Aku Gagal Menjadi Ikan | Daan Yahya/Republika

Sastra

Aku Gagal Jadi Ikan

Puisi-puisi Adri Sandra

Oleh ADRI SANDRA

Aku Gagal Jadi Ikan


setelah sumur, lama aku baru mengenal sungai

karena ibu sangsi aku hanyut bila mandi, dan menyuruhku sebelum ke sungai

belajar pada ikan cara berenang

 

pada kolam dan aquarium, setiap saat kuperhatikan ikan-ikan yang lincah

memainkan sirip dan ekornya

lalu masuk ke kolam meniru mujair dan gurami

tapi tak sanggup menahan berat badan, setiap kucoba nyaris tenggelam

 

aku percaya pada sirip dan ekornya, sesuatu yang tak kupunya

pagi kutatap seekor nila menempelkan tubuh pada kakiku

ketika siang aku pun menuju sungai itu

 

dengan percaya diri aku mencebur

menggerakkan tangan dan kaki di air mengalir

tapi harapanku seperti ikan jadi kandas, saat arus membawaku hanyut

seperti sepotong kayu, timbul tenggelam di panjang sungai berliku

 

kini aku di sini, tersangkut pepah

angin membawa bau garam, pertanda aku tak jauh dari laut

aku tak bisa bergerak, lemas seluruh sendi

bertahan hidup dan mati

di daerah tak kukenal, jauh dari orang tua di rumah

 

adakah ibu mencari bapak mencari, diriku tak jelas  ke mana pergi

di pepah itu aku masih menyimpan sedikit napas

memandang malam akan turun, dingin membelit nadi

tubuh kian salju

 

kalau ajalku ditakdirkan di sini, ya di sungai ini

“ibu bapakku, aku gagal jadi ikan yang mahir berenang

lupa aku tak punya insang

kini air memenuhi paru-paru!”

 

pesan itu kukirim lewat angin lalu 

bertiup entah ke mana, membawa sayup suaraku

 

Air Hitam, 2026

***

 

Biarlah, Biar

 

kini, lebih baik aku memandang sekitar

tempat hidup dan berdiri

sendiri dalam sunyi, atau mendengar kicau burung

bebas dengan angkasanya yang bersih

bertudung awan putih

 

bila aku memandang di luar dari tempat kaki berpijak

aku melihat kejadian yang akan melimpah dalam kepala

kebenaran yang dijajah ketidak-adilan

perdebatan yang disertai dengan ocehan

bila suaraku ada di anatara itu, ia akan hilang

gemanya tertimbun runtuhan batu

 

lebih baik aku sendiri, memikir hidup dalam lengang

badai yang bertiup, tak akan dapat kujinakkan

dengan sehembus napas

badai yang menumbangkan beribu pohon

badai yang menggelombangkan laut jadi tsunami

 

aku di sini, tak sesiapa

punya kepala, isinya sebatas diri

punya jiwa, luasnya setumpuk hati di dinding dada

diri yang kecil, biarkan aku merdeka di tempat terpencil

tak memikirkan hurahara di bumi

 

aku tak hendak jadi orang penting

karena orang penting sering terpelanting oleh gerak sendiri

biarlah aku di sepetak tanah kecil, rumah kecil

pandangan kecil

tak ingin berpijak di bumi luas yang miring

 

biarlah aku di sini, di rumah sendiri

karena orang bodoh kini banyak hebat

dan orang pintar dikendalikan orang dungu

 

biarlah biar, karena biar

tak menghambat langkah dan pikiran

pada halaman sunyi hidup

biarlah aku jadi orang yang tak hebat

biarlah aku dungu tak dikendalikan orang pintar

 

Payakumbuh, 2026

***

 

Di Bawah Dua Pohon Rimbun

 

siapa lagi akan kau singgahi, selain kubur kanan kiri

onggok batu nisan menunggu

pengembara-pengembara yang akan melepas ajal tubuhnya

kini berjalan jauh dan dekat buat kembali

 

barangkali kau mendengar suara ribut berpindah-pindah 

dari satu tempat ke tempat lain,pada sebuah rimba kau kira jauh

tapi amat dekat dengan dirimu

ketika berhadap-hadapan bersulang segelas air

tetes dari daun bunga kemitir

 

tapi denting logam dalam kepalamu tak akan memecah kesunyain

atau juga mengggugurkan daun-daun pepohonan di sampingmu

karena angin meluncur lebih kuat sedepa dari permukaan tanah

menerbangkan debu yang melekat di onggok batu-batu nisan itu

 

lalu engkau memandangku, seperti aku juga memandangmu

“kumuh sekali matamu, seperti timbunan debu!” ujarmu 

“begitu juga mata dan seluruh tubuhmu, penuh lumpur!” balasku

 

kami melangkah seperti pengembara-pengembara itu

mencari jalan lurus dan telaga jernih tempat mandi

di bawah dua pohon mewangi kesturi

 

suara ribut dan denting logam di kepalamu

hilang di pendar air telaga

kita melihat bayangan di dasarnya, tersandar di batu nisan

kubur yang tenang paling damai dan abadi

 

Payakumbuh, 2026

***

 

Di Sini Taman Memisah Bunga

 

Rumi telah menitipkan cinta pada taman bunga

pada kembang yang kuncup

 

tapi sepagi ini belum ada kupu-kupu mencari madu

pun kumbang masih dalam liang kayu

 

maka aku ingat keabadian itu tergantung

pada suatu beban, yang berat terasa ringan

 

bila kau tak mengenal Wajah yang tak kau lihat

yang ringan akan terasa berat

sebuah kebun bunga akan berganti semak belukar

 

ketika Rumi bertaman puisi

kumbang dan kupu-kupu memadu sari

 

tapi di sini taman memisah bunga

tak ada cinta yang akan kau sentuh

 

bila kumbang dan kupu-kupu datang

ia akan memadu kembang empedu tanah

dan Wajah itu memantik api di belakang matamu

 

di hari-hari ganjil aku melihat domba-domba jinak tertidur

di setiap daun telinganya ulat jadi kepompong

 

saat menetas, di bawah bulan kapas

mereka hanya mengenal taman tanpa bunga

pada hari-hari yang kosong

 

Tanjungpati, 2026

***

 

Kami dan Mereka tak Punya Rumah

 

Ada yang terpisah dari pulau ke pulau

di sini kami mengetam kayu

buat tonggak rumah yang akan kami huni

 

di seberang samudera orang-orang membuat atapnya

meruncing besi jadi paku

 

tapi laut tak lagi menerima kapal dan perahu

angkasa tak menerima pesawat terbang

 

di pulau ini kami sia-sia menunggu

di pulau itu orang-orang tak punya pohon dan gergaji

 

kami tak bisa mendirikan rumah

seperti juga mereka, tak memiliki tempat tinggal

 

kami punya tonggak

mereka memiliki atap dan paku

 

langit dan bumi kian menjauh

tak saling sentuh

 

Payakumbuh, 2026

***

 

Catatan 1996

bersama D. Zawawi Imron

 

pantai dan laut, angin menggelombangkan rambutku

engkau menunjuk lurus ke sebuah arah

“lihat, itu perahu Makasar dan Madura, berlayar sejajar

di laut lepas!”

 

aku pun memandang, dua ragam warna di angin yang sama

memukat biru langit bercermin di samudera

desah angin kembali menderai rambutku

 

“ya, laut dan perahu, sejarah tua nenek moyang

dihela ombak, menggaram di pasir pantai!”

 

di bawah sebatang pohon, bernaung awan putih

kita membuhul waktu di tambatan perahu

entah kapan kita buka kembali

 

Muaro, 2026

***

 

Adri Sandra lahir di Padang Japang , Payakumbuh, Sumatera Barat. Menulis dari tahun 1981 berupa puisi, cerpen dan karya ilmiah. Karya tulisnya dimuat di berbagai media. Puisi-puisinya terangkum di bunga rampai yang terbit di Indonesia dan Malaysia. Beberapa puisinya tercatat sebagai pemenang Lomba Cipta Puisi Nasional yang diadakan di beberapa kota di Indonesia. Di antara kumpulan puisi tunggalnya : Luka Pisau (DKSB, 2007) . Cermin Cembung (Sarjana Media , Kuala Lumpur, 2012). Darah Angin (Kabarita,  2016). Negeri Bawang Merah (Kabarita, 2022). Selain menulis juga senang baca puisi dan melukis .

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat