Foto kehancuran Boeing E-3 Sentry, pesawat terpenting milik Angkatan Udara AS, akibat serangan Iran ke pangkalan Pangeran Sultan di Saudi, Jumat (27/3/2026). | X

Internasional

Bagaimana Perang Iran Lemahkan AS

Rudal dan pesawat nirawak Iran hancurkan fasilitas intelijen AS.

TEHERAN – Penilaian intelijen AS mengindikasikan keyakinan Moskow bahwa perang berkepanjangan Washington melawan Iran telah melemahkan kekuatan militer Amerika Serikat. Hal ini berpotensi memberikan ruang lebih luas bagi Rusia untuk meningkatkan tekanan terhadap Ukraina dan menantang kepentingan AS di Eropa.

Laporan The Washington Post pada Jumat menyebutkan bahwa penilaian tersebut muncul menjelang kunjungan sangat rahasia Direktur CIA John Ratcliffe ke Moskow pekan ini. Dalam kunjungan itu, ia dikabarkan memperingatkan para pejabat Rusia agar tidak menganggap tekanan pada militer AS sebagai peluang untuk meningkatkan eskalasi perang di Ukraina secara tajam.

Dua sumber yang mengetahui informasi intelijen tersebut mengatakan kepada surat kabar itu bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin diyakini memandang perang enam bulan melawan Iran telah menguras sumber daya militer AS dan mengurangi kemampuan Washington untuk merespons krisis di Eropa secara bersamaan.

Salah satu sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa kunjungan Ratcliffe "bukanlah karena Putin sedang terdesak"—akibat kegagalan pasukan Rusia mencapai terobosan menentukan di Ukraina—"melainkan lebih karena Rusia menilai kita sudah kehabisan sumber daya dan tidak bisa melakukan intervensi."

Penilaian Rusia yang dilaporkan tersebut muncul di tengah meningkatnya tanda-tanda bahwa kampanye militer Washington melawan Iran telah memberikan tekanan signifikan terhadap inventaris senjata dan kesiapan operasional AS.

Sistem-sistem utama yang kabarnya terdampak meliputi Patriot dan platform pertahanan udara lainnya, rudal jelajah Tomahawk, serta Army Tactical Missile Systems (ATACMS)—sistem yang juga diinginkan oleh Ukraina.

photo
Kondisi pangkalan militer AS di Kuwait selepas serangan Iran pada 2026. - (Maxar Technologies)

Selain itu, Amerika Serikat telah kehilangan sekitar seperempat armada pesawat nirawak (drone) Reaper selama agresi tersebut, menurut laporan sebelumnya oleh The Washington Post. Drone yang digunakan untuk pengintaian dan penargetan ini diperkirakan memiliki harga antara 30 juta hingga 50 juta dolar AS per unitnya.

Kekhawatiran mengenai menipisnya stok senjata juga meluas ke sekutu-sekutu AS di Asia. Muncul pertanyaan mengenai kemampuan Washington untuk mempertahankan daya gentar terhadap Tiongkok sembari tetap terlibat secara intensif dalam perang melawan Iran.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan pejabat pemerintah lainnya secara terbuka menepis klaim bahwa Amerika Serikat sedang menghadapi kekurangan senjata yang serius, namun di saat yang sama mendesak produsen senjata untuk mempercepat produksi.

Sumber-sumber yang mengetahui informasi intelijen terkait penilaian Putin tersebut tidak mengungkapkan bagaimana informasi itu diperoleh ataupun seberapa besar keyakinan badan intelijen AS terhadap temuan tersebut.

Sementara, rudal dan pesawat nirawak Iran telah menyebabkan kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada fasilitas intelijen dan perangkat keras pengawasan AS di seluruh Asia Barat. Perkiraan biaya perbaikan mencapai miliaran dolar.

photo
Foto kehancuran Boeing E-3 Sentry, pesawat terpenting milik Angkatan Udara AS, akibat serangan Iran ke pangkalan Pangeran Sultan di Saudi, Jumat (27/3/2026). - (X)

Demikian dilaporkan NBC News yang mengutip empat sumber yang mengetahui masalah tersebut. Menurut laporan itu, tingkat kerusakan ini lebih parah dibandingkan kerusakan apa pun yang pernah dialami sebelumnya oleh badan-badan intelijen AS.

Serangan tersebut merusak pos-pos intelijen dan peralatan pengawasan di berbagai wilayah, sehingga memaksa Kongres untuk mencari dana guna memulihkan fasilitas-fasilitas yang menjadi sasaran, ungkap dua sumber yang mengetahui masalah ini kepada NBC.

Para pejabat AS juga sedang mempertimbangkan bagaimana personel dan sumber daya intelijen harus dikerahkan kembali pascaserangan tersebut.

Besarnya kerusakan ini dilaporkan telah memicu pertanyaan mengenai alasan mengapa Pentagon, badan-badan intelijen AS, dan Departemen Luar Negeri tidak memiliki kesiapan yang lebih baik dalam melindungi fasilitas pemerintah dari serangan rudal dan drone Iran.

Para pakar militer dan mantan pejabat AS yang dikutip oleh NBC mempertanyakan apakah Washington telah mengantisipasi secara memadai kerentanan infrastruktur intelijen regionalnya terhadap serangan berkelanjutan dari Iran.

photo
Foto satelit Planet Labs PBC menunjukkan pangkalan militer yang dikenal sebagai Tower 22 di timur laut Yordania, pada 12 Oktober 2023. Tiga tentara Amerika tewas dan banyak terluka diserang di pangkalan ini pada 28 Januari 2024. - (Planet Labs PBC via AP)

Lebih dari 100 Target Terkena Serangan

Temuan terbaru ini menyusul penilaian NBC sebelumnya yang diterbitkan pada bulan April, yang mendokumentasikan skala respons Iran terhadap perang AS-Israel yang dilancarkan terhadap Teheran pada 28 Februari.

Menurut penilaian tersebut, serangan Iran menghantam lebih dari 100 target di setidaknya 11 instalasi militer AS yang tersebar di tujuh negara: Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, Kuwait, Irak, dan Arab Saudi.

American Enterprise Institute memperkirakan bahwa biaya perbaikan infrastruktur saja bisa mencapai lebih dari 5 miliar dolar AS.

Perkiraan tersebut belum mencakup biaya penggantian peralatan pengawasan, sistem persenjataan, dan perangkat keras canggih lainnya yang mengalami kerusakan.

Sementara itu, Pentagon menolak untuk merilis penilaian rinci mengenai kerusakan yang dialami instalasi-instalasi AS, dengan alasan keamanan operasional.

Besarnya kerusakan yang dilaporkan juga kembali memicu sorotan terhadap kemampuan Washington dalam melindungi infrastruktur militer dan intelijennya yang luas di kawasan Asia Barat.

Operasi Iran tersebut sangat mengandalkan penggunaan rudal dan drone, yang memaksa AS menghabiskan sejumlah besar rudal pencegat canggih sembari pada saat yang sama harus menanggung kerusakan pada fasilitas dan peralatan mereka.

photo
Warga Iran berkendara di samping rudal Iran, Zolfaghar, yang dipamerkan di Lapangan Azadi di Teheran, Iran, pada 24 Juli 2026. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

Akibatnya, skala serangan tersebut menimbulkan dua beban finansial bagi Washington: memperbaiki infrastruktur yang rusak dan mengisi kembali persediaan senjata mahal yang digunakan untuk pertahanan.

Pada akhir Juli, Pentagon mengajukan permintaan dana darurat sebesar 67 miliar dolar AS  untuk tahun fiskal berjalan, termasuk 18,2 miliar dolar AS untuk mengganti sistem rudal canggih yang telah digunakan selama perang.

Berdasarkan dokumen yang dikirimkan ke komite pertahanan Kongres, permintaan tersebut mencakup 5,75 miliar dolar AS untuk rudal pencegat THAAD dan 5,57 miliar dolar AS untuk rudal pencegat Patriot Missile Segment Enhancement.

Sebesar 1,9 miliar dolar AS lainnya dialokasikan untuk rudal SM-6, sementara 3,28 miliar dolar AS diajukan untuk tiga varian rudal pencegat dari keluarga Standard Missile milik Angkatan Laut.

Permintaan tersebut juga mencakup 100 juta dolar AS untuk Joint Advanced Tactical Missile, sebuah senjata udara-ke-udara rahasia buatan Lockheed Martin yang belum dikerahkan di lapangan.

Menurut Bloomberg, AS telah menembakkan 13.629 amunisi ke sasaran-sasaran Iran antara awal perang pada 28 Februari hingga gencatan senjata bulan April.

Ketua Kepala Staf Gabungan (Joint Chiefs of Staff), Jenderal Dan Caine, juga telah memberikan peringatan secara pribadi bahwa operasi tempur besar-besaran yang kembali dilakukan terhadap Iran dapat menguras secara berbahaya stok rudal pencegat yang tersedia bagi Komando Pusat AS (US Central Command).

Kombinasi antara kerusakan infrastruktur intelijen AS yang dilaporkan bernilai miliaran dolar dan besarnya biaya untuk mengisi kembali stok rudal pencegat menegaskan dampak finansial serta militer dari perang tersebut terhadap postur regional Washington.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat