Warga Palestina berbelanja di pasar sebelum bulan suci Ramadhan di Kota Gaza, Selasa (21/4). | EPA-EFE/MOHAMMED SABER

Perencanaan

26 Apr 2020, 08:06 WIB

Mandiri Khidmati Ramadhan

Masyarakat disarankan tetap berbelanja kebutuhan selama tidak berlebihan selama Ramadhan.

 

 

Bulan suci Ramadhan 1441 Hijriyah (tahun 2020) tampaknya menjadi bulan puasa dengan tantangan besar bagi Muslim di Indonesia juga seluruh dunia. Wabah virus korona baru (Covid-19) membuat semua orang harus menjaga diri sehingga umat Islam menjalani Ramadhan ini dengan beberapa perubahan, seperti tanpa Tarawih di masjid, tanpa mudik, dan sejenisnya.

Menurut perencana keuangan Ahmad Gozali, kondisi ekonomi yang tak menentu bisa berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat selama Ramadhan, bahkan hari raya. Kondisi ini tecermin pada surveinya di akun Twitter tentang seberapa penting membeli baju Lebaran saat pandemi.

Hasil dari survei tersebut menemukan, 77 persen responden memilih tidak akan membeli baju Lebaran, 19 persen responden mengaku akan belanja tapi dikurangi, dan hanya empat persen responden bersikukuh membeli baju Lebaran saat pandemi. "Ini menunjukkan bahwa secara tidak langsung, pandemi telah mendidik masyarakat untuk lebih bijak membelanjakan keperluannya selama Ramadhan," kata dia saat dihubungi Republika, beberapa waktu lalu.

 
Pandemi telah mendidik masyarakat untuk lebih bijak membelanjakan keperluannya selama Ramadhan
AHMAD GOZALI, Perencana Keuangan
 

 

Saat mewabahnya Covid-19, kata Ahmad, pola belanja masyarakat di Indonesia jelas berubah secara signifikan. Masyarakat memilih membeli kebutuhan prioritas. "Ada kekhawatiran apakah penghasilannya memadai atau tidak untuk bulan-bulan berikutnya jika ternyata dampaknya panjang," ungkap Ahmad.

Meski begitu, dia menyarankan, masyarakat tetap berbelanja kebutuhan Lebaran untuk membantu mendorong ekonomi secara makro. Tapi, sebagian alokasi belanja Ramadhan dan hari raya diimbaunya untuk disedekahkan kepada mereka yang tak bisa merayakan karena peng hasilannya terdampak pandemi.

Ustaz Sholeh Mahmoed atau akrab disapa Solmed menjelaskan bahwa agama Islam sangat mementingkan keseimbangan kebutuhan fisik dan nonfisik yang dilandaskan pada nilai- nilai syariah. Karena itu, sikap berlebihan tak disarankan, termasuk untuk barang yang dikonsumsi. "Jadi hemat dalam Islam itu membeli sesuai kebutuhan. Tapi kalau yang keinginan, tentu masih bisa ditunda," kata dia saat dihubungi Republika.

 
Hemat dalam Islam itu membeli sesuai kebutuhan.
USTAZ SOLMED
 

Di tengah pandemi Covid-19 ini, tambah dia, banyak orang tak mampu membeli kebutuhannya. Sebab itulah, mereka yang mampu dianjurkan berbagi, bersedekah, berzakat, maupun infak untuk membantu yang kurang mampu. "Mari kita berdoa kepada Allah agar kita semua bisa beraktivitas kembali," kata Ustaz Solmed.

Menjalani Ramadhan di tengah pandemi juga berpotensi memicu stres, cemas, dan masalah mental lainnya. Untuk mencegahnya, psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Rose Mini Agoes Salim menyarankan agar kita realistis dengan keadaan. "Kalau standar seperti tahun lalu ya kita stres. Kalau kita lebih realistis dan membuat standar bahagia yang baru, stres dapat dicegah," kata Rose.

Rose menekankan agar anak-anak pun memahami hal ini. Jadi, mereka nanti paham bahwa mereka tak lagi bisa Tarawih atau mengaji di masjid. Selain itu, kondisi ini tak jarang membuat orang mengeluh karena banyak kenikmatan yang luput disyukuri. "Kalau saya di rumah selalu menuliskan hal-hal positif, misalnya, bisa main sama cucu, bisa mengajar dengan baju santai."

Untuk aktivitas fisik selama berpuasa, tentu tetap perlu dilakukan. Menurut pakar kesehatan dan kebugaran Jansen Ongko, ada dua waktu tepat untuk berolahraga selama puasa, yaitu menjelang berbuka dan sesaat setelah berbuka puasa. Menjelang berbuka ini tepat karena saat lelah kita bisa segera minum atau makan. Tidak dianjurkan olahraga berat karena lagi puasa.

 
Waktu tepat untuk berolahraga selama puasa, yaitu menjelang berbuka dan sesaat setelah berbuka puasa.
ROSE MINI AGOES SALIM, Psikolog dari Universitas Indonesia
 

Jika ingin olahraga intensitas berat, sambungnya, bisa dilakukan sesaat setelah berbuka puasa. Syaratnya adalah tidak makan berat dulu agar tidak mual saat berolahraga. Cukup minum, makan kurma atau buah-buahan. Berolahraga bisa dilakukan di rumah, seperti lari di tempat, lompat tinggi, yoga, zumba, dan sejenisnya lewat kelas daring.

photo
Instruktur zumba memimpin latihan secara daring di sebuah tempat kebugaran di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (11/4/2020). Kelas Zumba daring tersebut diharapkan dapat memfasilitasi masyarakat untuk berolahraga di rumah masing-masing guna mencegah penyebaran virus Covid-19 - (Zabur Karuru/ANTARA FOTO)


×