Petugas melintas di depan deretan pesawat Garuda Indonesia Boing 777 - 300ER dan 747 - 400 yang nantinya akan digunakan sebagai armada penerbangan pada musim haji 2018 atau 1439 H, di Hanggar 4 GMF Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (12/7). | ANTARA FOTO

Ekonomi

30 Apr 2020, 11:06 WIB

Garuda Indonesia Butuh Bantuan Perbankan

Industri penerbangan di Indonesia secara keseluruhan memiliki dampak yang drastis dari kondisi pandemi virus korona.

JAKARTA — PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk membutuhkan relaksasi keuangan. Terlebih, saat ini bisnis penerbangan sangat terdampak karena pandemi Covid-19. 

“Kami ada sedikit masalah. Mungkin publik juga tahu kalau kami ada (utang) jatuh tempo sekitar 500 juta dolar AS. Sehingga kami butuh bantuan keuangan relaksasi dari perbankan,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam rapat dengar pendapat secara virtual bersama Komisi VI DPR, Rabu (29/4).

Seperti diberitakan sebelumnya, jatuh tempo maskapai penerbangan pelat merah tersebut pada Mei 2020. Total utang tersebut mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp 6,82 triliun. 

Pandemi Covid-19 menjadi pukulan terbesar bagi Garuda Indonesia. Padahal, manajemen sudah merencanakan pada awal 2020 akan melanjutkan hasil positif yang sudah didapatkan pada 2019, tapi terhenti karena pandemi tersebut. 

Meskipun begitu, Irfan memastikan sudah melakukan sejumlah upaya agar dapat bertahan. “Manajemen Garuda Indonesia sudah memprediksi andaikan situasi ini berkelanjutan sampai Desember 2020,” ujar Irfan. 

Pertama, Garuda Indonesia sudah menunda pembayaran kepada pihak ketiga karena memiliki kewajiban yang cukup besar. Sebab, Irfan mengatakan, jika mengalami masalah terhadap Garuda Indonesia, juga akan memberikan dampak kepada anak usaha Garuda Indonesia, seperti GMF Aero Asia dan lainnya. 

“Ini magnitudo total hampir 25 ribu karyawan sehingga kami harus pastikan Garuda Indonesia tetap berlangsung sehingga kami tunda pembayaran kepada pihak ketiga,” ujar Irfan.  

Pihaknya menyadari saat ini tengah menghadapi penurunan penerbangan yang sangat drastis. Bahkan hal tersebut sudah terjadi sejak kuartal pertama hingga Mei 2020.

“Kita lihat sampai bulan Mei ini, dan kita akan melihat penurunan akan drastis nanti menjelang Lebaran,” kata Irfan.

Pada dasarnya, industri penerbangan di Indonesia secara keseluruhan memiliki dampak yang drastis dari kondisi pandemi virus korona atau Covid-19. Sebab, bisnis industri penerbangan berbasis mobilisasi. 

“Ketika mobilisasi itu menjadi kegiatan yang tidak disukai (saat ini ada pembatasan transportasi karena larangan mudik) tentu saja aktivitas kita akan berdampak secara langsung dan signifikan,” jelas Irfan. 

Pada kuartal pertama 2020, Garuda Indonesia harus menghadapi naik turunnya jumlah penerbangan yang dilayani. Pada kuartal pertama 2020 sangat dipengaruhi dampaknya oleh penutupan penerbangan ke Cina.

“Pada waktu itu kita ada sekitar 13 penerbangan dalam seminggu ke Cina, kita tutup secara drastis,” tutur Irfan.

Penurunan penerbangan terus turun secara drastis setelah pemerintah mengeluarkan regulasi larangan mudik. Kementerian Perhubungan saat ini sudah menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Virus Corona (Covid-19).

Garuda masih terus menerbangi rute seperti ke Amsterdam, Jepang, Korea Selatan, dan Australia hingga hari ini (29/4). Hanya saja, masih akan terus memantau dari waktu ke waktu terkait frekuensinya dan rutenya.

“Sehingga kita upayakan khususnya untuk internasional kita terbang setiap minggu sekali. Sementara untuk domestik kita pastikan tempat-tempat utama seperti Surabaya, Medan, Makassar bisa satu hari sekali,” jelas Irfan.

Garuda juga memaksimalkan penerbangan kargo di tengah merosotnya penurunan penumpang. Direktur Utama Garuda Indonesia mengatakan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Virus Corona (Covid-19) memaksa maskapai menghentikan sementara hampir seluruh penerbangan domestik.

“Kami tidak punya penerbangan khusus kargo. Kami langsung ubah beberapa rute langsung menjadi rute kargo,” kata Irfan dalam rapat dengan pendapat secara virtual bersama Komisi VI DPR, Rabu (29/4).

Dia menjelaskan saat ini, Garuda sudah mengoperasikan 26 pesawat khusus kargo untuk rute dalam dan luar negeri. Irfan besyukur meski Permenhub Nomor 25 melarang penerbangan penumpang namun Garuda cepat melakukan perubahan bisnis menjadi berbasis kargo.

“Mudah-mudahan kami bisa hidupkan kembali penerbangan penumpang terbatas menunggu petunjuk pelaksanaan dari Kementerian Perhubungan,” ujar Irfan.

Garuda Indonesia sudah mendapatkan izin untuk memanfaatkan pesawat penumpang menjadi pesawat kargo. Kargo yang diangkut diletakan di atas kursi penumpang pesawat.

“Ada asumsi dasar di setiap tiga kursi bisa ditaruh beban sebesar 210 kilogram dengan asusmi satu kursi diisi orang dengan berat badan 75 kilogram,” tutur Irfan.

Dengan begitu, dapat memaksimalkan pengiriman kargo yang selama ini mengikuti jalur penumpang. Dia mengatakan, Garuda sudah memiliki banyak jawdal kargo dari jakarta ke sejumlah daerah. 

“Ini sesuai dengan permintaan untuk memastikan layanan barang dan logistik masih terus berlangsung,” ungkap Irfan.

Menyoal utang, sebelumnya Komisaris Independen Garuda Indonesia Yenny Wahid mengatakan, komisaris perseroan akan memberikan batasan-batasan untuk para direksi menyelesaikan persoalan utang. “Kalau mau melakukan tentu harus memastikan yang lain juga. Sebab, cash flow pasti akan terhambat kalau semua untuk bayar utang,” ujar Yenny. 

Untuk itu, Yenny menyarankan direksi Garuda Indonesia harus mencari sumber pendanaan baru untuk membayar utang jatuh tempo. Namun, kata Yenny, Garuda Indonesia harus melakukan hal tersebut tanpa harus menerbitkan utang baru.

Menteri BUMN Erick Thohir juga sempat menyinggung seputar utang Garuda Indonesia. "Garuda Indonesia saat ini dalam tekanan yang luar biasa karena utangnya sudah jatuh tempo. Dan ini yang kita pastikan kita akan restruktur sudah ada jalan keluar, supaya kita bisa sehat,” katanya, beberapa waktu lalu.

Erick mengatakan, untuk membenahi Garuda Indonesia, ada sejumlah upaya yang akan dilakukan Kementerian BUMN. Selain merestrukturisasi utang, cara yang telah ditempuh ialah membersihkan maskapai itu sendiri. 

Tak hanya itu, Erick juga bakal menutup beberapa anak usaha Garuda Indonesia, termasuk yang jadi bahan pembicaraan publik, PT Garuda Tauberes Indonesia.


×