Kelambu Surau | Daan Yahya/Republika

Sastra

Kelambu Surau

Oleh SAUSAN AL WARD

 

Setelah meninggalnya Ongku Rohmad beberapa tahun lalu, pengelolaan suluk di surau Al Amin di pimpin oleh anaknya, Imam Najib. Sejak itu, kegiatan suluk di kampung Batu Dalam tercium aroma ketidakjujuran. Berbeda dengan kepemimpinan ayahnya, Imam Najib tidak transparan dalam pengelolaan dana baik pemasukan maupun pengeluaran, sehingga menimbulkan kecurigaan masyarakat.

Suluk rutin dilakukan sekali setahun pada bulan Rajab sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini didasarkan pada pengalaman nabi Muhammad ketika berkhalwat di gua Hira’ dan nabi Musa di Bukit Sinai. Suluk dilakukan di surau dan menetap selama 10 atau 20 hari, meninggalkan kekayaan dan kesenangan dunia serta membulatkan niat hanya untuk beribadah. Semua itu dilakukan sebagai upaya untuk mensucikan diri dengan menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan lebih mementingkan kehidupan akhirat.

Kebanyakan peserta adalah orang tua yang tidak memiliki aktivitas terikat dan tidak bekerja tetap. Ada dari jamaah tarekat, boleh juga masyarakat umum. Tidak hanya dari kampung setempat tetapi dari daerah yang berbeda.

Selama sepuluh hari menetap di surau dengan beribadah penuh. Untuk biaya sudah gratis. Karena selalu ada donatur yang menyumbang baik uang atau barang. Anggapan orang memberi pada orang yang beribadah akan mendapat berkah yang banyak. Sumbangan melimpah baik dari warga atau keluarga suluk. 

Kegiatan suluk menjadi kebahagiaan dan disambut warga kampung Batu Dalam. Karena dengan suluk suasana keislaman terasa pekat. Sering mendengar kajian. Setiap masuk waktu salat, azan selalu berkumandang. Sebelum subuh sudah terdengar tarhim dari surau.

Keseharian yang dilakukan oleh jamaah suluk misalnya shalat subuh berjamaah, kemudian mendengarkan tausiah dengan berbagai tema seperti ilmu fiqih, tauhid, dan tafsir hadis. Selanjutnya memperbanyak zikir. 

Dalam kegiatan suluk, setiap jamaah memiliki kelambu untuk istirahat dan beribadah terutama berzikir. Kelambu tersebut terpasang pada bagian belakang surau dengan posisi jamaah laki-laki dan perempuan terpisah. Termasuk juga beberapa guru atau mursyid.

Jamaah harus mematuhi adab-adab suluk. Dimulai dengan niat mensucikan diri, bertaubat dari dosa lahir dan batin yang diawali dengan mandi taubat, menjaga wudu, senantiasa berzikir, melepaskan segala keinginan duniawi. Memperbanyak ibadah zikir dan membatasi pembicaraan yang tidak penting antara sesama peserta, mengurangi tidur dan menghindari makanan yang berasal dari daging hewan.

Hari pembukaan suluk dihadiri keluarga, warga kampung dan guru-guru tarekat dari beberapa daerah. Setelah pembukaan dilanjutkan makan bersama. Ibu-ibu memasak bersama untuk hidangan jamaah dan tamu. Pembukaan sangat mewah karena masing-masing keluarga ahli suluk banyak juga membawa buah tangan.

Sinur, salah satu qadam perempuan membantu kegiatan suluk. Mereka menyebut panitia suluk dengan qadam, baik laki-laki atau perempuan. Sinur turut menerima pemberian yang dibawa tamu dan keluarga.

Beragam makanan seperti bolu, kue mojo, wajik, pulut, lemang dan lain-lain. Kue-kue tersebut dikumpulkan di rumah Imam Najib yang memang bersebelahan dengan surau. Seperti biasa, rumah besar itu untuk menyiapkan keperluan dan tempat makan para guru dan mursyid selama suluk. Ketika hidangan disajikan, menimbulkan muncul keanehan dan tanya panitia.

“Mengapa sedikit makanan yang keluar? Tadi banyak yang datang,” tanya Sinur kepada rekannya saat hidangan disiapkan. Ia melihat sajian tampak sedikit.

“Entahlah. Semua bawaan tadi dikumpulkan bersama lauk di kamar. Bu Aan meminta menyajikan ini,” jawab Lili, teman Sinur yang membantu mempersiapkan hidangan.

“Hmm. Laki bini sama saja,” gerutu perempuan paruh baya itu geleng-geleng. Kejanggalan ini terjadi lagi seperti tahun sebelumnya.

Yang mendengar hanya tersenyum masam.

Hari-hari selanjutnya para qadam juga merasakan adanya pembatasan belanja keperluan suluk.  Setiap hari Najib dan istrinya, Bu Aan pergi ke pasar membeli kebutuhan dapur. Keuangan suluk memang diserahkan kepada sepasang suami istri tersebut. Pengurangan pembelanjaan makin terlihat, seperti ikan berukuran kecil-kecil serta sayur mayur yang murahan. Pada hal, sumbangan yang terdengar terbilang besar hampir puluhan juta rupiah. Dana suluk tahun kemarin konon masih tersisa banyak.

Selain itu, donatur juga menyumbangkan makanan pokok seperti beras, gula, minyak dan makanan lainnya. Apalagi yang makan orang tua-tua tidaklah habis seberapa. Dengan peserta dua puluh lima orang, sedangkan guru-guru dan mursyid tidak sampai sepuluh orang. Jika untuk jamaah hanya memasak nasi dan sambal sederhana, biasanya panitia menyediakan sambal kelapa parut. Hal ini terkait dengan adab suluk yang harus menjaga makanan. Namun, untuk para guru dan mursyid tetap diberikan lauk-pauk yang wajar. Karena mereka para guru yang harus dihormati.

Bisik-bisik di antara qadam mulai terdengar.

“Jadi siang ini masak gulai ikan salai saja? Nggak ada menu lainnya?” Sinur memegang ikan salai patin berukuran kecil-kecil.

“Sudahlah masak aja apa yang ada,” jawab Lili.

“Susah dengan Najib ini. Semua belanjaan diirit. Dulu masa Ongku Rohmad mewah. Keluarga masak sendiri. Sekarang anak menantunya malah ikut makan,” sembur Sinur.

“Huss, nanti terdengar.” Lili kembali mengingatkan di sudut luar surau tempat mereka memasak. Seperti biasa para qadam tidak bisa berbuat banyak, mereka memang hanya berniat membantu kegiatan ibadah ini. 

Setelah sepuluh hari berlalu, sama seperti pada hari pertama, hari terakhir juga dilakukan penutupan dan makan bersama. Sebagian makanan yang dibawa keluarga dan tamu tidak semua terlihat.

Kecurigaan makin terbukti ketika Sinur menyiapkan makanan. Tanpa sengaja ia yang berada di kamar hidangan melihat sebuah tumpukan yang ditutup. Perempuan paruh baya itu melihat beberapa macam bungkusan yang disembunyikan. Ia berinisiatif mengambil kue-kue tersebut dan dihidangkan.

Permasalahan suluk telah menjadi buah bibir sekampung. Kecurangan Imam Najib dan istrinya menjadi perbincangan. Beberapa orang mulai mendiskusikan untuk mengubah pengelolaan suluk yang seharusnya bukan warisan tetapi dikelola bersama. 

“Suluk ini kegiatan rutin di kampung. Jadi harus ada transparansi pengelolaan, dari pada kita hanya berbicara di belakang lebih baik kita selesaikan,” ujar Pak Sar sesepuh kampung Batu Dalam.

“Bagaimana kalau masalah ini kita rapatkan bersama pengurus surau dan tokoh masyarakat? Suluk ini tidak mesti dikelola sendiri oleh Pak Imam.” Pak Kadir memberi usul.

“Setuju. Tunjuk saja panitia yang bekerja. Jadi kita harus rapat,” usul Pak Jai.

“Bagaimana caranya menyampaikan ke Pak Imam? Takutnya tersinggung.” Pak Khoir ragu.

“Pak Sar saja yang bicara langsung,” ujar Pak Kadir.

Mereka semua sepakat. Rapat kecil-kecilan tersebut akan dilanjutkan. Belum sempat dirundingkan, ketika Pak Sar mengajak Pak Imam mengusulkan rapat yang direncanakan, laki-laki tua itu sudah curiga dan tersudut.

“Jika masyarakat tidak percaya, silahkan datang ke rumah, Pak. Akan saya perlihatkan dana masuk dan pengeluaran.” Pak Najib mulai tampak kesal.

“Bukan maksud mencurigai Nak Najib, masyarakat kita hanya ingin pembaharuan dalam pengelolaan suluk.” Pak Sar berhati-hati.

“Saya hanya melanjutkan amanah dan tugas Ayah saya. Kalau tidak percaya tahun depan tidak usah lagi suluk di surau ini,” jawab Imam Najib kesal.

Pak Sar tidak ingin berbincang lanjut. Ia lebih memilih diam dan mengakhiri pembicaraan. Rapat tentang kegiatan suluk batal dilaksanakan. Mendengar cerita Pak Sar, tetua lainnya urung melakukan pertemuan.

Beberapa bulan berikutnya, Pak Najib membeli motor baru. Tahun lalu ia juga membeli motor untuk anaknya. Dua tahun sebelumnya ia membeli perabotan rumah. Bisik-bisik warga, setiap selesai suluk, ada saja yang didapatkan Imam Najib. Makin kuatlah kecurigaan korupsi dana suluk.

Selain itu, beras dan belanjaan sumbangan yang bersisa juga tidak tahu kemana. Ketika suluk berakhir masih banyak barang-barang tersebut berlebih. Pak Najib dan keluargalah yang mengelola. Itulah orang-orang menduga sedekah suluk untuk kepentingan pribadi. Berjalannya waktu masyarakat tidak lagi peduli. Semuanya lebih sibuk mencari penghidupan masing-masing. Suluk hanya dilakukan sekali setahun. Jika pun demikian, biarlah urusan Pak Imam di akhirat kelak.

Suatu hari terdengar kabar istri Pak Najib kecelakaan di pasar. Ketika sepasang suami istri itu hendak pulang, Bu Aan belum duduk sempurna, Najib sudah menjalankan motornya. Perempuan tersebut jatuh dan terhenyak di aspal. Bu Aan harus menjalani operasi tulang pinggul dan pengobatan yang menelan biaya hampir Rp 30 juta. Warga tidak lagi kasihan, mereka hanya mencibir dan menganggap balasan untuk Najib.


Pekanbaru, 09 September 2025

***


Sausan Al Ward berdomisili di Pekanbaru. Di antara capaiannya adalah Emerging Balige Writers Festival (2025), Juara I lomba cerpen Penerbit Kertas Sentuh (2021), Terbaik II Apresiasi Cerpen Riau Sastra Festival (2023), Juara II Lomba Cerpen Penerbit Prospec Media (2021), Pemenang Unggulan III lomba Cerpen Sastravaganza Tempo Institute (2024), Juara III lomba Cerpen tingkat Nasional Penerbit Media Lintas Pustaka (2023), Juara III Lomba Dongeng Tianisa Bookstore (2021), Juara Harapan I Lomba Cerpen The Journalist Publishing (2021), 15 besar penulis terpilih penulisan esai Inkubator Literasi Pustaka Nasional Tk Provinsi Riau (2023), Lolos kurasi puisi lokal dan internasional. Peserta Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi (2024). 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat