Puisi Kita Sekafilah Ular | Daan Yahya/Republika

Sastra

Kita Sekafilah Ular

Puisi-puisi Salman al Farisi

Oleh SALMAN AL FARISI

Kita Sekafilah Ular 

 

Begitu juga tubuh ini 

akan diserahkan pada-Nya. 

Tubuhmu, tubuhku, tubuh 

kita semua. Seperti kata 

Rumi, kita adalah 

pengembara asing terlantar 

dari surga yang menjelma 

tubuh ini di sini. Penuh hina 

dan sesal yang terpendam 

begitu saja.

 

Sebermula kita adalah 

sekafilah ular. Berkasih

dengan Tuhan juga para 

malaikat yang rupawan.

Kita saling mencintai (tidak 

menutup kemungkinan 

akan berdalih saling benci).

 

Tidak ada yang membatas

antara surga-neraka, hidup-mati.

 

Kita dahulu sekafilah ular 

kesana kemari—bergelak tawa 

dan sesekali tiada tahu 

suatu waktu akan celaka 

dengan bentuk tubuh ini. 

Kini. Lalu akan kembali 

pada-nya lagi.

 

***

 

Ayat Rindu

 

Di Tanjung Priok

Anak muda sedang berlayar. Ombak 

teduh, tapi rindu menggebu-gebu.

 

Sampai ia tiba di haluan lalu terdampar.

 

“Di sini aku akhirnya berlabuh. Aneh.

Hati terasa semakin tertusuk sembilu.”

 

***

 

Syuhada


Kita, syuhada yang 

gugur di medan cinta.

 

***

 

Messias

 

Masihkah mengalir itu 

darah dalam do'a atau 

biar sekarang kuubah

jadi puluhan botol bir?

 

Masihkah bersikeras hati

menyentuh surga 

atau mau kusulap saja 

jadi sebongkah roti?

 

Maukah aku tunjukkan 

jalan pintas menuju 

kefanaan Eden bernujum 

anak-anak raja, yang 

bidadarinya perawan 

senantiasa?

 

Maukah aku antarkan 

kau ke sana dan kau bakal 

bergelimang harta?

 

Maka bersaksilah, aku 

yang dititahkan menghunus 

pedang kepada Almasih 

di hari penuh fasad!

 

***

 

Wasiat

 

Aku khatib yang menaiki mimbar 

hatimu—yang dengan lantang 

kusampaikan wasiat-wasiat cinta.

 

Bertaqwalah dengan sebenar-benarnya taqwa!

Bercintalah dengan senikmat-nikmatnya! Wassalam.

 

***

 

Pupus

 

Asa pupuslah diputus harap

Asu diamlah digonggong senyap.

 

Rintik mata saja yang masih basah

Rontok lara yang sudahlah.

 

***

Salman Al Farisi menekuni karya sastra terutama puisi. Ia lahir di Natuna, Kepulauan Riau, 29 Oktober 2005. Saat ini sedang bermukim di Yogyakarta dan berkuliah di Universitas Ahmad Dahlan. Ia bisa disapa melalui akun Instagram: @jztcallman.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat