Warga mengunjungi Pasar Musi di Depok, Jawa Barat, Senin (18/5/2020). Meskipun Kota Depok telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap ke-3 hingga 26 Mei 2020, namun masih banyak warga di pasar tersebut yang melanggar aturan tersebut den | ASPRILLA DWI ADHA/ANTARA FOTO

Jawa Barat

PSBB di Jabar Diklaim Berdampak Signifikan

Jabar mulai relaksasi PSBB di sejumlah daerah.

 

 

BANDUNG – Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dilakukan di Jawa Barat (Jabar) berdampak signifikan terhadap penurunan kasus positif Covid-19. Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan, sebelum PSBB skala provinsi akhir April lalu, pasien yang dirawat dan diisolasi sekitar 430 pasien. Namun, setelah PSBB diberlakukan, angkanya turun sekitar tinggal 270 pasien.

“Dari total ketersediaan ruang isolasi Covid-19 di rumah sakit di Jabar pun, sekarang yang dipergunakan hanya 33,69 persennya dan diharapkan tak akan pernah bertambah lagi,” ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil di Gedung Sate, Senin (18/5).

Menurut Emil, dari hasil evaluasi PSBB Jabar yang akan berakhir Rabu (20/5), statistik penyebaran Covid-19 di Jabar sudah membaik secara signifikan. Hal itu terlihat dari sisi jumlah kasus positif. Biasanya, Jabar berada di peringkat kedua terbanyak setelah DKI Jakarta. Namun, dalam sepekan terakhir, berada di posisi ketiga, tersusul Jawa Timur.

“Secara persentase juga, secara jumlah penduduk ini Jabar sekarang ranking 23 dari 34 provinsi. Jadi, untuk penduduk terbesar se-Indonesia, menempati persentase di urutan ke-23 ini adalah keberhasilan dari semua tim di Gugus Tugas dalam menekan Covid-19,” kata Emil.

Selain itu, menurut Emil, angka kecepatan penyebaran virus korona di Jabar pun menurun. Hitungannya, dari awalnya seorang pasien positif dapat menularkan kepada tiga orang lainnya dalam sehari, setelah PSBB diberlakukan, seorang pasien hanya menularkan kepada satu orang lainnya dalam sehari.

photo
Warga membantu mengatur lalu lintas kendaraan di Jalan Raya Sawangan, Depok, Jawa Barat, Sabtu (16/5). - (SIGID KURNIAWAN/ANTARA FOTO)

Sehingga, kata dia, kasus rata-rata pada April yang masih 40 kasus per hari, kini di angka 21 kasus per hari. “Jadi, kami boleh menyimpulkan bahwa PSBB di Jabar ini melengkapi PSBB Bodebek dan Bandung Raya. Boleh dikatakan ini mengalami keberhasilan siginifkan, kasus turun rata-rata 50 persen,” ujar dia.

Namun, Emil mengaku, orang tanpa gejala (OTG) yang positif Covid-19 malah meningkat. Mereka hadir di tengah kerumunan dan sebagian adalah pemudik dari zona merah. Oleh karena itu, dia mengimbau untuk jangan mudik dan jangan berkerumun.

“Tetap hindari mendatangi dan menciptakan kerumunan dan antrean tanpa jarak. Karena virus Covid-19 mungkin hadir di kerumunan dan antrean itu,” kata Emil.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga telah melakukan rapat evaluasi terkait penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di 27 kabupaten/kota. PSBB yang sekarang berjalan akan berakhir pada Selasa (19/5). Ridwan Kamil memastikan PSBB di Jabar akan diperpanjang.

Walaupun, nantinya akan ada relaksasi untuk sejumlah daerah yang dianggap penyebaran kasus COVID-19 sedikit atau tidak ada sama sekali. "Kesimpulannya PSBB Provinsi Jabar dilanjutkan tapi secara proposional. Tidak lagi secara maksimal di 27 kabupaten/kota," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil dalam konferensi pers, Senin (18/5).

Emil mengatakan, Pemprov Jabar akan mengklasterkan daerah hingga ke tingkat kelurahan dan desa dalam lima zona, yakni hitam, merah, kuning, biru, dan hijau. Level kewaspadaan ini tergantung dari kondisi di setiap kelurahan/desa. 

Untuk zona merah, kata dia, di mana sekarang diterapkan di wilayah Provinsi Jabar, artinya PSBB dilakukan secara ketat. Dengan PSBB ini, pergerakan masyarakat dan kendaraan maksimal hanya boleh 30 persen.

Kemudian, kata dia, ada zona kuning atau artinya cukup berat penyebaran COVID-19. Dalam zona ini PSBB akan lebih ringan di mana kegiatan masyarakat dan barang bisa mencapai maksimal 60 persen. "Untuk level dua itu zona biru di mana kegiatan bisa 100 persen tapi tidak boleh ada kerumunan terlebih dulu," katanya.

photo
Petugas Dinas Kesehatan Kota Bogor melakukan rapid test untuk pengunjung di Pasar Anyar, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (18/5/2020). Dinas Kesehatan Kota Bogor tetap gencar melakukan rapid test dan swab test di sejumlah pasar tradisional di Kota Bogor sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran pandemi COVID-19 - (ARIF FIRMANSYAH/ANTARA)

Untuk data lebih rinci mengenai daerah sesuai zona masing-masing, Emil baru akan mengumumkannya pada Rabu (20/5) pagi. Kemudian, kata dia, zona paling aman adalah zona hijau di mana warga bisa 100 persen berkegiatan. Mereka pun diperbolehkan untuk berkativitas seperti biasa tanpa batasan orang. "Boleh ada kerumunan tapi tetap dengan memerhatikan protokol kesehatan," katanya.

Namun, kata dia, hingga saat ini belum ada Kabupaten/Kota yang masuk dalam zona hijau. Empat daerah masuk dalam zona biru, sembilan zona kuning, dan 14 daerah zona merah. Dengan zonasi ini, kata dia, tidak menutup kemungkinan akan ada  kelurahan atau desa yang masuk zona hijau atau bisa beraktivitas normal dan diperbolehkan berkerumun.

Sebanyak lebih dari 200 negara dan wilayah telah melaporkan adanya kasus infeksi dan kematian akibat penyakit Covid-19 yang terdeteksi pertama kali di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Kendati demikian, angka kesembuhan dari pasien Covid-19 secara global juga terbilang cukup tinggi. 

Seperti dikutip dari data Worldometers, Senin (18/5), sebanyak 1.864.154 pasien Covid-19 di dunia dinyatakan sembuh. Jika dibandingkan dengan jumlah kasus nonaktif yang mencapai 2.181.113, persentasenya mencapai 85 persen.

photo
Suasana aktivitas jual beli di kawasan Pasar Baru, Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista), Kota Bandung, Senin (18/5). Meski penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jawa Barat masih berlaku hingga 19 Mei 2020 mendatang, namun sebagian oknum pedagang tetap menggelar lapaknya di sejumlah titik seperi di atas trotoar dan pinggir jalan - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Dari jumlah kasus nonaktif tersebut, tercatat bahwa jumlah kematian menurun menjadi 15 persen atau 316.959 jiwa di seluruh dunia. Sementara itu, kasus aktif atau yang masih dalam penanganan rumah sakit maupun isolasi mandiri tercatat sebanyak 2.637.989. Dengan rincian 98 persen atau 2.593.197 orang dalam kondisi sedang dan dua persen atau 44.792 pasien dalam kondisi serius dan kritis.

Secara global, jumlah total dari kasus aktif dan nonaktif  tersebut kini menembus 4.819.102. Indonesia tercatat sebagai negara kedua yang mencatat kasus terbanyak di Asia Tenggara, melampaui 18 ribu kasus. Indonesia tercatat 18.010 kasus dan 1.191 kematian. Sementara, Singapura mencatat 28.343 kasus dengan kematian yang rendah, yakni 22 orang meninggal karena Covid-19.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat