indonesia di angka 3.462," kata Suharso.

 

photo
Senator Filipina Manny Pacquiao menyapa pekerja medis di Stadium Olah Raga Filipina di Bulacan, Rabu (20/5). Fasilitas olah raga itu difungsikan sebagai lokasi pengetesan masal Covid-19 seturut merebaknya wabah tersebut. - (EPA/ROLEX DELA PENA)

 

Presiden Joko Widodo, ujarnya, berkali-kali telah memerintahkan jajarannya untuk mempercepat kemampuan tes di Indonesia. Tes masif ini dianggap menjadi kunci pemetaan sebaran Covid-19 yang akurat. Cepatnya tes juga diharapkan membuat pelayanan terhadap yang sakit bisa lebih cepat juga.

 

"Mudah-mudahan kedepan benar-benar kita bisa sampai 12 ribu. Kalau itu bisa 12 ribu, mudah-mudahan kita per satu jutanya akan semakin tinggi," kata Suharso.

 

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sebelumnya mengakui perlu ada pembinaan laboratorium yang memeriksa spesimen virus corona SARS-CoV2 (Covid-19). Ini penting dilakukan supaya meningkatkan kualitas pemeriksaan spesimen.

 

"Kami laporkan perlu ada peningkatan pembinaan terhadap laboratorium yang ada di seluruh Indonesia agar peningkatan kualitas dan kuantitas pemeriksaan spesimen bisa lebih baik lagi," ujar Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo saat memaparkan hasil rapat kabinet di akun YouTube, Senin (18/5).

 

Karena itu, ia menyebutkan pemerintah telah menunjuk Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes sebagai koordinator untuk mengumpulkan seluruh laporan hasil pemeriksaan di laboratorium. Kemudian pihaknya mengakui adanya keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang mengakibatkan proses testing kurang optimal.   

 

Hal ini membuat membuat pihaknya meminta bantuan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) termasuk juga melibatkan seluruh pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang terdapat laboratorium, kemudian kerja sama dengan asosiasi bidan yang memiliki kemampuan untuk ikut menangani laboratorium termasuk dalam rencana memberikan insentif bagi petugas laboratorium. Selain itu, pihaknya berkomitmen memaksimalkan kapasitas labooratorium untuk memeriksa Covid-19. 

 

Hingga saat ini, dia menambahkan, Kemenkes telah memiliki 14 laboratorium; Kemendikbud punya 19 laboratorium, sebagian besar punya perguruan tinggi; provinsi 19 laboratorium kesehatan daerah; Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dua laboratorium; Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) lima laboratorium; Kementerian Riset dan Teknologi dua laboratorium; Kementerian Pertanian tiga laboratorium; Kementerian Agama satu laboratorium; TNI satu laboratorium, swasta tiga laboratorium.

 

"Total sebanyak 69 laboratorium. Kemudian 54 laboratorium lainnya masih dalam proses peningkatan dan memulai operasional," katanya. Selain itu, ia mengungkap zat reagen untuk tes Covid-19 yang didistribusikan kini sebanyak lebih dari 600 ribu. Pihaknya mencatat total seluruh reagen yang didatangkan dari beberapa negara yaitu sebanyak lebih dari satu juta.

 

photo
Petugas medis mengambil sampel darah saat Drive Thru Rapid Test di Hilab, Yogyakarta, Kamis (21/5). Metode ini merupakan cara cepat untuk mendeteksi antibodi tubuh terhadap virus corona - (Wihdan Hidayat/ Republika)

 

Menurut Perwakilan Badan Kesehatan Dunia (WHO) di Indonesia N Paranietharan, negara-negara di dunia termasuk Indonesia menghadapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya yaitu Covid-19. Karena itu, dia melanjutkan, deteksi virus ini bisa dilakukan dengan pemeriksaan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Ia menegaskan laboratorium yang menguji spesimen menggunakan PCR adalah gold standard dan ini menjadi respons efektif pandemi ini. 

 

"Laboratorium ini menguji suspect (terinfeksi Covid-19) dan menilainya lebih awal dan menyelamatkan nyawa mereka," ujarnya saat konferensi video virtual, Rabu (20/5).

 

Kemudian di waktu bersamaan, dia melanjutkan, pemerintah juga bisa melacak identifikasi kontak siapa saja orang yang terinfeksi virus dan mengkarantinanya tepat waktu. Ia menambahkan, jika pengujian spesimen terus dilakukan dan mengimplentasikan physical distancing serta cuci tangan maka Indonesia dan negara-negara secara global bisa menang melawan virus ini.


×