Cerpen Langit Merah Muda, Penyihir Mengudara | Daan Yahya/Republika

Sastra

Langit Merah Muda, Penyihir Mengudara

Cerpen Gagah Pranaja Sirat

Oleh GAGAH PRANAJA SIRAT

Mereka bilang seharusnya aku membenci ibuku, bahkan membunuhnya jika perlu. Sebab, ibu pernah membuangku ke sungai saat masih berlumur. Tetapi, orang yang sempat buang tinja lalu melihat gerak-geriknya itu segera berteriak, menyebut ibu sebagai pembunuh. Rumor beredar. Tujuh hari tujuh malam, ibu tidak keluar.

“Seperti tadi,” katanya, “mereka akan membunuh ibu.”

“Karena?”

“Karena mereka mengira ibu seorang pembunuh.”

Setelahnya, ibu mulai menapakkan kakinya di atas tanah, memperlihatkan lekuk-lekuk rambutnya kepada para mata, sembari menggendongku—pergi ke arah utara. Terik matahari. Angin gersang. Peluh-peluh ibu bercucuran tatkala kata ‘pembunuh’ dilontarkan seiring tapaknya melangkah. Pula, semakin bercucuran tatkala matanya menghadap mata seorang perempuan tua, yang memberondongnya berbagai pertanyaan, dengan air muka berkulit murka, di sebuah rumah yang menjadi tujuannya:

“Saya tidak akan menerima anak ini.”

“Saya akan menanggung semuanya.”

“Pergi!”

Luntang-lantung, ibu pergi dari satu tempat menuju tempat lain. Kala itu, ia pernah mencoba meninggalkanku di bawah rimbun pohon beringin. Tetapi, lagi-lagi, ada seseorang yang memergokinya. Kali ini, tukang sayur yang tubuhnya beraroma tengik memelototkan mata, sampai meludahi tengkuk ibu. 

Akhirnya, untuk yang kedua kalinya, ibu datang ke sungai itu, merayap-rayap. Padahal, ia bukan seekor cicak. Ketika hujan masih melanda dan tentu tidak bakal ada orang yang tengah buang tinja, ibu menaruh tubuh mungilku di pinggir sungai, seperti yang mereka ceritakan. Kurang lebih, parasku di samping aliran air dan lumutan itu tak ubahnya telur ular kadut. Serangga-serangga sempat menjelma selimut. Merah-merah. Nanah. Luka. Kembali, aku ditemukan oleh orang berbeda yang tengah buang tinja.

Mereka bilang, aku harus menimpuk ibu menggunakan batu, tetapi ternyata mereka sudah melakukannya lebih dulu:

“Perempuan jahannam!”

Satu bulan. Tiga bulan. Kami hidup dalam gelap. Nenek tidak membolehkan aku untuk membuka pintu dan menghirup embun, sedangkan ibu memang tidak mau. Padahal, dulu ia yang paling pertama bangun, lalu melintasi ayam-ayam di depan rumah kami yang tengah siap-siap berkokok; menggendongku. Dua tahun. Lima tahun. Nenek masih tidak membolehkan pintu luar itu terbuka oleh tanganku—kecuali jendela yang berdebu—hingga kemudian waktu, aku jatuh sakit. Kukira, ini tersebab aku jarang mendapatkan cahaya matahari, tetapi tidak. Malam itu, ibu membanting pintu luar, terengah-engah, keringat mengucur, selepas ujarnya hendak membelikanku obat. Pun, malam itu, untuk pertama kalinya aku bertanya pada ibu.

“Mereka terus memburu ibu,” balasnya, “sebab ibu seorang penyihir.”

Aku tercenung.

“Juga bapakmu. Tetapi ia lebih dulu mengudara dibanding ibu, ke surga. Pakai sapu ijuk.”

“Untuk apa penyihir ke surga?”

“Membawa obat untukmu. Obat yang lebih ampuh daripada obat-obat ini. Obat yang sekali telan, semua penyakit hilang. Namun, sepertinya bapakmu lupa. Jadilah ia tidak pulang-pulang dari surga.” Ibu tersenyum, lekas menyeka keringatnya. “Suatu hari, ibu akan menjemputnya.”

Ibu bilang, penyihir bisa mengudara jika langit berubah warna menjadi merah muda. Semasa hamparan itu terbit, melayang-layang di atas kepala, maka ibu akan langsung menemui bapak, menyuruhnya pulang; mengudara. “Pakai gagang panci,” katanya.

Di umurku yang ketujuh, aku tidak lagi bersarang dalam gelap, melainkan kelam. Aku ingat betul ketika pertama kalinya kakiku menapak di pelataran, orang-orang di sebelahku—yang sedang berbelanja sayur—seketika melirikku dengan tatapan seruncing pisau, air muka sedatar talenan. Tidak hanya orang-orang dewasa itu, tapi juga anak-anak yang bermain bola depan rumahku. Menghindari, berpaling, dan masam; itu yang senantiasa kuhadapi sebab aku anak penyihir. Jadilah di rumah, aku bertemankan buku. Kendati sampai saat ini, aku sama sekali tidak tahu satu mantra atau racikan apa pun, bahkan racikan penyembuh.

Mungkin, sebab itu pula aku harus meminum obat terus-menerus.

“Aku tidak lagi sakit, Nek, semenjak abad dinosaurus!” sergahku, “untuk apa aku meminum obat itu?”

Sebab, kau masih sakit, lirihnya dengan begitu ringkih dan aku tahu betul aku tidak lagi sakit, semenjak abad dinosaurus! Anak-anak di depan rumahku bilang, kau meminum obat hanya jika kakimu tidak sanggup menendang bola sepak, misal, atau tanganmu tidak sanggup menyentil gundu. Aku mampu melakukan semua itu. Tandanya, aku sehat, seperti mereka. Tetapi, mengapa?

Apakah aku betul-betul harus menunggu bapak pulang dari surga?

“Ibumu akan menjemputnya,” kata nenek, tatkala sinar surya berkunjung. Dan, benar saja, kulihat kamarnya sudah tidak ada sosoknya yang akhir-akhir ini pucat, reyot, dan betul-betul macam penyihir. Aku kecewa sekaligus kesal, lantaran tadi malam aku melewatkan langit ketika bintang-bintang, gumpalan awan, dan pucuk-pucuk gelapnya berganti warna merah muda.

Aku harus menunggu langit itu datang kembali. Aku harus menyusul ibu, tapi aku lupa belajar terbang darinya, entah itu menggunakan gagang sapu atau batang pensil. Kukira, nenek tahu, ternyata tidak. Perempuan itu kerap membisu ketika aku melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar cara menjadi penyihir asli. Keesokannya, sama seperti ibu, sosok nenek tidak ada di kamarnya. Ia tidak mungkin mengudara, tersebab kata ibu otaknya yang pikun tentu tak hafal mantra-mantra. Alhasil, aku meninggalkan rumah itu, seperti seekor ikan cupang yang keluar dari akuarium.

Seharian, aku mendekam dalam kebun pisang. Berpayung pepohonan. Sebab, tidak ada siapa pun yang mau mendekatiku, bahkan menerimaku. Sebelum fajar menyeruak, seseorang dengan topi petani di kepala menunjuk-nunjukku, dan datanglah seorang lelaki berkemeja putih, tersenyum.

“Sudah makan?”

Aku diajak oleh lelaki itu ke sebuah rumah, di mana aku menemukan orang-orang seumuranku, tetapi untungnya mereka tidak bermain bola. Pun, mereka tidak menjauhiku jika aku mendekati mereka. Kata lelaki itu, aku akan tinggal di sana. Dalam tempurung kepalaku, ini sarang penyihir! Sebab, ketika tertidur dan wajahku menghadap ke atas, mataku baru menyadari bahwa langit-langitnya bercat merah muda; mengingatkanku pada ibu dan bapak yang telah mengudara.

Suatu malam, ibu datang ke ranjangku. Mendarat. Menggunakan gagang panci betulan. Tetapi, ia tidak membawa obat yang dijanjikan.

“Kau mau ikut ke surga?” bisiknya.

Malam itu, adalah malamku yang keseribu di tempat ini. Aku menelan ludah. Sejenak, kutolehkan kepala ke sekitar; aku melihat beberapa anak yang baru tiba. Seperti seorang bayi yang dibuang di tempat sampah, seorang perempuan yang dikeluarkan dari sekolah dan rumah, atau anak yatim-piatu yang hidup sebatang kara.

Rumah ini selalu terbuka bagi tubuh mereka, bagi orang-orang pengidap HIV layaknya tubuhku. Menggelengkan kepala; air muka ibu mendadak bingung. Oh, bagaimana aku menjelaskannya? Aku mungkin tidak menjadi penyihir yang mengudara ketika langit merah muda, tetapi aku akan menjadi penyihir yang tinggal di antara ritme, menjaga hati mereka tetap berdetak; berbisik bahwa di luar sana, ada yang berdenyut dengan kesepian serupa.

*** 

Gagah Pranaja Sirat, mahasiswa jurusan Psikologi di Universitas Negeri Malang. Pada satu tahun awal menulisnya, dia sudah mendapat lebih dari 50 juara dan prestasi dalam lomba kepenulisan fiksi serta non-fiksi. Baru-baru ini dia telah memenangkan dua cabang lomba sekaligus dengan sama-sama juara pertama pada cabang lomba cerpen dan cabang lomba puisi dalam rangka Festival Kenduri Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, serta cerpennya ‘Mondar-Mandir’ memenangkan juara kedua pada Bulan Bahasa Universitas Gadjah Mada. Profil prestasi tentang dirinya sudah diterbitkan dalam Majalah Inspiratif oleh Duta Inovatif Indonesia dan Youth Idea Community. Lihat ia lebih lanjut melalui instagramnya: @gahpraja.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat