Cerpen Kau yang Menunggu di Halte Transjakarta | Daan Yahya/Republika

Sastra

Kau yang Menunggu di Halte Transjakarta

Oleh JOEL PASBAR

"Kau hidup sebagai monumen rindu  tak kasatmata—

terpenjara oleh janji yang dipegang lebih erat 

daripada nyawa sendiri. Kau kira akan tidak menua 

karena setia. Ternyata abadi karena sudah tiada."

***

 

Kau adalah monumen tak kasatmata di antara hiruk-pikuk yang tak pernah tidur. Di Halte Transjakarta Tosari yang megah, yang kini menyerupai kapal pesiar terdampar di tengah lautan aspal Sudirman. Kau berdiri tegak. Diam seperti sebuah titik koma dalam kalimat panjang kehidupan Jakarta yang tak kunjung menemukan ujung.

Pukul lima sore adalah waktu keramatmu. Saat langit Jakarta mulai beralih rupa dari abu-abu polusi menjadi jingga yang muram, kau sudah ada di sana. Tubuhmu merapat ke dinding kaca, matamu memindai setiap wajah yang turun dari bus gandeng. Bus-bus itu datang dan pergi seperti monster logam yang memuntahkan dan menelan manusia. Bunyi mesinnya menderu, pintu hidrolisisnya berdesis, dan suara robotik petugas perempuan dari pengeras suara mengumumkan tujuan akhir.

"Blok M. Kota. Harmoni."

Kau menghafal nadanya. Kau menghafal iramanya. Bahkan kau menghafal bau keringat yang menguar saat pintu terbuka; campuran aroma parfum murah, minyak angin, debu jalanan, dan keputusasaan yang diredam.

Orang-orang di sekitarmu bergerak cepat. Mereka adalah arus sungai yang deras, sementara kau adalah batu karang. Mereka menempelkan kartu elektronik, berdesakan berebut kursi, memaki dalam hati, menatap layar ponsel dengan leher menekuk. Tak ada yang menoleh padamu. Tak ada yang menyadari keberadaanmu. Di kota ini, menjadi tidak terlihat adalah anugerah sekaligus kutukan. Kau menganggap ketidakacuhan mereka sebagai hal yang lumrah. Bukankah Jakarta memang mendidik warganya untuk menjadi tuli dan buta demi menjaga kewarasan?

Kau merapatkan jaket kanvas lusuhmu. Dingin pendingin udara di halte baru ini terasa menusuk tulang, berbeda dengan halte lama yang dulu terbuka, yang membiarkan angin panas dan debu knalpot membelaimu. Dulu, kau bisa mencium aroma hujan yang bercampur kelelahan. Sekarang, semuanya berbau pembersih lantai dan pengharum ruangan artifisial. Namun, kau tetap menunggu. Karena janji adalah utang yang dibawa mati, dan kau bukan tipe lelaki yang suka berhutang.

Ingatanmu melayang ke lima tahun lalu. Hari itu Selasa yang basah. Jakarta baru saja diguyur hujan seharian, menyisakan genangan hitam di tepi jalan yang siap mencipratkan kotoran pada siapa saja yang lengah.

"Tunggu aku di halte jam lima, Mas," ucap Dara waktu itu. Suaranya bergetar, separuh takut, separuh nekat.

Kau masih ingat wajahnya. Wajah perempuan Jawa yang ayu, dengan tahi lalat kecil di bawah bibir kiri yang manis. Dara, gadis yang bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran waralaba di kawasan Menteng. Gadis yang membuatmu—seorang kurir dokumen rendahan—berani bermimpi untuk memiliki masa depan.

Kalian sudah sepakat. Jakarta terlalu kejam untuk cinta yang sederhana. Gaji kalian habis hanya untuk membayar sewa petak kost yang lembab dan makan yang tak bergizi. Kalian ingin pulang. Pulang ke kampung halaman di kaki Gunung Slamet, membuka usaha warung kopi kecil-kecilan, dan hidup tenang tanpa dikejar target atau dibentak atasan.

"Aku harus ambil gaji terakhir dan pamit sama Bu Bos," kata Dara. "Kamu bawa tas kita dulu. Kita langsung ke Stasiun Senen dari halte."

Kau mengangguk mantap. Tas ransel besar berisi pakaian dan sedikit tabungan sudah kau gendong. Tiket kereta ekonomi sudah di saku. Kau tiba di halte pukul lima kurang sepuluh. Hati berdebar kencang. Bukan karena takut, tapi sebab antusiasme yang meletup-letup. Kebebasan sudah di depan mata.

Bus demi bus lewat. Jam di pergelangan tanganmu berdetak. Pukul lima lewat sepuluh. Setengah enam. Enam. Dara belum juga muncul. Ponselmu bergetar saat itu. Pesan singkat darinya: Mas, macet total. Tunggu, ya. Jangan ke mana-mana.

Itu pesan terakhirnya.

***

 

Dan disinilah kau sekarang. Lima tahun kemudian. Masih berdiri di titik yang sama, meski bentuk haltenya sudah berubah total. Kau tidak tahu kenapa begitu setia. Mungkin sebab percaya Dara tidak akan ingkar. Mungkin karena tidak punya tempat lain untuk dituju. Atau mungkin, merasa waktu sebenarnya tidak bergerak bagimu.

Malam mulai turun. Lampu-lampu gedung pencakar langit menyala, menciptakan rasi bintang buatan yang angkuh. Kau mengamati seorang wanita muda yang berdiri di sampingmu. Dia menangis diam-diam. Air mata meleleh merusak bedaknya. Dia baru saja putus cinta lewat telepon, kau menduganya. Atau mungkin baru saja dipecat. Kau ingin menepuk bahunya, bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi urung. Kau tahu aturan main di kota ini: jangan campuri urusan orang lain.

Lagi pula, kau merasa tanganmu kaku. Kakimu berat seolah ditanam dalam beton. Kau melihat perubahan zaman dari balik kaca halte. Dulu, orang-orang membayar dengan uang receh di loket. Sekarang, semua tinggal tempel kartu. Dulu, orang mengobrol satu sama lain untuk membunuh bosan. Sekarang, mereka menyumbat telinga dengan benda putih kecil tanpa kabel, terisolasi dalam dunia masing-masing.

Kau juga melihat dirimu di pantulan kaca. Anehnya, kau tidak menua. Jaket kanvasmu masih sama lusuhnya. Wajahmu masih wajah pemuda dua puluh lima tahun yang penuh harap. Padahal, kau merasa sudah berabad-abad berdiri di sini. Apakah penantian mengawetkan usia?

Terkadang, rasa lelah itu datang. Lelah yang bukan fisik, tapi lelah batin. Kau ingin pulang ke kosan, merebahkan diri. Tapi takut jika pergi barang sedetik saja, Dara akan datang dan tidak menemukanmu. Lalu dia akan menangis, merasa ditinggalkan. Tidak. Kau tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau lelaki yang teguh memegang janji.

"Mas, permisi," seorang pemuda dengan tas gitar besar menerobos di depanmu. Dia menyenggol bahumu cukup keras.

Kau terhuyung sedikit. Aneh. Dia tidak menoleh, tidak minta maaf. Seolah baru saja menabrak angin kosong. Kau menatapnya tajam, tapi dia sibuk tertawa dengan temannya.

"Dasar anak muda zaman sekarang," gerutu batinmu. Kau kembali memperbaiki posisi berdiri. Mata kembali fokus ke pintu bus yang terbuka. Seorang ibu tua dengan keranjang belanjaan kesulitan turun. Kau refleks mengulurkan tangan hendak membantu. Tapi sebelum tanganmu menyentuh keranjangnya, seorang petugas halte sudah sigap membantunya. Tanganmu menggantung di udara. Ibu tua itu tersenyum pada petugas, lalu berjalan melewatimu begitu saja. Matanya lurus ke depan, seolah kau transparan.

Perasaan ganjil itu menyergapmu lagi. Perasaan terasing yang amat sangat. Seolah kau berada di dalam toples kaca, bisa melihat dunia tapi tak bisa disentuh olehnya. Ah, mungkin ini efek kelaparan. Kau sadar belum makan sejak, entahlah. Kau tidak merasa lapar, hanya hampa.

Hujan mulai turun lagi malam ini. Deras. Langit Jakarta seakan ingin menumpahkan seluruh kesedihannya. Kilat menyambar, menerangi wajah patung Jenderal Sudirman yang berdiri kaku di tengah jalan raya, sama kakunya denganmu. Bus Transjakarta koridor 1 jurusan Blok M melambat, merapat ke dermaga halte. Pintu terbuka dengan desis panjang.

Jantungmu, atau sisa-sisa perasaan yang kau anggap jantung, berdegup kencang. Di antara kerumunan penumpang yang turun, kau melihat selendang merah itu. Selendang merah marun dengan motif batik samar. Itu selendang Dara. Kau yang membelikannya di Pasar Tanah Abang sebagai hadiah ulang tahun. Sosok itu melangkah turun. Rambutnya dikuncir kuda, persis gaya Dara. Postur tubuhnya, cara berjalannya yang sedikit terburu-buru. Itu dia!

***

 

"Dara!" teriakmu. Suaramu terdengar parau, seperti tenggelam oleh suara hujan dan deru mesin. Perempuan itu berjalan menuju pintu keluar halte. Dia tidak menoleh.

"Dara! Tunggu!" Kau berlari mengejarnya. Menabrak bahu orang-orang, tapi anehnya tak ada yang memaki. Kau merasa seperti asap yang membelah kerumunan. Perempuan itu berhenti di ujung jembatan penyeberangan, di area terbuka yang basah oleh tempias hujan. Dia tidak sendirian. Ada seorang anak kecil, laki-laki, usianya mungkin sekitar empat tahun, menggenggam erat tangan Dara.

Kau berhenti dua langkah di belakangnya. Napasmu—atau ilusi napasmu—terengah-engah.

"Dara," panggilmu lirih. Perempuan itu berbalik. Wajah itu. Ya, itu Dara. Tapi ada yang berbeda. Wajahnya lebih matang, ada gurat kelelahan halus di sekitar matanya yang dulu bening. Tahi lalat di bawah bibirnya masih di sana, manis seperti dulu. Tapi tatapannya seolah menembus tubuhmu, menatap kosong ke arah jalan raya di bawah sana.

"Ibu, kenapa kita berhenti di sini? Hujan," rengek anak kecil itu.

Dara tersenyum tipis, mengusap kepala anak itu lembut. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Seikat bunga mawar putih yang sudah agak layu dan sebuah bungkusan kecil.

"Sebentar, ya, Nak. Kita sapa Bapak dulu," ucap Dara lembut. Suaranya terdengar seperti lonceng yang retak di telingamu.

Bapak?

Kau terpaku. Siapa Bapak? Apakah Dara sudah menikah? Apakah selama kau menunggu lima tahun ini, dia telah melupakanmu dan membangun keluarga dengan orang lain? Rasa sakit yang tajam menghujam dadamu. Pengkhianatan. Jadi inikah balasan atas kesetiaanmu berdiri menjadi patung di halte ini?

"Mas," bisik Dara. Tapi dia tidak melihat padamu. Dia menatap ke arah jalan aspal di bawah jembatan penyeberangan, tepat di depan halte. "Aku datang lagi. Maaf, baru sempat mampir. Kemarin Aryo sakit."

Kau mengikuti arah pandangannya ke bawah sana. Di aspal yang basah dan hitam, lalu lintas sedang padat merayap. Tak ada siapa-siapa di sana selain kendaraan.

"Ini Aryo, Mas. Dia sudah besar. Tahun depan mau masuk TK," lanjut Dara. Matanya berkaca-kaca. Dia meletakkan bunga mawar itu di pagar pembatas jembatan, lalu menaburkan remah-remah kembang tujuh rupa ke arah jalanan di bawah.

Kau bingung. Mencoba memahami situasi.

"Ibu, Bapak kenapa tidurnya di jalan?" tanya anak itu polos. Dara berjongkok, menyamakan tinggi dengan anaknya. "Bapak tidak tidur di jalan, Sayang. Bapak sudah di surga. Di sini, tempat Bapak terakhir kali berjuang buat kita."

Dara menarik napas panjang, menahan isak. "Dulu, Bapak mau ajak ibu pulang kampung. Bapak nunggu di halte ini. Tapi ibu telat. Waktu datang, Bapak sudah nggak ada."

Dunia di sekitarmu mendadak berputar. Suara bising Jakarta meredup, digantikan oleh dengungan panjang yang menyakitkan di telingamu.

Ingatan itu. Ingatan yang selama ini kau kunci rapat-rapat di sudut tergelap pikiranmu, tiba-tiba mendobrak keluar.

***

 

Selasa, lima tahun lalu. Hujan deras.

Kau menunggu Dara. Sudah pukul enam lewat. Melihat sosok yang mirip Dara di seberang jalan. Kau panik karena dia tidak menyeberang lewat jembatan.

"Dara!" teriakmu.

Bangkit melompat turun dari halte, menerobos hujan, berlari menyeberangi jalan raya yang licin demi menjemputnya. Lampu sorot yang menyilaukan. Bunyi klakson yang memekakkan telinga. Hantaman keras di sisi kanan tubuhmu. Rasa sakit yang hanya beberapa detik, lalu dingin.

Gelap.

Dan kau bangun lagi, berdiri di halte, dan berpikir hanya melamun sejenak. Kau menatap kedua tanganmu. Tangan itu mulai memudar. Bukan lagi tangan kurir dokumen yang kasar, tapi gumpalan kabut yang perlahan transparan. Kau meraba wajahmu, tak ada tekstur kulit di sana, hanya hawa dingin.

Selama ini, orang-orang bukan tidak peduli. Mereka benar-benar tidak melihatmu. Pemuda bergitar itu bukan menabrakmu. Dia menembusmu. Selama ini, kau tidak menunggu Dara datang. Kau menunggu kesadaranmu sendiri untuk pulang.

Kau menatap Dara dan anak kecil itu—anakmu? Entah, biar pembaca yang menyimpulkan. Ada rasa perih, tapi anehnya, lebih banyak rasa lega. Beban penantian yang menggantung di bahumu selama ribuan senja mendadak sirna.

Dara bangkit berdiri, menghapus air matanya. "Kita pulang, yuk, Nak. Doakan Bapak tenang di sana, ya."

"Dadah, Bapak," ucap bocah itu melambaikan tangan ke arah angin kosong, tepat di depan wajahmu. Kau tersenyum. Kali ini, senyummu terasa ringan. Sangat ringan.

"Pergilah, Dara," bisikmu, suaramu kini menyatu dengan desau angin. "Berbahagialah. Warung kopi di kaki Gunung Slamet itu, biarlah jadi mimpi yang kubawa tidur."

Dara dan anaknya berbalik, berjalan menjauh menuju tangga turun. Punggung mereka perlahan menghilang di telan keramaian halte.

Kau menatap sekeliling untuk terakhir kalinya. Halte Transjakarta Tosari yang megah. Cahaya lampu kota yang bias di kaca basah. Wajah-wajah lelah para pekerja yang ingin pulang. Semuanya mulai memutih. Suara bising klakson dan mesin perlahan menjauh, terdengar seperti nyanyian nina bobo yang purba.

Kakimu tak lagi menapak lantai. Kau melayang, seringan kapas, seringan janji yang telah tunai. Bus Transjakarta jurusan Kota datang lagi. Pintu terbuka. Tapi kali ini kau tidak lagi memindai wajah penumpangnya. Kau tidak lagi menunggu.

Di tengah hujan Jakarta yang tak kunjung reda, satu jiwa yang tersesat akhirnya menemukan jalan pulangnya. Bukan ke kampung halaman, tapi pada sunyi keabadian.

Halte itu kini kosong dari kehadiranmu. Hanya menyisakan jejak basah di lantai yang sekejap kemudian diinjak oleh sepatu-sepatu yang bergegas, menghapus riwayatmu dari ingatan ibukota yang memang pelupa itu.

 

Ruang renung, 2024

 

Joel Pasbar, lahir 3 Desember 1985. Di Talamau, Pasaman Barat, Sumatera Barat. Berproses dan aktif menulis sejak 2014. Menulis Puisi, Cerpen, Senandika, Novel, dll. Aktif bersama Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat, sering diundang menjadi juri dan narasumber kepenulisan. Pernah diundang dan mengikuti berbagai acara dan kegiatan sastra di beberapa provinsi di Indonesia.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat