Warga Suriah memblokade jalan raya di Neyrab,pertengahan Maret lalu. Mereka mengkeritisi kerja sama Turki dan Rusia berpatroli di wilayah timur laut negara itu. | AP

Resonansi

11 May 2020, 01:50 WIB

Perseteruan Dua Sepupu yang Akibatnya (Bisa) Mendunia

Setelah sembilan tahun the Arab Spring, Bashar merupakan salah satu penguasa Arab yang masih bertahan.

 

Oleh IKHWANUL KIRAM MASHURI

Di Arab, Ramadhan sering diidentikkan dengan bulan sinetron atau serial. Termasuk di negara-negara yang baru saja dilanda konflik dan menjadi sarang terorisme seperti Suriah. Bahkan, drama-drama seri Suriah yang dikenal sangat imajinatif selalu mendominasi pasar pertelevisian Arab setiap Ramadhan. 

Mewabahnya Covid-19 pun tak menghalangi para pekerja seni Suriah memproduksi sekitar 10 drama seri yang sangat kuat, yang sulit disaingi sinetron-sinetron dari negara Arab lain. Ada drama seri "Aulad Adam" (Anak-Anak Adam), lalu "Souk al Harir" (Pasar Sutra) tentang Damaskus pertengahan abad lalu. Kemudian ada "al Sahir" (The Magician) yang bercerita tentang seorang pria miskin penuh karisma berhasil memasuki dunia elite.

Namun, dari sinetron-sinetron itu, ada satu drama seri yang tidak kalah menarik, yang menghehohkan jagat Suriah, yaitu perseteruan dua sepupu yang pengaruhnya bisa mendunia. Kali ini bukan fiksi, melainkan true story yang sedang berlangsung. Dua aktor utamanya pun bukan sembarangan. Mereka orang-orang penting, bahkan sangat penting di Suriah.

Mereka adalah Bashar Assad (54 tahun) dan Rami Makhlouf (51 tahun). Tentang Bashar Assad, tentu Anda sudah tahu. Ia adalah presiden Suriah sejak 2000 hingga kini. Pada awalnya ia tidak dipersiapkan oleh ayahnya, Hafez Assad, sebagai penerusnya. Adapun yang dipersiapkan malah kakaknya, Basil Assad. Namun, ketika sang kakak meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas pada 1994, Bashar yang berprofesi sebagai dokter mata di London pun dipanggil pulang.

Sebagai persiapan suksesi, ada tiga hal yang dilakukan untuk Bashar. Pertama, membangun dukungan dari militer dan aparat keamanan. Ia pun masuk dinas militer dengan pangkat terakhir kolonel di pasukan elite Garda Republik Suriah. Kedua, citra Bashar dikonsolidasikan dengan publik. Ketiga, ia diperkenalkan dengan mekanisme menjalankan negara. 

 
Kini, setelah sembilan tahun the Arab Spring, Bashar merupakan salah satu penguasa Arab yang masih bertahan. 
 
 

Ketika Hafez Assad meninggal dunia pada 2000, suksesi di Suriah pun berjalan mulus. Konstitusi yang membatasi usia presiden minimal 40 tahun pun dengan mudah diubah jadi 34 tahun, sesuai usia Bashar. 

Bagi Bashar, semua tampaknya berjalan mulus hingga muncul pemberontakan rakyat Arab (the Arab Spring) pada akhir 2010. Perlawanan rakyat ini telah berhasil menumbangkan sejumlah penguasa negara Arab. 

Di Suriah, the Arab Spring muncul dalam bentuk aksi-aksi demonstrasi besar-besaran menentang rezim penguasa. Mereka menuntut reformasi politik, pemulihan hak-hak sipil, serta diakhirinya keadaan darurat. Aksi perlawanan rakyat ini lalu berkembang menjadi konflik bersaudara, lalu muncullah kelompok teroris ISIS. 

Kini, setelah sembilan tahun the Arab Spring, Bashar merupakan salah satu penguasa Arab yang masih bertahan. Ia telah berhasil mengakhiri revolusi rakyat dan perang saudara serta menumpas kelompok teroris ISIS. Hal yang jadi persoalan, kini terdapat banyak kekuatan asing bermain di Suriah: Rusia, Iran, Amerika, Turki, Israel, dan lainnya. Dari semuanya, yang terkuat tentu Rusia. Ia berstatus ‘diundang’. 

Ketika muncul perlawanan rakyat pada 2011, Bashar merasa akhir rezimnya sudah dekat. Ia pun mengundang Presiden Vladimir Putin untuk membantunya, mengingat Rusia, terutama selama era Uni Soviet, merupakan pendukung utama Suriah pada era ayahnya Hafez Assad. Gayung pun bersambut. Putin memang telah lama ingin punya pengaruh di Timur Tengah.

Aktor kedua dalam ‘drama perseteruan dua sepupu’ adalah Rami Makhlouf. Ia sepupu presiden Bashar Assad. Rami merupakan putra Muhammad Makhlouf. Yang terakhir ini adalah saudara laki-laki Anisa Assad, istri Hafez Assad, ayah dari Bashar Assad.

photo
Warga Suriah memblokade jalan raya di Neyrab,pertengahan Maret lalu. Mereka mengkeritisi kerja sama Turki dan Rusia berpatroli di wilayah timur laut negara itu. - (AP)

Rami kini orang terkaya dan tokoh bisnis terkuat di Suriah. Ia pemilik jaringan telepon seluler Syriatel. Menurut Financial Times, gurita bisnisnya meliputi telekomunikasi, minyak dan gas, konstruksi, layanan perbankan, maskapai penerbangan, pariwisata, perdagangan, ekspor-impor, jaringan pertokoan mewah, hingga perusahaan-perusahaan ritel. Saking berpengaruhnya, tidak mungkin orang Suriah atau asing untuk melakukan bisnis di Suriah tanpa persetujuan atau kongsi dengannya. 

Kekayaan dan gurita bisnis Rami diwarisi dari ayahnya, Muhammad Makhlouf. Pada era Presiden Hafez Assad, Muhammad diberi peran sangat penting dalam perekonomian Suriah. Dari seorang pengusaha kecil, ia kemudian mengurus transaksi-transaksi bisnis negara, terutama di bidang minyak dan gas. Hubungan Hafez Assad dengan saudara iparnya ini lalu berkembang menjadi semacam kesepakatan tak tertulis: Muhammad mengurus ekonomi, sementara Hafez Assad fokus menangani keamanan, militer, dan politik negara.   

Di tangan sang anak, bisnis Makhlouf pun makin menggurita. Sekitar 60 persen ekonomi Suriah dikendalikan Rami, yang kekayaannya pada 2010 diperkirakan bernilai sekitar 60 miliar dolar. Kini dari jumlah seluruh angkatan kerja di Suriah, separuhnya bekerja di perusahaan-perusahaan Rami.

Itulah dua aktor utama ‘drama perseteruan dua sepupu’. Cerita perseteruan mulai bisa disaksikan masyarakat Suriah pada awal Ramadhan lalu ketika Rami muncul di dua video secara berturut-turut di akun Instagram-nya. Di situ ia mengadukan kepada Bashar Assad tentang kezaliman dan ketidakadilan yang telah ia alami dari pihak aparat keamanan. Mereka, aparat keamanan, telah menahan sejumlah pimpinan di perusahaan-perusahaannya, menggeledah kantor, dan menginvestigasi aset-asetnya. 

 
Bukan rahasia lagi bahwa para pendukung Presiden Assad, termasuk Rusia, kini dihadapkan pada krisis keuangan akibat turunnya harga minyak dan wabah korona. 
 
 

Dengan menggunakan ayat-ayat Alquran dan pepatah para orang tua, ia tampak mengharap belas kasih dan simpati dari publik. Namun, ia juga memprotes Presiden Assad karena telah memerintahkan atau membiarkan aparat keamanan bertindak semena-mena terhadapnya. Ia pun berjanji untuk membayar semua pajak dan kewajiban-kewajiban lain yang harus dibayarnya. Ia juga mengingatkan betapa besar peran dia dalam membantu Presiden Assad dalam memadamkan perlawanan oposisi, menumpas terorisme, dan memberi kehidupan kepada orang-orang miskin.

Bagi masyarakat, kemunculan Rami Makhlouf dalam dua video di bulan Ramadhan ini tentu sangat menarik. Kemunculan yang menandakan perseteruan antara presiden yang punya kuasa dan pengusaha yang menguasai harta. Berbagai rumor pun berseliweran. 

Ada yang menyebut perseteruan itu masalah keluarga. Yakni sang presiden ingin mengalihkan segala privilege ekonomi negara kepada keluarga istrinya, sebagaimana dilakukan ayahnya dulu. Ada pula yang berpandangan Rami terlalu maruk: banyak mengambil, sedikit memberikan. Ada pula yang menyebut, perseteruan itu berlatar belakang politik dan perebutan kekuasaan.

Bagi orang luar perseteruan itu tidak penting benar kalau hanya masalah keluarga atau finansial. Semuanya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Misalnya, terkait tuntutan Pemerintah Suriah agar Sami Makhlouf membayar 200 juta dolar. Namun, bila perseteruan itu adalah masalah politik seperti banyak pengamat sampaikan, apa yang terjadi di Suriah menjadi penting. Apalagi, posisi geografis Suriah sangat strategis di Timur Tengah.

Masalah politik itu, bila perseteruan antara presiden dan pebisnis yang punya uang menggambarkan kekuatan asing yang berada di belakang mereka. Bila hal itu benar, perseteruan itu tentu bukan masalah keluarga, melainkan masalah kawasan dan negara-negara besar.

Bukan rahasia lagi bahwa para pendukung Presiden Assad, termasuk Rusia, kini dihadapkan pada krisis keuangan akibat turunnya harga minyak dan wabah korona. Presiden Putin menuntut pembiayaan operasional keberadaan militernya selama di Suriah. Pun untuk membangun kembali negara yang telah porak poranda itu. Putin beberapa kali juga telah berbicara tentang pentingnya pergantian kekuasaan di Suriah.  ';

×