Iqtishodia
Fenomena Super El Nino dan Ancaman Inflasi Pangan
Gangguan produksi dalam negeri dan negara eksportir dapat menciptakan tekanan pangan yang lebih kompleks.
OLEH Prof. Sahara (Guru Besar Departemen Ilmu Ekonomi dan Direktur International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS) Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University)
Fenomena Super El Nino atau Godzilla El Nino yang berkembang pada tahun ini berpotensi menjadi salah satu episode El Nino terkuat dalam beberapa dekade terakhir. Istilah Super El Nino atau Godzilla El Nino sendiri merujuk pada kondisi El Nino dengan peningkatan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik yang mencapai lebih dari 2°C di atas kondisi normal.
Berdasarkan laporan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat, peluang suhu permukaan laut di Pasifik meningkat lebih dari 2°C di atas normal mencapai sekitar 63 persen. Kondisi tersebut diperkirakan semakin menguat pada musim gugur dan musim dingin, serta berpotensi bertahan hingga awal musim semi 2027.
Fenomena Super El Nino atau Godzilla El Nino juga menjadi perhatian di Indonesia. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peluang terjadinya El Nino kuat diperkirakan mencapai 62 persen, dengan sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal. Sekitar 48,8 persen wilayah daratan Indonesia diperkirakan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026, sementara hampir separuh wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau dengan durasi yang lebih panjang dari biasanya.
Dampak multidimensional Super El Nino berpotensi dirasakan oleh berbagai negara dan memengaruhi berbagai sektor, terutama pertanian, kehutanan, dan kesehatan. Di sektor pertanian, kekeringan yang berkepanjangan dapat menurunkan produksi pangan.
Di sektor kehutanan, kondisi yang lebih kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, sedangkan dari sisi kesehatan, penurunan kualitas udara akibat kebakaran dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Meskipun dampaknya bersifat multidimensional, artikel ini akan memfokuskan pembahasan pada dampak Super El Nino terhadap sektor pertanian dan implikasinya terhadap inflasi pangan.
Dalam perspektif ekonomi, El Nino pada dasarnya merupakan negative supply shock. Penurunan produksi akibat kekeringan dapat terjadi secara bersamaan di banyak negara, menyebabkan pasokan pangan berkurang sehingga tekanan terhadap harga meningkat. Goldman Sachs memperkirakan harga komoditas pangan dunia dapat meningkat sekitar 15,8 persen, sementara Risilience memperkirakan produksi pertanian global dapat turun hingga 14,3 persen dalam skenario ekstrem.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting bagi Indonesia karena inflasi volatile food sangat sensitif terhadap perubahan produksi dan pasokan. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa pada Juni 2026 inflasi volatile food mencapai 5,58 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi umum sebesar 3,34 persen yoy.
Tekanan tersebut terutama berasal dari komoditas volatile food seperti bawang merah, bawang putih, dan beras, seiring dengan menurunnya produksi di daerah sentra, meningkatnya biaya transportasi, dan berakhirnya musim panen raya. Sebelumnya, pada Mei 2026, inflasi volatile food bahkan mencapai 6,24 persen yoy. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap harga pangan domestik sebenarnya telah muncul sebelum dampak penuh El Nino 2026–2027 dirasakan.
Hal yang perlu diwaspadai juga adalah kemungkinan terjadinya double supply shock. Pertama, produksi pangan domestik Indonesia berpotensi turun akibat kekeringan. Kedua, pada saat yang hampir bersamaan, produksi negara-negara eksportir pangan juga dapat mengalami gangguan akibat fenomena iklim yang sama. Dalam kondisi normal, ketika produksi domestik terganggu, Indonesia dapat menggunakan impor sebagai shock absorber untuk menutup kesenjangan antara kebutuhan dan produksi.
Namun, ketika El Nino terjadi secara luas, kemampuan pasar global untuk menyediakan tambahan pangan menjadi jauh lebih terbatas. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa pasar bersifat residual market, sehingga ketika terjadi gangguan produksi secara global, negara-negara eksportir akan cenderung mengutamakan pemenuhan kebutuhan domestiknya sebelum mengalokasikan kelebihan produksi untuk ekspor. Akibatnya, pasokan yang tersedia di pasar internasional dapat menyusut justru ketika kebutuhan impor berbagai negara meningkat.
Situasi tersebut membawa kita pada pertanyaan mendasar: bagaimana seharusnya Indonesia menyikapi fenomena Super El Nino yang bersifat global? Selama ini, impor sering dipandang sebagai salah satu instrumen untuk menutup gap antara kebutuhan dan produksi domestik. Impor tetap diperlukan sebagai salah satu instrumen stabilisasi dalam kondisi tertentu.
Namun, ketergantungan yang terlalu besar terhadap impor menjadi berisiko ketika negara-negara produsen utama mengalami kekeringan pada waktu yang hampir bersamaan. Oleh sebab itu, Indonesia perlu memperkuat kapasitas produksi domestik sehingga ketahanan pangan tidak sepenuhnya bergantung pada kemampuan pasar global untuk menyediakan pangan pada saat terjadi global supply shock.
Kebijakan yang paling mendesak adalah memastikan ketersediaan air untuk produksi pangan. Pemerintah perlu mempercepat rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur irigasi, meningkatkan efisiensi distribusi air, memperkuat kapasitas penyimpanan air melalui waduk dan embung, serta memastikan ketersediaan air pada fase-fase kritis pertumbuhan tanaman.
Berdasarkan kajian Sahara (2025), selama periode 2011–2021 hanya sekitar 40 persen desa di Indonesia yang memiliki fasilitas irigasi. Dalam menghadapi Super El Nino, investasi pada infrastruktur air bukan lagi sekadar investasi sektor pertanian, tetapi merupakan bagian penting dari strategi menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga.
Langkah berikutnya adalah mempercepat penggunaan varietas tanaman yang tahan kekeringan serta teknologi pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Untuk tanaman pangan, misalnya, pengembangan dan penggunaan varietas padi yang memiliki umur lebih pendek, toleran terhadap kekeringan, dan tetap mampu menghasilkan produktivitas yang baik pada kondisi ketersediaan air terbatas dapat menjadi salah satu strategi adaptasi.
Pada komoditas lain, penggunaan benih jagung toleran kekeringan, penerapan mulching untuk mengurangi penguapan air, penggunaan irigasi tetes pada hortikultura, serta pemanfaatan teknologi soil moisture monitoring dapat membantu petani mengoptimalkan penggunaan air. Pengembangan kalender tanam berbasis prakiraan cuaca dan sistem peringatan dini juga penting agar keputusan tanam dapat disesuaikan dengan kondisi iklim yang diperkirakan.
Peningkatan produktivitas sektor pangan Indonesia perlu dilakukan secara kontinu. Indonesia tidak dapat terus mengandalkan perluasan lahan sebagai sumber utama peningkatan produksi. Dengan keterbatasan lahan dan meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam, peningkatan produksi harus semakin bertumpu pada peningkatan produktivitas.
Berdasarkan kajian Sahara dkk. (2025), pertumbuhan Total Factor Productivity (TFP), yaitu pertumbuhan output yang berasal dari teknologi pada sektor pertanian Indonesia, hanya sekitar 1,46 persen. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan beberapa negara seperti China, yang pertumbuhan TFP pertaniannya dapat mencapai sekitar 4–5 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang besar untuk meningkatkan produktivitas melalui teknologi, mekanisasi, penggunaan benih unggul, digitalisasi pertanian, efisiensi penggunaan air, perbaikan manajemen usaha tani, serta penerapan praktik pertanian cerdas iklim.
Sebagai penutup, fenomena Super El Nino harus dipandang sebagai peringatan bahwa risiko pangan Indonesia ke depan tidak hanya berasal dari kekeringan di dalam negeri, tetapi juga dari global food supply shock secara bersamaan. Ketika produksi Indonesia turun dan negara-negara eksportir pangan juga menghadapi gangguan produksi, pasar internasional tidak lagi dapat dianggap sebagai sumber pasokan yang selalu tersedia.
Oleh sebab itu, strategi ketahanan pangan Indonesia perlu bergeser dari pendekatan yang bersifat reaktif menuju strategi yang lebih antisipatif dengan memperkuat kapasitas produksi dan ketahanan sistem pangan domestik. Perbaikan irigasi dan ketersediaan air, penggunaan varietas tahan kekeringan, peningkatan produktivitas, penguatan stok pangan, serta pengembangan sistem peringatan dini harus menjadi prioritas.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
