Kegiatan pembayaran dengan dompet digital | Dok DANA Indonesia
12 May 2020, 18:58 WIB

Adopsi Teknologi Demi Wujudkan Transformasi

Saat ini, percepatan adopsi budaya bertransaksi nontunai terus terjadi.

Sentuhan digital, kini bisa ditemui di berbagai aspek kehidupan. Salah satu ikon wisata di Yogyakarta, Malioboro, pun kini diwarnai nuansa digital yang tetap sarat dengan tradisi budaya penuh kearifan lokal.

Atmosfer leburnya tradisi dan suasana modern masa depan makin menguat dengan kehadiran dompet digital Dana di kawasan legendaris ini. Chief Innovation Officer Dana Darrick Rochili menjelaskan, Dana melihat kawasan Malioboro Yogyakarta, termasuk Pasar Beringharjo, sebagai kawasan wisata budaya yang sarat dengan kegiatan dan transaksi ekonomi. Kawasan ini juga menjadi titik interaksi sosio-ekonomi antara budaya bertransaksi urban yang dibawa para wisatawan dan banyaknya ka langan intelektual yang mulai mengenal nontunai.

Dengan memanfaaatkan dompet digital Dana yang telah sepenuhnya mendukung QRIS (quick response code Indonesia standard), yakni standar kode QR nasional yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Dengan demikian, pengunjung kawasan Malioboro kini sudah dapat bertransaksi nontunai yang lebih aman, nyaman, dan praktis ketika berbelanja di Pasar Beringharjo, pasar tertua dan terbesar di Yogyakarta.

Pengunjung juga dapat memanfaatkan Dana untuk menikmati transportasi tradisional bebas polusi, andong, di sekitar kawasan Malioboro. "Bagi masyarakat luas, kehadiran dompet digital Dana menjadi momentum tepat untuk memasyarakatkan keunggulan transaksi nontunai," ujar Derrick.

Terkait

Selain itu, kata dia, adopsi dompet digital juga sekaligus dapat memberikan edukasi melalui pengalaman langsung bahwa ekonomi digital berpotensi besar meningkatkan produktivitas serta kompetensi pelaku ekonomi di semua sektor.

 
Kehadiran kalangan urban pada interaksi keseharian di Malioboro juga membuat kami optimistis terhadap perce patan adopsi budaya bertransaksi non tunai secara digital di Indonesia yang di inspirasi dari kawasan ini.
Darrick Rochili
Chief Innovation Officer Dana
 

Melalui keunggulan dompet digital, masyarakat diharapkan makin dapat merasakan dan membuktikan sendiri kepraktisan dan kemudahan dalam bertransaksi nontunai secara digital. Pedagang pasar maupun sais andong pun dapat memanfaatkan dompet digital Dana untuk memberikan layanan yang lebih cepat, akurat, efisien, tanpa perlu direpotkan dengan penyediaan uang kembalian.

Transaksi dengan pelanggan juga akan selalu tercatat. Pengguna Dana tak cuma bisa menggunakan dompet di gital Dana di merchant-merchant yang telah menjadi mitra bisnis Dana, tetapi juga di semua merchant yang bisa menerima pembayaran nontunai digital yang telah mendukung QRIS untuk pem bayaran.

Dengan menggunakan Dana, masyarakat dapat menggunakan produk perbankan seperti kartu debit dan kartu kredit untuk bertransaksi nontunai secara digital. Dana juga memiliki fitur card binding yang memungkinkan masyarakat menyimpan kartu debit dan kartu kreditnya yang telah terverifikasi ke dalam dompet digital Dana.

Masyarakat pun dapat memanfaatkan kartu kredit dan kartu debitnya sebagai sumber dana untuk pembayaran transaksi dengan Dana. Sehingga, pengguna tak harus selalu repot melaku kan top-up.

Fitur card binding merupakan inovasi yang relevan untuk menjawab salah satu tantangan terbesar masyarakat dalam mengadopsi budaya nontunai digital. Merujuk pada hasil survei Jakpat tentang "Indonesia Digital Wallet Trend"(2019), alasan utama masyara kat enggan untuk mengadopsi budaya bertransaksi nontunai dengan mengandalkan dompet digital adalah karena kerepotan ketika harus melakukan top-up.

 

Teknologi Sebagai Kunci

photo
Pembayaran dengan dompet digital berbasis QRIS - (Dok DANA Indonesia)

Berbisnis tak jauh berbeda dengan bermain layang-layang. Menerbangkan layang-layang pun harus di tempat yang berangin kencang karena hanya dengan satu-dua kali tarikan, layang-layang dapat menjulang ke angkasa.

Hal itu disampaikan oleh Handy Widiya, deputi direktur Anteraja, dengan mengutip Theodore Permadi Rachmat, taipan yang dikenal sebagai pendiri Triputra Group. Anteraja merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengiriman logistik melihat bahwa bisnis perdagangan elektronik (e-commerce) masih akan tumbuh pesat dalam lima hingga 10 tahun ke depan.

Menurut Handy, dalam kondisi sekarang, pemain jasa logistik, sudah banyak, margin sudah cukup ketat, dan kompetisinya juga ketat. Pada akhirnya, teknologi, inovasi, dan proses operasional didukung sumber daya manusia menjadi solusi penting yang perlu terus dikembangkan untuk mendorong keberlanjutan bisnis di sektor jasa, ujarnya dalam keterangan pers yang diterima Republika.

Dari sisi teknologi, Anteraja memanfaatkan teknologi untuk memetakan aktivitas kurir agar bisa mengambil dan mengantar barang secara efektif dan efisien. Melalui analisis data area logistik, perusahaan pun akan mampu melakukan reviewpergerakan kurir dan memperhitungkan produktivitas setiap hari.

Menurut dia, teknologi juga mampu mempercepat proses ekspansi. Buktinya, perusahaan mampu mengembangkan usahanya di 30 provinsi hanya dalam kurun waktu sembilan bulan dengan memanfaatkan teknologi berupa aplikasi pengambilan dan pengiriman barang, aplikasi timbangan, dan penyediaan resi modern.

Teknologi juga digunakan untuk memberi informasi terkait progres pengiriman barang dari satu tempat ke tempat lain secara realtime untuk pelanggan. Selain teknologi, Anteraja juga menilai sumber daya manusia merupakan aset utama yang perlu dijaga.

Untuk itu, perusahaan pun merekrut sekitar 2.500 kurir sebagai karyawan. Head of Sales Kulina, perusahaan jasa penyedia makanan daring, Dimitri Dwi Putra, mengungkapkan pihaknya menyediakan platform digital untuk membantu restoran, katering, dan bisnis rumahan untuk bertemu dengan pelanggan dengan mudah.

Melalui penggunaan teknologi, Kulina ingin menjadi jawaban bagi tantangan bisnis kuliner di Indonesia. Sebab, pelaku usaha kuliner saat ini sulit memenuhi regulasi pemerintah berupa sertifikasi kelaikan berbisnis makanan dan minuman.

Alhasil, pangsa pasar kuliner hanya akan dipenuhi oleh yang itu-itu saja, sementara pengusaha rintisan sulit mengembangkan usaha karena terbentur sertifikat dan modal. "Ada gap yang cukup besar. Banyak pelaku usaha sulit melakukan sertifikasi layak jasa makanan, terbatas di infrastruktur dan modal. Padahal, mereka punya keahlian masak yang hebat. Untuk itu, Kulina berupaya mencari solusi melalui teknologi," ujar Dimitri.

Di zaman yang begitu erat dengan teknologi, Aditya Kusumapriandana selaku co-founder Infia mengungkapkan, tantangan bisnis jasa kreatif lebih banyak pada minimnya apresiasi pelaku usaha terhadap ide kreatif yang mengudara.

Sebagian besar konsumen belum memahami seberapa penting perusahaan melakukan aktivasi dengan cara yang berbeda dibandingkan kompetitor. "Mereka masih merasa industri kreatif ini kok mahal banget ya. Membuat image kreatif ini memang mahal, karena memang usahanya tidak mudah, dan impact-nya juga akan sebesar itu, ungkap Aditya.

Sejak pertama kali berdiri pada 2014, sebagian besar mitra bisnis Infia berasal dari usaha kecil dan menengah (UKM) atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Seiring perkembangan industri, nilai aset dan eksposur perusahaan juga berkembang. "Mau tidak mau kami harus ekspansi bisnis, tidak cuma segmen UKM saja. Semua industri pasti akan mengalami hal itu, bisnis makin lama makin besar dan bergeser ke bisnis lain juga," ujarnya.

Untuk menjaga keberlanjutan usaha, Infia memanfaatkan teknologi perangkat lunak pencatatan keuangan Jurnal. Menurut Aditya, dampak Jurnal terhadap kinerja pencatatan keuangan perusahaan sangat besar.

Terutama dalam mendeteksi dan menganalisis kondisi keuangan perusahaan untuk kemudian menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis.


×