Sastra
Asmaraloka Sebuah Negara
Puisi-puisi Aviaska Azizah
Oleh AVIASKA AZIZAH
Merdeka dan Cicilan Bermain Mata
Memeras sudut pandang historis
Membungkus etika kelas pekerja
Meninggalkan adidaya revolusi
Pertiwi dengan gemerlap romansa
Keringat memadati dinginnya lantai kantor
Detik yang memakan degup jantung
Mata melirik hutang kebahagiaan
Bersembunyi di pelukan jendela
Banting tulang merawat cicilan!
Libur yang melebur
Tawa sederhana dirangkum tatapan
Melintasi harmonisasi yang kering kerontang
Upah jatuh setiap hari
Angsuran merengek di pojokan
Mimpi menggerogoti deadline
Hati diecer di akhir bulan
Lampu neon yang tersungkur
Mencekik isi kepala
Terkubur dalam tumpukan berkas
Merdeka mana yang aku kencani?
Tangerang Selatan, 6 Oktober 2026
***
Menyaksikan Rekaman Riwayat yang Pudar
Proyektor menghantam riwayat
Menghadap teriakan merdeka
Duduk gemetar menatap potret historis
Algoritma yang bermekaran
Menikung gimik kabut atma
Berdansa di rumah warga
Barikade basundara
Studio yang meringis
81 pijakan bergema
Luruh di ruang kedap suara
Formasi pergerakan petarung
Merobek kulit dan darah
Tatkala gigi tanggal menyapa
Pahlawan menemukan pengeras suara
Republik adalah melodi
Pemilik simfoni Pancasila
Manuskripnya harum
Menghentak proklamasi
Derap massa mulai dinyanyikan
Mencatat penjajahan
Bambu runcing mengejar mikrofon
Lantang sepanjang viewers
Merapatkan kolom komentar
Membungkam barisan generasi
Rekaman menjadi mahkota
Infrastruktur bangsa dalam unggahan
Berkibar di pelosok bagaskara
Tayangan diminta klarifikasi!
Tangerang Selatan, 6 Oktober 2026
***
Makian Meja Perundingan
Hening menyapa kolong meja
Nostalgia mewarnai diskusi
Kalut diterkam narasi
Nada berdenting di bawah gertakan
Suara meninggalkan keputusannya
Relung terisi ironi
Akal dihinggapi derita
“Lepaskan saja semaumu!”
Menggila di peraduan jabat tangan
Siapa lagi yang merajuk?
Romansa ini mati sejak lama
Memaksa menerobos cakrawala
Memperebutkan antariksa borjuasi
Komoditas nelangsa
Bola mata yang dilumat fana
Kekasih menyiramnya dengan luka
Mencabik oligarki
Batin tersadar,
Menghiraukan angin yang lalu lalang
Lewat seribu makian
Intelegensi terkubur diam-diam
Tangerang Selatan, 6 Oktober 2026
***
Menggambar Kesenjangan
Angan tertusuk dialektika
Kertas suci potret sosial
Bergeming dan bercabang
Tumpang tindih menggerogoti diri
Putihnya meronta
Dipermainkan kuasnya sebagai penguasa
Percikan warna fana
Menuangkan ego
Membenahi darah yang banjir
Di sekitar gradasi ekploitasi
Luka merintih di pelataran riwayat
Langit terlantar di kolong jembatan
Panorama menutup atributnya
Penerangan menarik propaganda
Pikiran berpusat pada goresan
Seabstrak apa yang tersembunyi di dalamnya?
Jiwa terhenyak meratapi banjir air mata,
Rembulan berlagak menyaksikan
“Dilema mengejek kontradiksinya!”
Ukiran usang yang menertawaiku semalaman
Tangerang Selatan, 6 Oktober 2026
***
Asmaraloka Sebuah Negara
Bertamu di aksara oposisi
Terhidang aneka aroma rasa
Melirik dan memantau hegemoni
“Istana milik riwayat!”
Seperti tertimpa raksasa di telinga
Hati berdebar singkat
“Lalu kau sisakan apa untuk parlemen?”
Suaraku sebagai dinding ruangan ini
Menggeser sendu
Merona pada jingganya
Rindu berkelana di sepanjang ideologi
Waktu bergeming
Kami digunjingkan bentala
Pelataran berbicara
Pikiran terlantar
Titisan membayangi amanat
Tangerang Selatan, 4 Juni 2026
***
Aviaska Azizah, M.Pd seorang guru yang senang menulis sejak SMP, melawan waktu dan
bergulat dengan kata. Konsentrasi keilmuan di bidang MIPA. Capricorn girls, anak yatim yang baru ditinggal ayahnya di 2025. Bisa disapa di akun Instagram: Aviaskachaan.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
