Internasional
Iran Syaratkan Gaza, Trump Minta Kompensasi
Negosiasi perdamaian AS-Iran masih buntu.
TEHERAN – Iran dan Amerika Serikat saling bertukar syarat penghentian perang. Pihak Iran kini memasukkan Gaza dalam syaray itu sementara Presiden AS Donald Trump meminta kompensasi.
Seorang pejabat tinggi keamanan Iran menyatakan bahwa Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz kecuali Washington mengubah sikapnya dan menerima syarat-syarat Teheran. Syarat itu termasuk penghentian perang melawan Iran, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta penghentian perang di Gaza dan Lebanon.
Menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, pernyataan tersebut disampaikan oleh Mayor Jenderal Mohsen Rezaei—yang merupakan perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sekaligus sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran—dalam pertemuan dengan Duta Besar China untuk Teheran, Cong Peiwu, pada hari Selasa.
Rezaei menegaskan bahwa Washington harus mengakhiri perang melawan Iran dan mencairkan aset Iran yang dibekukan, sembari juga menyerukan penghentian perang di wilayah lain di kawasan tersebut, khususnya di Jalur Gaza dan Lebanon. Ia menambahkan bahwa Teheran telah menyampaikan syarat-syarat tambahan kepada Washington melalui pihak perantara.
Pernyataan Rezaei semakin memperjelas posisi Teheran terkait negosiasi mengenai Selat Hormuz yang memiliki nilai strategis. Menurut pejabat Iran tersebut, setiap potensi kesepakatan antara Teheran dan Oman mengenai jalur pelayaran yang melintasi selat itu harus dipandang terpisah dari persoalan yang lebih luas, yakni apakah Selat Hormuz itu sendiri akan dibuka kembali.
Komentarnya ini menyusul pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, yang pada hari Senin mengatakan bahwa Iran menganggap penutupan selat tersebut sebagai respons wajar atas penggunaannya dalam serangan terhadap negara itu.
"Pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada situasi dan persyaratan Iran," ujar Baghaei, seraya menambahkan bahwa "selama perang masih berlangsung, kami tidak akan mengizinkan pelayaran melintasi selat tersebut."
Iran dan Oman telah melakukan pembahasan mengenai pengaturan lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz, sementara Teheran berulang kali menegaskan bahwa negosiasi tersebut bersifat bilateral dan bukan merupakan negosiasi dengan Washington.
Rezaei menyampaikan pernyataan tersebut dalam pembicaraan dengan Duta Besar China untuk Teheran, Cong Peiwu, dengan mengaitkan syarat Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam konteks pembahasan yang lebih luas mengenai perang regional dan keamanan maritim.
Cong menegaskan kembali sikap Beijing yang menentang serangan militer terhadap Iran serta menyatakan dukungan China bagi penguatan hubungan antarnegara di Asia Barat dan kawasan Teluk. Pertemuan ini berlangsung di tengah sikap Iran yang bersikeras bahwa pembukaan kembali jalur perairan strategis tersebut tidak dapat dipisahkan dari konflik regional yang lebih luas.
Komentar Rezaei memiliki arti penting menyusul penunjukannya pekan ini sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sekaligus sebagai perwakilan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei di lembaga tersebut. Usai penunjukannya, Rezaei menyatakan bahwa Iran sedang menghadapi salah satu periode paling krusial dalam sejarah modernnya dan menegaskan bahwa Teheran "tidak akan mundur dalam menghadapi ancaman apa pun terhadap hak dan kepentingan rakyatnya.”
Presiden AS Donald Trump pada hari Senin menuntut agar Iran memberikan kompensasi kepada para korban serangan, konflik, dan penindasan dalam negeri yang ia tuduhkan sebagai ulah Teheran. Langkah ini menambahkan syarat baru dalam negosiasi mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
hor
Tuntutan tersebut muncul setelah Iran menegaskan kembali bahwa Washington harus memberikan ganti rugi atas kerusakan akibat serangan AS dan Israel selama lebih dari lima bulan sebelum jalur perairan strategis itu dapat dibuka kembali sepenuhnya.
"Ini adalah gagasan yang menarik karena sekarang saya juga menuntut kompensasi dari Iran, bagi semua orang yang telah mereka tewaskan dan lukai parah akibat bom pinggir jalan serta berbagai konflik yang mereka lakukan," tulis Trump di media sosial.
"Saya telah menginstruksikan para perwakilan saya untuk memasukkan hal ini secara tegas ke dalam setiap negosiasi di masa mendatang.”
Trump juga menyerukan pemberian kompensasi bagi keluarga korban tewas dalam unjuk rasa anti-pemerintah di Iran serta korban tewas dalam pengeboman kapal USS Cole di Yaman pada bulan Oktober 2000. Serangan terhadap kapal perusak Angkatan Laut AS tersebut—yang menewaskan 17 pelaut Amerika dan melukai lebih dari 30 orang lainnya—dikaitkan oleh FBI dengan al-Qaeda, bukan Iran
Patut diingat bahwa eskalasi kali ini dimulai serangan ilegal AS dan Israel ke Iran pada Februari 2026 lalu. Sejauh ini serangan tersebut telah menewaskan ribuan orang di Iran termasuk anak-anak dan perempuan.
Sedangkan di Lebanon, reaksi terhadap serangan itu ditingkahi Israel dengan melakukan bombardir yang membunuh lebih dari 4.000 orang.
Aksi-aksi agresi AS dan politik luar negerinya di Timur Tengah sejauh ini menimbulkan ratusan ribu korban jiwa di Irak, Afganistan, Suriah, Libya, Yaman, dan Palestina.
Saat berbicara kepada para wartawan di Gedung Putih, ia menegaskan kembali tuntutannya akan kompensasi dan menyatakan bahwa AS memiliki kemampuan untuk meningkatkan eskalasi konflik jika mereka memilih untuk melakukannya.
"Kami tentu memiliki kemampuan itu jika kami ingin melakukannya," ujar Trump. "Ya, Anda akan segera tahu." Ia juga mengklaim bahwa militer Amerika menguasai Selat Hormuz dan blokade yang dilakukannya "tak mungkin gagal".
"Kami telah menyapu ranjau di seluruh selat tersebut," tambah Trump. "Namun, kami menguasai selat itu sepenuhnya. Apakah mereka bisa memicu masalah? Ya, mereka bisa saja membuat masalah, tetapi kondisi keuangan mereka sedang terpuruk." Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah dicapai pada bulan April, Washington menerapkan blokade tandingan yang menyasar kapal-kapal komersial yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Akhir pekan lalu, Iran menyatakan sedang mendekati kesepakatan dengan negara tetangga, Oman, mengenai penetapan jalur pelayaran di Selat Hormuz, namun menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur air tersebut masih bergantung pada sejumlah konsesi dari pihak AS.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa Washington harus memberikan kompensasi kepada Teheran atas kerusakan akibat perang, mencabut sanksi serta ancaman militer, menarik pasukan AS dari kawasan tersebut, dan melepas aset Iran yang dibekukan.
"Dari sudut pandang kami, selama pelanggaran terhadap nota kesepahaman belum berakhir dan AS belum memberikan kompensasi atas pelanggaran ketentuan nota tersebut, tidak ada kemungkinan untuk memulai kembali perundingan," ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Ahad.
Pasar saham Amerika Serikat ditutup melemah seiring meningkatnya keraguan mengenai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Indeks Nasdaq dan S&P 500 sama-sama turun pada hari Senin, sementara harga minyak mentah AS naik sekitar 5 persen dan ditutup pada level $82,13 per barel.
Menurut Reuters, para investor sebelumnya berharap adanya kesepakatan antara Iran dan Oman yang dapat membuka jalan bagi pembukaan kembali selat tersebut serta penurunan harga energi yang tinggi—faktor yang telah memicu kekhawatiran mengenai inflasi dan prospek kenaikan suku bunga.
Namun, Iran justru mengajukan sejumlah tuntutan selama akhir pekan sebagai prasyarat untuk membuka kembali selat tersebut sepenuhnya, termasuk tuntutan ganti rugi atas kerusakan yang disebabkan oleh AS dan Israel sejak dimulainya perang pada bulan Februari.
Charles Kupchan, mantan asisten khusus bagi mantan Presiden AS Barack Obama, menepis komentar terbaru Trump mengenai kompensasi dari Iran sebagai sekadar "celoteh" atau saling sindir. "Sayangnya, kita hanya melihat aksi saling sindir di sini, di mana baik pihak Iran maupun pemerintahan Trump tidak benar-benar serius," ujarnya.
Pada akhirnya, tidak ada pihak yang akan mendapatkan apa yang mereka tuntut: Iran tidak akan memperoleh ganti rugi yang mereka minta, begitu pula dengan Trump, katanya. Kedua belah pihak, tambahnya, hanya sekadar melakukan manuver retoris atau unjuk sikap.
Namun, hal yang penting, menurut Kupchan, adalah bahwa Trump tampaknya mulai beralih dari ancaman dan eskalasi menuju sikap yang lebih sabar; ia terlihat lebih bersedia membiarkan blokade laut dan penutupan Selat Hormuz terus menekan perekonomian Iran.
Kupchan mengatakan kemungkinan besar kedua belah pihak pada akhirnya akan menyepakati sebuah perjanjian karena keduanya sama-sama membutuhkannya. "Iran tidak akan bisa bertahan jika tidak mampu mengekspor minyaknya," ujarnya, sementara Trump tidak ingin menghadapi pemilihan paruh waktu AS dengan harga bahan bakar yang tinggi.
Selain itu, terdapat tekanan terhadap Pentagon menyusul laporan mengenai menipisnya cadangan amunisi AS, tambahnya. Akan tetapi, mengingat Pemimpin Tertinggi Iran tampaknya menunjuk tokoh garis keras untuk menduduki posisi militer puncak, kesepakatan mungkin akan lebih sulit dicapai; sikap mereka pun berisiko membuat Iran mengambil langkah yang "melampaui batas" dalam setiap tindakan balasan terhadap AS, pungkasnya.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
