Petugas memarkir mobil pikap operasional yang diperuntukkan bagi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) pada pendistribusian tahap pertama di KDMP Desa Pasirharjo, Blitar, Jawa Timur, Senin (13/4/2026). Kodim 0808/Blitar mulai mendistribusikan 50 unit mobil pikap operasional untuk 50 unit KDMP dari jumlah total sebanyak 269 unit KDMP di wilayah kerjanya. | ANTARA FOTO/Irfan Anshori

Iqtishodia

Kopdes Merah Putih dan Pelajaran dari Teori Lokasi Ilmuwan Muslim

Umat Islam sebenarnya telah mengenal pemikiran mengenai teori lokasi sejak lama.

OLEH Nindyantoro (Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University)

Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) bertujuan menggerakkan ekonomi akar rumput. Namun, realisasinya di lapangan kerap menemui kendala. Sejumlah gerai dilaporkan sulit diakses warga, berada di puncak bukit atau di wilayah pinggiran, bahkan memicu protes karena salah memilih ruang publik.

Dalam sains operasional, lokasi bukan sekadar persoalan ada atau tidaknya lahan, melainkan berkaitan dengan efisiensi jarak tempuh dan biaya distribusi. Secara objektif, fenomena faktual KDMP yang terjadi di lapangan merupakan isu spasial, yaitu temuan pembangunan fisik gerai koperasi yang jauh dari sentra permukiman warga, bahkan berada di dekat area pemakaman atau titik yang tidak efisien bagi mobilitas anggota.

Sering kali, penentuan lokasi dilakukan melalui pendekatan top-down dan penetapan titik fisik diduga tanpa analisis jangkauan (accessibility). Karena itu, risiko kegagalan ekonomi dan rendahnya partisipasi warga menjadi tinggi. Padahal, koperasi pada hakikatnya merupakan entitas yang hidup dari kedekatannya dengan denyut aktivitas anggota, baik petani, pedagang, maupun konsumen.

Gejala serupa umum terjadi di negara berkembang. Penentuan lokasi sering didasarkan pada ketersediaan lahan dan pertimbangan administratif, bukan analisis aksesibilitas dan jarak, sehingga muncul ketimpangan pelayanan dan inefisiensi. Keterbatasan data spasial, infrastruktur jalan yang belum merata, serta kemampuan analisis yang terbatas turut memperparah kondisi ini.

Mengapa lokasi menentukan keberhasilan koperasi? 

Lokasi yang strategis membuat jarak tempuh warga menjadi minimal sehingga biaya transportasi lebih rendah. Berkaitan dengan koperasi, hal ini akan mendorong tingginya partisipasi anggota sehingga koperasi dapat tumbuh sehat dan berkelanjutan. Secara matematis, persoalan ini merupakan masalah penempatan fasilitas, yaitu menempatkan fasilitas pada titik pelayanan agar total jarak atau biaya dari seluruh titik permintaan ke fasilitas menjadi minimal. Inilah yang disebut the most accessible.

Sebaliknya, lokasi yang tidak tepat akan meningkatkan biaya distribusi dan pengangkutan yang pada akhirnya membuat harga barang tidak kompetitif. Selain itu, warga enggan berbelanja atau bertransaksi karena lokasi yang jauh sehingga perputaran barang menjadi lambat. Koperasi akan kehilangan skala ekonomi dan terus bergantung pada subsidi sehingga sulit mandiri.

Hal ini menjadi pola masalah yang sama di berbagai negara berkembang. Fasilitas publik dan koperasi sering dibangun di lahan yang tersedia secara administratif, bukan di lokasi yang paling terjangkau. Akibatnya, pelayanan tidak merata, biaya sosial tinggi, dan program pembangunan tidak mencapai sasaran secara optimal.

Jejak pemikiran cendekiawan Islam

Umat Islam sebenarnya telah mengenal pemikiran mengenai teori lokasi sejak lama. Al-Khawarizmi (780–850 M) meletakkan dasar ilmu ukur dan perhitungan posisi berbasis koordinat yang memungkinkan penentuan lokasi relatif antar tempat secara sistematis. Ia digelari sebagai bapak algoritma yang menjadi dasar perhitungan optimasi lokasi. Algoritma kemudian menjadi dasar berbagai perhitungan komputer saat ini. Tanpa pemikiran tersebut, Google Maps tidak akan dapat menghitung rute tercepat.

Satu generasi setelah Al-Khawarizmi, muncul Al-Balkhi. Jika Al-Khawarizmi merupakan peletak dasar matematika koordinat, Al-Balkhi merupakan peletak dasar "geografi wilayah". Al-Balkhi (850–934 M) menyusun sistem pembagian wilayah dan penentuan pusat pelayanan berbasis jarak dan kondisi alamiah. Ia membagi dunia Islam menjadi 20 wilayah berdasarkan bahasa, budaya, iklim, hasil bumi, dan rute dagang.

Al-Balkhi juga menggambar peta yang menonjolkan pusat kota, desa sekitar, dan jalan penghubung. Para sejarawan sains menyebut Al-Balkhi sebagai Bapak Geografi Regional karena ia merupakan salah satu tokoh yang membedakan geografi menjadi Geografi Matematis yang dipelopori Al-Khawarizmi dan Al-Biruni serta Geografi Regional Kemanusiaan yang dipelopori Al-Balkhi.

Al-Mas'udi (956 M) mengamati hubungan antara lokasi pasar, jarak tempuh penduduk, dan kelancaran perdagangan. Al-Biruni (973–1048 M) menemukan metode pengukuran jarak serta posisi lintang dan bujur dengan presisi tinggi. Hal ini menjadi prasyarat penting dalam analisis lokasi. Karya Al-Biruni berjudul Tahdid al-Amakin atau Penentuan Lokasi Tempat-tempat, merupakan buku geodesi pertama di dunia.

Al-Idrisi (1100–1166 M) menyusun peta dan pembagian wilayah yang memperhatikan keterjangkauan antarpermukiman. Secara tersirat, ia mengenal konsep pusat yang meminimalkan jarak. Pada masa modern, hal ini dikenal dengan teori threshold dan range.

Umat Islam sebenarnya sudah memahami teori lokasi sejak lama. Al-Maqrizi pada abad ke-14 menulis dalam Al-Mawaiz bahwa lokasi pasar harus berada di tengah kota, dekat sumber air, dan tidak menzalimi pedagang kecil. Pada masa yang hampir sama, Ibn Khaldun mengajukan teori "Asabiyah & Ekonomi Kota" yang menyatakan bahwa kota tumbuh karena menjadi simpul atau tempat berkumpulnya aktivitas ekonomi.

Pemikiran mereka menunjukkan bahwa prinsip keadilan dan kemudahan akses dalam penempatan fasilitas telah menjadi perhatian para ulama dan ilmuwan Muslim sejak berabad-abad sebelum lahirnya teori lokasi modern.

Perkembangan teori lokasi modern

Teori lokasi dunia Barat diawali oleh Von Thünen (1826) yang mengajukan model lokasi pertanian berbasis biaya angkut dan menjadi cikal bakal hubungan antara jarak dan lokasi. Kemudian Alfred Weber (1909) mengembangkan teori lokasi industri yang mencari titik dengan biaya angkut minimum antara bahan baku dan pasar. Disusul Walter Christaller (1933) dengan Teori Tempat Pusat (Central Place Theory) yang menjelaskan jumlah, ukuran, dan sebaran pusat pelayanan. August Lösch (1940) memperluas teori lokasi dengan pendekatan ekonomi wilayah. Terakhir, Walter Isard (1956) mengintegrasikan teori ruang dan lokasi ke dalam analisis ekonomi serta mendirikan Regional Science Association.

Khusus mengenai lokasi optimal, Samir Louis Hakimi (1964–1965) membuktikan teorema: “Dalam suatu jaringan jalan dengan jarak yang diketahui, selalu terdapat titik optimal penempatan fasilitas di salah satu titik simpul (persimpangan jalan atau lokasi pemukiman yang ada) sehingga tidak perlu mencari di titik sebarang di tengah jalan.”

Implikasi teorema ini sangat praktis. Cukup dievaluasi calon lokasi yang sudah ada secara nyata, seperti desa, dusun, persimpangan, balai desa, atau pasar. Data dinyatakan dalam noktah berbentuk jaringan atau matriks jarak. Kemudian data penduduk atau data penting lainnya, seperti lokasi banjir, dapat dijadikan bobot.

Perkembangan perangkat lunak 

Pada 1970–1980-an digunakan Alloc 3 dan Alloc Agraria yang kemudian menjadi Alloc 6, yaitu perangkat lunak khusus untuk analisis lokasi-alokasi yang mengimplementasikan model P-Median secara langsung dan mudah digunakan. Namun, jika dibandingkan dengan sekarang, program Fortran pertama untuk P-Median pada 1980–2000 cukup rumit karena input dilakukan secara manual. P-Median Solver dan Teitz-Bart juga membutuhkan proses komputasi yang tidak sederhana.

Bahkan, pengguna perlu menggunakan komputer khusus kategori mainframe dan menunggu solusi atau hasil perhitungan cukup lama. Kemudian, pada masa internet, perangkat P-Median dapat dimanfaatkan secara terbuka dan sering digunakan untuk penelitian skripsi mahasiswa, misalnya untuk topik lokasi pemekaran ibu kota provinsi dan ibu kota kabupaten.

Kemudian, mulai era 1990-an digunakan ArcGIS Modul Location-Allocation dengan memanfaatkan data peta jalan nyata, menghitung jarak berdasarkan jaringan jalan, dan menyelesaikan model P-Median secara visual di atas peta. Keunggulan pendekatan terakhir untuk KDMP adalah penentuan lokasi tidak lagi sekadar menebak atau menggunakan lahan yang tersedia, melainkan didukung angka dan peta yang menunjukkan lokasi terbaik.

Pendekatan ini juga memungkinkan penyesuaian jika jumlah koperasi dibatasi. Sistem akan memilih lokasi yang dapat melayani jumlah penduduk terbanyak dengan jarak terpendek (most accessible). Dalam perkembangan berikutnya, QGIS/GRASS GIS juga digunakan sebagai alternatif bebas lisensi dengan kemampuan analisis serupa.

Model penempatan KDMP

Apabila tersedia data spasial berupa peta titik rumah, jaringan jalan, dan jaringan fasilitas yang sudah ada, seperti pasar dan balai desa, model P-Median dapat digunakan melalui ArcGIS/QGIS. Model tersebut dapat disesuaikan dengan target pemanfaatan KDMP, misalnya 80 persen warga memiliki jangkauan kurang dari 1,5 km, disertai pertimbangan variabel lain seperti ketinggian tempat, tanah makam, kawasan rawan banjir, tanah sengketa, akses listrik, serta validasi sosial melalui musyawarah desa.

Ketersediaan data menjadi penting dalam perencanaan spasial. Jika data yang digunakan tidak akurat, hasilnya pun akan buruk, sesuai istilah “Garbage in, garbage out.” Dalam hal ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data jumlah KK per dusun melalui Podes 2024. Badan Informasi Geospasial (BIG) menyediakan Peta Jalan Nasional, sedangkan OpenStreetMap (OSM) menyediakan data jaringan jalan desa secara gratis. Selain itu, Kementerian Koperasi menyediakan data sebaran koperasi aktif 2025.

KDMP bukan cuma soal modal, melainkan juga solusi optimalisasi lokasi. Sumbangan pemikiran cendekiawan Muslim mengenai lokasi mengantarkan kita pada state of the art model penentuan lokasi optimal. Hal ini dapat meningkatkan peluang keberhasilan KDMP. Ini merupakan bentuk takzim atau penghormatan terhadap warisan Al-Khawarizmi yang dapat digunakan untuk mensejahterakan desa melalui KDMP.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah, “Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat.” Koperasi didirikan sebagai sarana tolong-menolong untuk memperbaiki nasib umat. Oleh karena itu, program ini perlu didukung secara optimal.
 
 
 
 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat