Ilustrasi pangan beras | SYIFA YULINNAS/ANTARA FOTO

Ekonomi

22 Apr 2020, 01:14 WIB

Jokowi: Awasi Stok Pangan

Penurunan permintaan pangan di pasar tidak dibarengi dengan penurunan harga.

 

JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Satuan Tugas (Satgas) Pangan mengawasi secara ketat ketersediaan bahan pokok di daerah. Jokowi juga menginstruksikan Satgas Pangan berkoordinasi dengan kepolisian di daerah untuk memastikan seluruh rangkaian rantai pasok berjalan lancar dan aman. Langkah ini dilakukan untuk menghindari lonjakan harga pangan di tengah pandemi Covid-19 dan momentum Ramadhan.

"Saya juga meminta Satgas Pangan berkoordinasi dengan kepolisian untuk awasi rantai pasok dan stok pangan," kata Jokowi dalam pembukaan rapat terbatas, Selasa (21/4).

Kepala Negara juga meminta Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk memastikan perkembangan harga bahan pokok di lapangan. Menjelang Ramadhan kali ini, Jokowi mengaku justru mendapat laporan kenaikan sejumlah bahan pokok, seperti beras dan gula. Harga gula yang sudah melonjak dalam dua bulan terakhir justru kembali merangkak naik ke angka Rp 19 ribu per kg.

"Harga gula tidak bergerak sama sekali, justru naik ke Rp 19 ribu. Bawang putih, bawang bombai juga belum turun. Saya tidak tahu ini dari Kemendag apakah sudah melihat lapangannya bahwa ini belum bergerak (turun)," ujarnya.

Jokowi mencermati terdapat sejumlah harga bahan pangan yang justru mengalami kenaikan pada pekan kedua April atau sepekan menjelang Ramadhan. Beberapa bahan pokok yang harganya naik, di antaranya daging sapi, cabai rawit, cabai merah, bawang merah, bawang putih, dan gula. Sementara bahan pokok yang mengalami penurunan harga adalah daging ayam.

Mengutip Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga rata-rata nasional bawang merah dipatok di angka Rp 43.800 per kg, naik 0,11 persen. Sementara itu, cabai merah besar dijual dengan harga rata-rata Rp 32.500 per kg, naik 0,62 persen. 

Sementara, gula pasir dijual dengan harga rata-rata nasional Rp 18.550 per kg. Di beberapa daerah, harga gula pasir tembus Rp 19 ribu per kg. Di Kalimantan Tengah, misalnya, gula pasir lokal dijual dengan harga Rp 20.500 per kg.

Jokowi juga mencatat, harga gabah kering di level petani justru turun 5 persen. Namun, di sisi lain, ujarnya, harga beras di pasar malah mengalami kenaikan 0,4 persen. Padahal, idealnya penurunan harga gabah kering giling akan diikuti penurunan harga beras di pasar.

"Ini ada apa? Tolong dilihat betul lapangannya. Lapangannya dicek betul, ini pasti ada masalah. Ini petani tidak dapat untung, harga beras naik, masyarakat dirugikan. Ini yang untung siapa? Dicari," kata Jokowi kepada jajarannya.

photo
Pekerja menyiapkan gula pasir untuk disalurkan ke operasi pasar dan penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Gudang Perum Bulog Sub Divisi Regional Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Jumat (3/4/2020). - (FAUZAN/ANTARA FOTO)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini, pasokan bahan pangan akan terjaga hingga beberapa bulan ke depan. Dia mengatakan, dalam tiga bulan ke depan juga akan terjadi panen raya beras, jagung, dan bawang merah. Sehingga, stoknya diharapkan mampu menutup kebutuhan domestik. 

"Jadi, harapannya stok beras jelang Lebaran mencukupi. Demikian dengan jagung, stok cukup. Bawang merah menjelang panen di berbagai daerah, mulai Brebes, Agam," kata Airlangga.

Kecukupan pasokan bahan pangan juga ditambah masuknya beberapa komoditas impor, seperti bawang putih dan gula pasir. Kedua komoditas tersebut diyakini akan masuk ke pasar Indonesia mulai awal Mei 2020 nanti. Diharapkan, harga jual bawang putih dan gula pasir juga ikut terkerek turun setelah barang impor mulai membanjiri pasar. 

"Untuk bawang putih, pemerintah sudah berikan izin masuk impor dan ini akan masuk dalam jumlah cukup jelang Lebaran. Gula pasir akan masuk pada Mei ke depan," katanya. 

Sementara, Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyatakan terdapat penurunan permintaan signifikan terhadap berbagai komoditas pangan di pasar tradisional. Situasi itu merupakan dampak dari wabah Covid-19 yang membuat masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. 

Ketua Umum Ikappi Abdullah Mansuri menuturkan, penurunan permintaan mencapai 50 persen, khususnya untuk pasar-pasar di daerah Jabodetabek yang tengah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Meski demikian, penurunan permintaan tidak diikuti dengan penurunan harga. 

"Demand sedang turun, tapi harga stabil tinggi. Tidak mungkin juga bagi pedagang untuk menurunkan harga sampai di bawah modalnya, tetap pedagang kejar untung," kata Mansuri.

Kendati demikian, Mansuri optimistis pasar tradisional akan tetap menjadi pilihan utama berbelanja, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah. Dia juga meyakini, tingkat permintaan masih akan meningkat seiring masuknya Ramadhan hingga Idul Fitri mendatang.


×