Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga menunjukkan kotak berisi obat chloroquine yang akan diserahkan kepada RSPI Sulianti Saroso di Jakarta, Sabtu (21/3). | ANTARA

Kisah Mancanegara

20 May 2020, 02:00 WIB

Jejak Trump Rutin Minum Obat Malaria Diikuti India

Trump mengaku meminum obat malaria untuk mencegah Covid-19, meski FDA memperingatkan bahayanya. 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Senin (18/5), mengaku rutin meminum obat malaria hydroxychloroquine (HCQ) sebagai perlindungan melawan virus korona. Hal ini dilakukan Trump, meski badan obat dan makanan AS, Food and Drug Administration (FDA), memperingatkan risiko pengunaan obat tersebut terkait masalah jantung yang serius. 

"Saya minum hydroxychloroquine. saya sudah menggunakannya sejak pekan lalu, satu pil per hari," kata Trump, Senin. Hal ini ia sampaikan dalam sesi tanya-jawab dengan wartawan. Usai ia bertemu dengan pengusaha restoran yang terdampak virus korona.

Tak lama setelah pernyataan Trump, stasiun televisi Fox News mewawancarai kepala obat-obatan Rumah Sakit Universitas St Joseph Dr Bob Lahita. Ia memperingatkan masyarakat untuk tidak meminum HCQ. "Kami telah melihat tidak ada dampaknya dan kami sudah merawat sejumlah pasien dengan itu," katanya. 

Trump mengatakan, ia juga meninum antibiotik pencegah infeksi, azitromisin. Dia mengatakan, dalam hubungannya dengan hydroxychloroquine ia juga meminum zink.  "Saya bisa katakan sejauh ini saya tampaknya baik-baik saja," kata Trump.

Namun, ini bukan pertama kali Trump memunculkan gagasan mengonsumsi HCQ dan antibiotik sebagai penangkis virus korona. Gagasan ini diungkap Trump pertama kali pada Maret lalu. Sejak saat itu, India bahkan sudah mendorong produksi dan penggunaan HCQ. India memang dikenal sebagai negara produsen HCQ terbesar di dunia. 

India meresepkan HCQ untuk para pekerja medis yang berada di garis depan dalam menangani Covid-19. India bahkan memanfaatkan obat ini sebagai alat diplomasi, meski makin banyak bukti yang menentang penggunaan HCQ untuk kasus Covid-19.

photo
Pekerja memproduksi chloroquine phosphate di salah satu perusahaan farmasi di Kota Nantong, Jiangsu, China, Februari lalu. - (FEATURECHINA)

Gagasa Trump menggunakan HCQ mampu mengubah drastis kebijakan India yang sudah berlangsung beberapa dekade. Kementerian Kesehatan India langsung menyetujui obat tersebut sebagai 'pencegahan' tak hanya bagi para pekerja medis, tapi juga orang-orang yang berisiko tinggi dan pasien yang sudah sakit parah. 

India awalnya melarang ekspor HCQ. Namun, larangan itu dicabut setelah Trump mengancam 'pembalasan'. Pada saat yang sama, Pemerintah India memerintahkan pabrik untuk meningkatkan memproduksi dari 1,2 juta pil menjadi 3 juta pil per bulan. Nilai saham perusahaan pun meroket. Sedangkan pemasaran meningkat mulai di AS hingga Australia. 

Para pejabat berwenang di Mumbai bahkan merancang rencana untuk memberikan HCQ kepada ribuan warga yang tinggal di daerah kumuh. Obat itu difungsikan sebagai pencegah virus korona. 

Selama ini peraturan di India menyebutkan bahwa obat seperti HCQ hanya boleh digunakan setelah melalui peninjauan ketat secara ilmiah dan sudut pandang etika. Namun, menurut pakar kode etik kedokteran India, Dr Amar Jesani, tidak ada peninjauan apa pun yang dilakukan terhadap HCQ.

Belakangan, rencana Mumbai akhirnya dihapus di tengah derasnya pertanyaan mengenai etika penggunaan HCQ tanpa uji klinis. Namun, menurut Jesani, Pemerintah India tetap merekomendasikan warga menggunakan HCQ, meski ini bertentangan dengan regulasi pada 2017 terkait kedaruratan dalam penggunaan obat yang belum diuji. 

Menurut data, Pemerintah India sendiri membeli 100 juta pil HCQ. Obat itu akan didistribusikan ke negara-negara bagian di India dan disumbangkan ke negara-negara lain, seperti Afghanistan, Myanmar, hingga Republik Dominika. 

India adalah produsen terbesar di dunia untuk obat-obat generik. Industrinya yang berkembang pesat membuat harga obat turun secara global. 

Di tengah krisis HIV/AIDS, India juga memainkan peran yang sama seperti saat pandemi Covid-19 ini. Yaitu, mereka meningkatkan produksi obat-obatan yang disebut-sebut sebagai penyelamat hidup. 

photo
Pekerja menunjukan kulit pohon kina (cinchona) yang telah diolah menjadi bubuk di Pabrik Pengolahan Kina milik PTPN VIII Bukit Unggul, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (26/3). Chloroquine terkandung dalam tanaman kina tersebut. - (ANTARA FOTO)

Masalah kali ini, kata para ahli, keampuhan HCQ tidak berdasarkan pada data ilmiah. Bahkan, tak ada bukti yang menunjukkan HCQ mencegah atau mengobati Covid-19. 

Kantor berita Associated Press menyebutkan, para pejabat kementerian kesehatan India belum ada yang bersedia berkomentar mengenai perkembangan terbaru ini. Komunikasi mereka yang terakhir dengan media dilakukan dalam keterangan pers harian pada 1 Mei lalu.

Menentang HCQ

Sementara itu, makin banyak bukti yang menentang penggunaan HCQ untuk kasus virus korona. Sebuah penelitian AS terhadap 368 pasien di rumah sakit untuk veteran menunjukkan tidak ada bukti dari manfaat obat tersebut. Bahkan, banyak kasus kematian di antara mereka yang diberi HCQ. 

Penelitian Pemerintah India terhadap 19 jenis obat juga menunjukkan HCQ bukan termasuk obat yang paling menjanjikan. Sebuah gugus tugas di India mencatat bahwa meski HCQ mudah diperoleh, bukti ilmiahnya amat rendah. 

Sumber : AP/Reuters


×