Nasional
Jenazah Sandera Ditemukan, Pembunuhan Di Gaza Berlanjut
Seorang bayi berusia dua belas hari juga meninggal di Rumah Sakit Al-Rantisi.
GAZA – Penemuan jenazah terakhir sandera warga Israel nyatanya belum juga menyetop Israel dari membunuhi warga Gaza. Pembukaan perbatasan Rafah sejauh ini terus dipantau warga Gaza dengan pesimisme.
WAFA melansir pada Selasa, sumber medis di Rumah Sakit Arab Al-Ahli (Rumah Sakit Baptis) di Kota Gaza mengabarkan empat orang syahid dan tiga lainnya luka-luka akibat penembakan Israel di dekat Pemakaman Al-Batsh di lingkungan Al-Tuffah, sebelah timur Kota Gaza. Mereka mengindikasikan bahwa korban luka menerima perawatan medis yang diperlukan, dan menggambarkan beberapa luka mereka sebagai luka sedang.
Meski gencatan senjata di Gaza mulai berlaku pada 11 Oktober, jumlah korban jiwa di Jalur Gaza terus meningkat hingga mencapai 71.662 jiwa, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Angka ini sejak dimulainya agresi Israel pada Oktober 2023. Setidaknya 171.428 orang lainnya juga terluka.
Jumlah korban ini masih belum lengkap, karena masih banyak korban yang terjebak di bawah reruntuhan, tidak dapat diakses oleh ambulans dan kru penyelamat.
Sumber medis melaporkan bahwa selama 24 jam terakhir, dua orang tewas dan sembilan lainnya terluka akibat tembakan Israel. Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober, jumlah korban jiwa dan luka-luka masing-masing mencapai 488 dan 1.350 orang. Setidaknya 714 jenazah juga telah ditemukan dari bawah reruntuhan.
Seorang bayi berusia dua belas hari juga meninggal di Rumah Sakit Al-Rantisi akibat flu yang parah, sehingga jumlah kematian anak akibat flu sejak awal musim dingin menjadi 11.
Sayap militer Hamas Brigade Izzuddin al-Qassam mengumumkan penemuan jenazah terakhir tentara Israel dan berkas tawanan ditutup sepenuhnya. Hal semestinya membuat fase kedua gencatan senjata berjalan dan penarikan pasukan Israel dimulai.
Dalam lansiran yang diterima Republika, Brigade Al-Qassam menyatakan bahwa mereka telah menyelesaikan berkas tawanan dan jenazah secara transparan sesuai dengan kesepakatan gencatan senjata. Mereka juga menyatakan telah menyerahkan seluruh tawanan, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, dan menyampaikan kepada para mediator semua informasi terkait lokasi jenazah terakhir tentara Israel.
Fakta ini menegaskan bahwa pihak perlawanan telah menyerahkan seluruh berkas tawanan. “Sehingga tidak ada lagi alasan bagi Israel, dan diperlukan tekanan serius untuk memaksanya melaksanakan semua kesepakatan yang telah dicapai melalui para mediator tanpa penundaan,” tulis pernyataan tersebut.
Hamas juga berkomentar mengenai penemuan tawanan Israel terakhir yang tersisa di Gaza, Ran Givili. “Kami akan terus mematuhi semua aspek perjanjian, termasuk memfasilitasi kerja Komite Nasional Administrasi Gaza dan memastikan keberhasilannya”, kata Hamas dalam pernyataannya.
“Kami menyerukan kepada para mediator dan Amerika Serikat untuk memaksa penjajah [Israel] menghentikan pelanggaran perjanjian dan melaksanakan kewajiban yang diwajibkan”.
Tentara Israel juga mengakui mereka telah menemukan tawanan terakhir yang ditahan di Gaza setelah operasi untuk menemukan jenazahnya. “Setelah selesainya proses identifikasi oleh Pusat Kedokteran Forensik Nasional bekerja sama dengan Polisi Israel dan Rabi Militer, perwakilan [militer] memberitahu keluarga mendiang Ran Gvili bahwa jenazahnya telah dikembalikan untuk dimakamkan,” kata juru bicara militer Avichay Adraee.
“Dengan demikian, seluruh sandera yang ditahan di Jalur Gaza telah dipulangkan,” tambahnya.
Aljazirah melaporkan, ini adalah momen penting bagi warga Palestina. Penemuan jenazah tawanan terakhir ini seharusnya memicu banyak perubahan di lapangan.
Israel telah menjanjikan pembukaan perlintasan Rafah, masuknya material rekonstruksi untuk membangun Gaza dan juga penarikan pasukan Israel dari Garis Kuning agar warga Palestina dapat pergi dan dapat melihat rumahnya serta melihat segala sesuatu yang berada di luar garis tersebut.
Sejauh ini, banyak janji dari gencatan senjata tahap pertama yang belum terpenuhi, termasuk kesepakatan untuk mengizinkan 600 truk per hari masuk ke Gaza, padahal sekitar 230 truk masuk setiap hari.
Berkali-kali Israel membenarkan penundaan ini dengan mengatakan bahwa mereka belum memulangkan semua tawanan Israel, namun kini tidak ada pembenaran untuk hal tersebut.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin mengumumkan persetujuannya untuk membuka penyeberangan Rafah di Jalur Gaza selatan "secara terbatas hanya untuk lalu lintas individu, di bawah mekanisme kontrol penuh Israel."
Israel menutup sepenuhnya sisi Palestina Penyeberangan Rafah sejak Mei 2024 sebagai bagian dari ofensif militernya di Jalur Gaza. Sejak Oktober 2023, agresi tersebut telah menewaskan lebih dari 71.400 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak.
Dalam beberapa bulan terakhir, Israel mengaitkan pembukaan kembali sisi Palestina Penyeberangan Rafah dengan pemulangan jenazah sandera terakhirnya dari Gaza.
Penyeberangan Rafah yang menghubungkan Gaza dan Mesir sejatinya dijadwalkan dibuka kembali pada Oktober dalam fase pertama perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober. Namun, Israel disebut tidak mematuhi kesepakatan tersebut.
Dalam rencana terbaru, pintu keluar melalui penyeberangan Rafah tidak akan diperiksa langsung oleh keamanan Israel, melainkan diawasi oleh misi Uni Eropa dan pejabat Palestina, sebuah laporan media mengatakan.
Para pengawas akan “beroperasi atas nama Otoritas Palestina” sementara “pengawasan Israel terhadap proses keluar akan dibatasi hanya pada pemantauan jarak jauh”, kata Radio Tentara Israel.
Namun, “mereka yang memasuki Jalur Gaza kemudian akan dipindahkan melalui koridor khusus yang didirikan di wilayah di bawah kendali Israel, di mana mereka akan menjalani pemeriksaan oleh badan keamanan Israel untuk mencegah penyelundupan barang terlarang atau masuknya orang yang tidak berwenang”, lapornya.
Jumlah orang yang diizinkan untuk menyeberang belum ditentukan, “tetapi perkiraan menunjukkan beberapa ratus orang setiap hari, sesuai dengan kapasitas penyeberangan dan prosedur pemeriksaan”, kata laporan itu.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
