Staf medis berdoa usai mengubur peti mati lelaki berusia 72 tahun yang meninggal karena Covid-19 di Tangmarg, sekitar 30 kilometer utara Srinagar, Kashmir, India, Sabtu (25/4). Perdana Menteri India Modi pada 14 April 2020 mengumumkan bahwa lockdown ata | EPA-EFE/FAROOQ KHAN

Opini

Doa dan Efek Kesehatan

Salah satu yang terimbas positif dari pandemi ini adalah peranan doa.

Oleh TAUFIQ PASIAK, Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial LPPM UNSRAT Manado

Pandemi Covid-19 berefek pada kehidupan multidimensial manusia, mengubah paradigma berpikir individu hingga tingkat negara. Pandemi ini mengubah kondisi politik, sosial budaya, ekonomi, bahkan kondisi psikologis.

Di India, seorang ayah berusia 50 tahun bunuh diri setelah didiagnosis positif Covid-19.  Dalam masa karantina ia melempari keluarga dan temannya dengan batu ketika mencoba mendekatinya. Ketakutan dan kepanikannya memaksa ia mengakhiri hidup dengan menggantung diri di pohon (Asian Journal of Psychiatry. 49 (2020)).

Apa yang pernah disebut ahli filsafat sains, Thomas Kuhn, sebagai revolusi paradigma, kini manusia bisa merasakannya langsung, cepat, dan sistematis. Pandemi ini mengubah cara berpikir manusia dalam empat bulan saja sejak pertama muncul di Wuhan akhir Desember 2019.

Virus mengubah pendapat ilmiah yang pernah disampaikan ahli psikologi sosial, Susan Parker tentang village effect, bahwa kunci usia panjang adalah hubungan sosial secara fisik dan emosional yang diwujudkan dengan saling mengunjungi dan bertemu secara fisik.

Virus juga mengubah pendapat yang berpuluh tahun diyakini sebagai salah satu cara melepaskan hormon keterikatan positif, hormon oksitoksin, ketika berpelukan. Kini, bertemu dalam jarak dua meter dianggap sebagai bahasa tubuh positif atas penjarakan sosial.

 
Pendekatan medis tidak lagi menjadi satu-satunya cara menghadapi virus korona ini. Salah satu yang terimbas positif dari pandemi ini adalah peranan doa.
 
   

Bertentangan dengan yang diajarkan ilmu komunikasi soal kedekatan fisik bahwa jarak 1-2 meter adalah tanda nonverbal positif sebagai ruang personal dan ruang intim, kini hal itu akan memicu bagian otak bernama amigdala menghasilkan alarm terancam dan panik.

Pendekatan medis tidak lagi menjadi satu-satunya cara menghadapi virus korona ini. Salah satu yang terimbas positif dari pandemi ini adalah peranan doa. Meskipun dalam soal persepsi keberadaan virus korona telah memecah penganut agama menjadi dua kelompok.

Pertama, kelompok yang meyakini virus ini sebagai bala tentara Ilahi dan lainnya meyakini sebagai virus belaka. Namun, doa tetap menjadi cara manusia di kedua kelompok itu untuk melepaskan kepenatan hati dan pikiran, juga cara berkomunikasi dengan Ilahi.

Pandemi ini telah membawa doa pada tempat yang semestinya. Situs informasi Islam (https://theislamicinformation.com/) memuat seri doa yang mengacu pada hadis Nabi nomor 1.556 dalam Sunan Abu Daud, doa yang mereka sebut dua for coronavirus.

photo
Bhikkhu Thailand mengenakan masker pelindung saat berdoa di balik tirai plastik yang dibuat untuk mengurangi risiko infeksi virus korona dan Covid-19 selama perayaan Songkran di Wat Samian Nari di Bangkok, Thailand, Selasa (14/4). Festival Songkran yang jatuh setiap tanggal 13 April serta dirayakan selama tiga hari sebagai perayaan Tahun Baru tradisional Thailand tersebut dibatalkan secara nasional untuk mencegah penyebaran penyakit Covid-19 - (EPA-EFE/NARONG SANGNAK)

Surat kabar daring, the Atlantic pada 19 April 2020, memuat doa James Parker salah satu staf penulis yang disebut the Coronavirus Prayer. Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi umat Katolik,  mengumandangkan doa, prayer from protection to coronavirus.

Efek kekuatan doa menghadapi virus tidak saja tumbuh di kalangan religius dan penganut agama.

Sejumlah dokter yang tergabung dalam Covid Prayer Study Group mendapat sponsor dari Kansas City Heart Rhythm Research Foundation untuk melakukan penelitian yang melibatkan peneliti dan responden dari seluruh dunia, dalam the Covid Prayer Study.

Riset multisenter yang sedang berlangsung ini menggunakan desain uji acak terkendali. Uji ini adalah desain yang dianggap bukti ilmiah tepercaya dalam riset kesehatan.

Agar efek doa betul-betul objektif, peneliti menggunakan skor APACHE-II (acute physiology and chronic health enquiry) dan SOFA (sequential organ failure assessment) untuk menilai kondisi pasien selama di ICU serta lama dirawat dan penggunaan ventilator dan vasopressor.

Riset ini menarik, selain karena peneliti menyiapkan draf doa, pasien tidak tahu jika didoakan, juga doa yang diteliti adalah doa intercessory atau non local healing (doa yang dipanjatkan orang lain).

Pasien perlakuan menerima perawatan standar ICU dan doa universal pelbagai denominasi. Sedangkan, pasien kontrol hanya menerima perawatan standar ICU.

Riset doa intercessory oleh Harris WS dkk (1999) dengan desain uji acak terkendali pada 990 pasien yang dirawat di ruang perawatan jantung Mid America Heart Institute (MAHI) menemukan fakta menarik.

 
Ini kemajuan bermakna karena berhasil menunjukkan, doa berperan penting dalam perawatan kesehatan.
 
 

Sebanyak  466 pasien perlakuan yang didoakan menunjukkan skor MAHI-CCU lebih rendah daripada 526 pasien kontrol. Skor MAHI-CCU meliputi skor 1 di mana pasien membutuhkan obat antinyeri, antibiotik, arterial monitoring, atau kateterisasi hingga skor 5 (henti jantung) dan skor 6 (meninggal).

Berdasarkan hasil terukur ini, peneliti merekomendasikan doa intercessory bisa menjadi tambahan efektif bagi perawatan medis standar.

Meskipun doa intercessory telah menunjukkan efek positif bagi kesehatan, tetapi review sistematik atas sejumlah jurnal dan pustaka belum dapat membuat kesimpulan alih-alih menolak penggunaan doa ini dalam praktis medis.

 
photo
Romo berdoa ketika mengikuti Ibadah Jumat Agung di Gereja Katedral Surabaya, Jawa Timur, Jumat (10/4/). Ibadah untuk mengenang sengsara dan wafatnya Yesus tersebut disiarkan secara langsung melalui dalam jaringan agar umat Katolik melakukan ibadah dari rumahnya masing-masing guna mencegah penyebaran Covid-19 - (ANTARAFOTO)

Seperti dicatat Roberts L dkk (1998) tak adanya penolakan terhadap doa jenis ini boleh jadi karena di luar pemahaman ilmiah saat ini. Beberapa review sistematis tak menunjukkan penolakan pada doa jenis ini untuk dipakai dalam perawatan medis (Hodge, 2007).

Ini kemajuan bermakna karena berhasil menunjukkan, doa berperan penting dalam perawatan kesehatan. Karena itu, tidak berlebihan jika perawatan medis pasien Covid-19 dapat melibatkan penggunaan doa melengkapi perawatan medis yang diberikan.

Daripada para rohaniawan berseteru perihal virus SarCov-2 ini adalah tentara Tuhan atau virus biasa, jauh lebih efektif dan bermanfaat jika mereka diinstruksikan untuk berdoa menurut agama masing-masing. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat