Kerabat warga Palestina yang syahid dalam bentrokan dengan pemukim Israel mengusung jenazah di kota Nablus, Tepi Barat, pada 24 Juli 2026. | EPA/ALAA BADARNEH

Internasional

2.000 Serangan di Tepi Barat Selama September

Pemukim dan tentara Israel d i Tepi Barat terus menindas warga Palestina.

TEPI BARAT -- Pasukan dan pemukim Israel melakukan 2.051 serangan terhadap warga Palestina serta lahan dan properti mereka pada bulan September 2026 saja. Hal ini menunjukkan keparahan agresi pemukim ilegal tersebut di Tepi Barat.

Menurut laporan kantor berita WAFA yang mengutip Komisi Perlawanan terhadap Kolonisasi dan Tembok Pemisah, dari jumlah total tersebut, 1.404 serangan dilakukan oleh pasukan Israel dan 647 oleh pemukim, dengan wilayah Ramallah dan Al-Bireh mencatat jumlah serangan terbanyak, demikian dilaporkan kantor berita Palestina tersebut mengutip pernyataan komisi itu.

Komisi tersebut menyatakan bahwa serangan pemukim menewaskan tiga warga Palestina—menjadikan total korban tewas sepanjang tahun 2026 mencapai 29 orang—dan melukai 88 orang lainnya. Serangan-serangan itu juga merusak 14.600 pohon, termasuk 9.334 pohon zaitun.

Laporan itu mencatat adanya 21 upaya pendirian pos terdepan permukiman ilegal baru, sementara otoritas Israel terus mengeluarkan perintah penyitaan lahan dan penebangan pohon. Komisi tersebut menyebutkan bahwa sekitar 6.635 dunam lahan telah disita sejak awal tahun 2026.

Otoritas Israel juga melaksanakan 62 operasi pembongkaran yang berdampak pada 254 bangunan, serta secara langsung memengaruhi 320 warga Palestina, termasuk 164 anak-anak.

Komisi Perlawanan terhadap Kolonisasi dan Tembok Pemisah juga mendokumentasikan 900 insiden pembakaran yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel dan para pemukim yang menyasar properti, rumah, kendaraan, dan fasilitas milik warga Palestina sejak awal tahun 2023 hingga 10 Juli 2026.

photo
Pasukan Israel bersiaga menghadapi warga Palestina yang mendatangi para pemukim Israel—beberapa di antaranya bersenjata—yang sedang melintasi desa Sara di Tepi Barat, dekat Nablus, pada 25 Juli 2026. - (EPA/ALAA BADARNEH)

Dari jumlah tersebut, 799 insiden (88,8 persen) dilakukan oleh para pemukim, sementara 101 insiden (11,2 persen) disebabkan oleh tentara pendudukan Israel.

Temuan ini dipublikasikan dalam sebuah laporan analisis oleh Komisi tersebut, yang menggambarkan aksi pembakaran oleh pemukim sebagai salah satu sarana teror paling menonjol yang digunakan terhadap warga Palestina.

Data tersebut menunjukkan peningkatan jumlah insiden pembakaran tahunan secara konsisten, yakni dari 217 kasus pada tahun 2023 menjadi 264 kasus pada tahun 2024, dan 307 kasus pada tahun 2025, serta tambahan 112 kasus yang tercatat pada tahun 2026 hingga tanggal 10 Juli.

Sebanyak 552 insiden pembakaran terkonsentrasi di wilayah kegubernuran Nablus serta Ramallah dan Al-Bireh saja, yang mencakup 61,3 persen dari total 900 insiden yang didokumentasikan.

Komisi tersebut menegaskan bahwa peningkatan yang terus-menerus dan berulangnya insiden-insiden ini mencerminkan pola sistematis dan terorganisir yang secara eksplisit menargetkan keamanan, properti, dan mata pencaharian warga Palestina.

photo
Jenazah Amir Moatasem Mahmoud Odeh (25 tahun) yang yang syahid dibunuh pemukim Israel dipeluk keluarganya di RS Rafedya di kota Nablus, Tepi Barat, 14 Maret 2026. - (EPA/ALAA BADARNEH)

Sebuah laporan yang dirilis hari ini oleh Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyatakan bahwa pasukan Israel secara paksa memindahkan seluruh populasi Palestina dari tiga kamp pengungsi di Tepi Barat yang diduduki pada bulan Januari dan Februari 2025, serta terus menghalangi kepulangan mereka, yang merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.

Laporan tersebut, yang berjudul Destruction of Palestinian Refugee Camps in the northern West Bank (Penghancuran Kamp Pengungsi Palestina di Tepi Barat bagian utara), mendokumentasikan serangan militer di kamp pengungsi Jenin, Nur Shams, dan Tulkarm yang mengakibatkan jatuhnya korban sipil, hancurnya ratusan rumah, kerusakan jalan, gangguan pasokan air dan listrik, serta pembatasan akses kemanusiaan. Pasukan Israel juga melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah yang memaksa warga untuk pergi.

Menurut laporan tersebut, hingga Oktober 2025, sekitar 52 persen bangunan di kamp pengungsi Jenin, 48 persen di kamp pengungsi Nur Shams, dan 36 persen di kamp pengungsi Tulkarm telah hancur atau rusak selama serangan militer Israel.

Kantor HAM PBB menyatakan bahwa pemantauan dan dokumentasi independen mereka menunjukkan bahwa pasukan Israel mengukuhkan kendali atas ketiga kamp tersebut dalam beberapa hari setelah serangan dan memindahkan penduduknya secara paksa. Beberapa warga Palestina yang mengungsi mengatakan kepada kantor tersebut bahwa petugas Israel menyatakan tidak akan ada lagi kamp pengungsi dan bahwa seluruh warga harus pergi ke Yordania.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa pemindahan paksa berskala besar, berkepanjangan, dan sistematis terhadap lebih dari 33.000 warga Palestina dari ketiga kamp tersebut menimbulkan kekhawatiran serius mengenai terjadinya kejahatan terhadap kemanusiaan berupa pemindahan paksa penduduk. 

Laporan itu menyebutkan bahwa penggunaan serangan udara, buldoser lapis baja, dan penghancuran terkendali untuk membuat seluruh kamp tidak dapat dihuni—sembari memaksa warga pergi dan mencegah kepulangan mereka tanpa adanya kebutuhan militer yang mendesak—dilarang menurut hukum internasional dan tampaknya merupakan bentuk hukuman kolektif, yang memicu kekhawatiran akan pembersihan etnis.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, mengatakan bahwa cara serangan tersebut dilakukan mengindikasikan tujuannya untuk menyingkirkan sebanyak mungkin warga Palestina dan membuka jalan bagi perluasan permukiman ilegal Israel, seraya menyebut tindakan ini sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat