Petugas mengamati aktivitas vulkanik. (ilustrasi) | Republika/Edi Yusuf

Kisah Dalam Negeri

Dentuman Misterius Terus Terjadi

Kejadian di Bandung menggenapi empat kali terjadi dentuman misterius sebulan belakangan.

Oleh M FAUZI RIDWAN, RONGGO ASTUNGKORO

Suara dentuman nyaring mengagetkan warga di kawasan Bandung Raya seperti Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, Kamis (21/5) pagi. Seperti kejadian-kejadian sebelumnya warga mendengar bunyi dentuman itu beberapa kali namun belum bisa dipastikan berasal dari mana bunyi tersebut.

"Infonya sempat terdengar sampai di Buah Batu, Moch Toha, Astana Anyar dan Kopo," ujar salah seorang warga, Akbar, Kamis (21/5). Informasi yang dihimpun, bunyi dentuman tersebut dikabarkan sampai ke wilayah Banjaran hingga Ciwidey, Kabupaten Bandung.

Kepala Bidang Gunung Api Pusat Vulkanologi, Mitigasi Bencana dan Geofisika (PVMBG), Hendra Gunawan mengungkapkan berdasarkan pemantauan gunung api disekitar Bandung tidak terdapat laporan mengalami erupsi. Namun ia menyebutkan mendengar beberapa kali bunyi dentuman.

"Istri saya di Cimahi jam sembilan pagi mendengar beberapa kali. Dari pemantauan gunung api tidak ada laporan erupsi," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (21/5).

Menurutnya, pihaknya tidak melakukan penyelidikan bunyi dentuman tersebut kecuali dentuman berasal dari erupsi gunung api. Katanya saat ini gunung api sekitar Bandung tidak ada yang mengalami erupsi.

photo
Petugas menunjukan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu beberapa waktu lalu. - (Republika/Edi Yusuf)

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Tony Agus Wijaya juga mengatakan pihaknya masih memerlukan pendalaman dan analisis untuk mengetahui asal usul bunyi dentuman tersebut. "Perlu dianalisis penyebab sumber suara selain faktor gempa, petir dan cuaca," katanya. 

Ia mengatakan, sejak pukul 00.00 Wib hingga 10.00 WIB tidak terjadi peristiwa gempa dan cuaca relatif cerah berawan. "Tidak ada juga kejadian suara petir mulai dari 08.30 WIB sampai 10.00 WIB," ungkapnya.

Ini adalah kali kesekian bunyi dentuman yang tak diketahui penyebabnya membuat warga terkejut. Kejadian serupa menyebar di berbagai wilayah di Pulau Jawa, belakangan. Suara misterius itu bermula dari wilayah Jakarta dan sekitarnya pada Sabtu (11/4) sekitar pukul 02.00 WIB. 

Seorang warga, Fauzan Mulyono (26 Tahun) menuturkan tengah mendengarkan siaran podcast dengan menggunakan pengeras suara di kamarnya. Perhatiannya terusik oleh dua kali suara dentuman yang ia dengar dari luar kamar. Pria yang kerap disapa Adut itu kemudian memutuskan untuk mematikan siaran yang ia dengarkan.

"Gue matiin podcast, merhatiin suara apa. Gue nyalain podcast lagi, eh nongol deui suarana," tutur warga Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur, itu kepada Republika.

Nila Kusumasari (26 Tahun) juga mendengar suara yang sama dari rumahnya yang terletak di wilayah Cijantung, Jakarta Timur. Ia mendengar suara gemuruh yang berasal dari dalam bumi. Nila mendengar suara tersebut cukup sering dimulai dari pukul 02.00 WIB.

"Dentumannya kencang tapi dari bawah tanah, intense dari jam 2-an. Kadang berhenti, nanti muncul lagi. Kadang frekuensinya mepet-mepet terus nanti hening lagi, bunyi lagi," tutur Nila.

Nila sempat mengira suara tersebut merupakan suara langkah kakaknya yang sedang berjalan di dalam rumah. "Sampai keluar abang gue cek ke bawah, lantai semua aman. Kaya meriam suaranya, tapi mendem," kata dia.

Dentuman itu sempat disangka merupakan letusan Gunung Anak Krakatau. Kendati demikian, pihak terkait menyangkal. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kasbani, menyampaikan suara dentuman yang didengar sejumlah warga kemungkinan tidak terkait dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau, Lampung. 

photo
Penampakan Anak Gunung Krakatau. - (AP)

Menurutnya, suara dentuman tak terdengar di pos pengamatan di Pasauran, Pantai Carita, Banten. "Dentuman tidak terdengar di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau yang di Pasauran, Pantai carita. Dentuman itu kemungkinan tidak terkait dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau," jelas Kasbani saat dikonfirmasi, Sabtu (11/4).

Saat itu, tak ada kesimpulan soal asal dentuman tersebut. "Dengan informasi yang terbatas sulit untuk menyimpulkan apa gerangan yang menjadi sumber dari suara dentuman tersebut," ujar Judhistira Aria Utama dari Laboratorium Bumi dan Antariksa Departemen Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia, saat dihubungi Republika, kala itu. 

"Bila diasumsikan sumber dentuman dari peristiwa atmosferik, faktanya tidak ada yang melihat benda terbang yang sedang bergerak dengan kecepatan suara. Demikian pula tidak ada saksi mata yang melihat adanya meteor besar yang disebut fireball atau bollide," ia melanjutkan.  Selain itu, kata Aria Utama, pihak militer juga belum mengkonfirmasi ada atau tidaknya latihan bersenjata. 

Kejadian Sleman

Sekitar tiga hari kemudian, suara dentuman serupa turut didengar sebagian warga Kabupaten Sleman pada Selasa (14/4) dini hari. Hingga saat ini juga belum ada penjelasan ilmiah kejadian tersebut.

Seperti kejadian sebelumnya di Jakarta, keduanya terjadi dini hari sekitar 02.00-04.00. Di Kabupaten Sleman, memang tidak semua warga yang mendengar suara dentuman, sebagian besar didengar di daerah-daerah yang cukup tinggi.

Namun, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) sudah mengonfirmasi jika suara dentuman tidak ada kaitan dengan aktivitas Gunung Merapi. Terlebih, aktivitas Gunung Merapi cukup landai.

Untuk aktivitas kegempaan, selama periode pengamatan 00.00-06.00 terdapat dua hembusan beramplitudo 2-3 milimeter berdurasi 14,8-17,2 detik. Lalu, satu gempa low frekuensi beramplitudo lima milimeter berdurasi 10,7 detik.

photo
Puncak Gunung Merapi terlihat dari Sungai Gendol, Bronggang, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Ahad (3/5/2020). Menurut laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta pada 24-30 April 2020 aktivitas Gunung Merapi masih cukup tinggi. - (BUDI CANDRA SETYA/ANTARA FOTO)

Kemudian, ada 14 gempa hibrida beramplitudo 2-6 milimeter berdurasi 6-10,5 detik, serta satu gempa tektonik jauh beramplitudo 12 milimeter durasi 49 detik. Secara meteorologi, cuaca cerah dan angin bertiup lemah ke timur.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Sleman, Agus Riyanto melaporkan, pada Selasa dini hari memang ada dua gempa masing-masing 3,4 skala richter di Pacitan dan 3,5 skala richter di Jember. "Terkait pertanyaan adanya dentuman, tidak ada hubungannya dengan aktivitas seismik di atas," kata Agus, Rabu (15/4). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY tak melaporkan adanya kerusakan akibat kejadian, walaupun suara dentuman itu didengar cukup jelas. 

Sempat absen nyaris sebulan, di Surakarta dan sekitarnya, warga dihebohkan dengan suara dentuman keras pada Senin (11/5) dini hari lalu. Seorang warga, Mariyana Ricky (31), mengaku mendengar suara dentuman pada tengah malam antara pukul 00.00 - 01.00 WIB. 

Dia mendengar suara tersebut saat sibuk berburu diskon belanja daring di salah satu marketplace. Awalnya, dia mengira suara tersebut berasal dari gardu listrik yang meledak. Namun, karena listrik tidak padam, dia mengira dentuman tersebut bersumber dari suara lain. 

"Suaranya keras sekali. Saya kira suara ban truk yang pecah karena rumah saya dekat dengan jalan lingkar (ring road)," ucap warga kelurahan Sine, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen tersebut kepada Republika, Senin (11/5). Mariyana lantas membuka grup-grup di media sosial untuk mencari tahu terkait sumber dentuman tersebut. Namun, ia tak kunjung menemukan asal suara dentuman tersebut.

 
Jika sebuah aktivitas gempa sampai mengeluarkan bunyi ledakan, artinya kedalaman hiposenter gempa tersebut sangat dangkal, dekat permukaan, dan jika itu terjadi maka akan tercatat oleh sensor gempa.
 
 

Bukan militer

Ihwal perkiraan dentuman berasal dari sonic boom pesawat militer, Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Adi Soemarmo Solo, Kapten Sus Bambang Supriyatno, memberikan penjelasan. Dia mengatakan, tidak ada jadwal latihan pesawat militer pada Senin dini hari.

"Kalau di jadwal ini tidak ada latihan terbang malam. Tapi home base kan di Lanud Iswahyudi Madiun. Tapi kalau di sini ada jadwal latihan terbang ke Selo saya bisa kasih tahu," kata dia saat dihubungi wartawan.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, masyarakat mendengar dentuman itu pada periode waktu 00.45 WIB sampai 01.15 WIB. Namun dari hasil pengecekan gelombang seismik dari 22 sensor gempa BMKG yang tersebar di Jawa Tengah, tidak ditemukan adanya aktivitas gempa.

"Sehingga kami memastikan sumber suara dentuman tersebut tidak berasal dari gempa tektonik, karena jika sebuah aktivitas gempa sampai mengeluarkan bunyi ledakan, artinya kedalaman hiposenter gempa tersebut sangat dangkal, dekat permukaan, dan jika itu terjadi maka akan tercatat oleh sensor gempa," kata Daryono dalam keterangan tertulisnya yang diterima Republika di Jakarta.

photo
Pesawat tempur Sukhoi TNI AU melakukan pengisian BBM di udara saat Latihan Gabungan (Latgab) TNI Dharma Yudha 2019 di Pusat Latihan Tempur Marinir di Karangtekok, Situbondo, Jawa Timur, Kamis (12/9/2019). - (ANTARA FOTO)

Sedangkan Kepala Seksi data dan Informasi BMKG Jawa Tengah, Iis Widya Harmoko mengungkapkan, BMKG Jawa Tengah telah mengonfirmasi bunyi dentuman tersebut bukan berasal dari aktivitas cuaca maupun aktivitas seismik. Ia menjelaskan, berdasarkan pengamatan citra stelit cuaca, BMKG memastikan pada saat terdengar dentuman, sekira pukul 01.45 WIB, citra satelit cuaca tidak menunjukkan konsentrasi awan di wilayah yang mendengar dentuman tersebut.

 “Jika memang suara dentuman yang terdengar tersebut ada hubunganya dengan cuaca, biasanya ada kumpulan awan yang berpotensi menyebabkan  petir,” kata dia di Semarang. Karena, lanjut Iis, petir sangat identik dengan suara bunyi dentuman. BMKG mencoba melihat dari kedua faktor tersebut dan kecil kemungkinan suara dentuman tersebut disebabkan oleh aktivitas cuaca.

Ia juga menyampaikan, dari sisi aktivitas seismik (kegempaan) juga nihil. Meski di wilayah Jawa Tengah bagian timur (sisi utara) ada Sesar Baribis Kendeng, pada saat terjadi dentuman juga tidak terpantau adanya aktivitas seismik yang dirasakan atau terpantau di kawasan tersebut.

“Oleh karena itu, tiga alasan tersebut sudah disampaikan, tidak mendukung adanya suara dentuman yang jamak diperbincangkan warga di sejumlah daerah di Jawa Tengah tersebut,” lanjut Iis.

Guna mengetahui secara pasti apa penyebab bunyi dentuman yang terdengar, dibutuhkan kajian lebih lanjut “Mungkin bukan hanya dari sisi BMKG saja, tapi juga bisa dari sisi lain seperti Lapan, geologi atau yang lain yang bisa berkolaborasi,” ujar dia. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat