Internasional
Stok Rudal Pencegat AS Menipis
Iran dan AS masih terus melakukan saling serang.
WASHINGTON – Militer Amerika Serikat dilaporkan kian kehabisan pencegat untuk menangkal rudal Iran. Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyatakan bahwa AS telah menggunakan sekitar sepertiga dari rudal Patriot dan sekitar separuh dari rudal pencegat THAAD miliknya sejak dimulainya perang melawan Iran.
Lembaga tersebut menyebutkan bahwa AS diperkirakan memiliki 2.330 rudal pencegat Patriot sebelum perang, dan kini memiliki sekitar 759 hingga 827 unit. Terkait rudal pencegat THAAD, AS diperkirakan memiliki 452 unit sebelum perang, dan kini memiliki sekitar 234 hingga 278 unit.
CSIS menyatakan bahwa angka-angka tersebut diperoleh dari dokumen anggaran Departemen Pertahanan AS untuk tahun 2027 serta informasi publik.
Mereka memperingatkan bahwa perang lanjutan "akan menguji persediaan rudal pencegat yang telah berkurang", seraya menambahkan bahwa menipisnya stok tersebut "dapat memaksa Amerika Serikat dan mitra koalisinya untuk mengambil risiko lebih besar dalam melakukan intersepsi".
Ryan Bohl, seorang analis senior Timur Tengah di RANE Network, juga mengatakan kepada Al Jazeera bahwa persediaan persenjataan canggih AS mulai menipis. "Ini mencakup senjata standoff gabungan yang dapat ditembakkan dari negara lain serta amunisi pertahanan udara kelas atas, seperti THAAD—persediaan untuk jenis-jenis senjata ini sudah sangat menipis, dan berdasarkan berbagai laporan, banyak perencana di Pentagon sangat mengkhawatirkan ketersediaannya di masa mendatang," ujarnya.
Bohl menambahkan bahwa AS "memiliki persediaan yang bisa dibilang tak terbatas berupa bom konvensional (dumb bombs) yang dapat mereka gunakan untuk menyerang pihak Iran".
Namun, penggunaan senjata tersebut mengharuskan pesawat terbang memasuki wilayah udara Iran, katanya. "Kita sudah melihat sebuah F-15 ditembak jatuh. Kita juga melihat F-35 yang sempat terkena serangan pertahanan udara Iran. Menurut saya, pemerintahan saat ini tidak terlalu berminat menggunakan sistem yang lebih sederhana namun berisiko tinggi tersebut, mengingat ancaman militer yang ditimbulkan oleh pertahanan udara Iran terhadap mereka."
Selama 13 hari terakhir saat Amerika Serikat terus-menerus melancarkan ke Iran. Sementara respons Iran secara khusus tertuju pada tiga negara: Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Akun-akun media sosial yang dekat dengan IRGC atau pihak berwenang di Iran menyatakan bahwa beberapa rudal yang menghantam Iran diluncurkan dari Kuwait, dan muncul seruan untuk menyerang Kuwait.
Diperkirakan Iran akan membalas dengan serangan rudal yang menyasar pangkalan militer AS, khususnya di Kuwait kali ini. Bahrain juga masuk dalam daftar target pihak Iran.
Iran menegaskan bahwa respons mereka merupakan tindakan balasan; jadi, jika Amerika Serikat menyerang Iran, maka mau tidak mau Teheran akan memberikan respons.
Serangan AS
Menurut pejabat Iran, sebuah bangunan tempat tinggal di Pulau Qeshm terkena serangan AS, dan tiga orang dilaporkan terjebak di bawah reruntuhan. Pihak berwenang juga menyatakan bahwa pulau tersebut mengalami pemadaman listrik, dan petugas sedang berupaya memulihkan aliran listrik.
Dua orang yang terluka akibat serangan tersebut telah dilarikan ke rumah sakit, dan proses pembersihan puing-puing sedang berlangsung.
Pola serangan terbaru ini serupa dengan apa yang terjadi dalam kampanye militer 13 hari yang dilakukan oleh AS, di mana serangan terkonsentrasi di provinsi-provinsi bagian selatan Iran, khususnya di wilayah sepanjang Teluk dan Selat Hormuz.
Pulau Kish juga terkena serangan, meskipun pihak berwenang menyatakan tidak ada gangguan pada jadwal feri penumpang maupun kendaraan, ataupun pada operasional pelabuhan di sana.
Di Bandar Abbas, laporan mengenai adanya ledakan kemudian diklarifikasi oleh pihak berwenang; mereka menyatakan bahwa suara yang terdengar bukan berasal dari serangan terhadap kota itu sendiri, melainkan gema dari serangan di Pulau Qeshm.
Selain itu, Provinsi Fars—satu-satunya provinsi nonpesisir Iran yang diserang—juga menjadi sasaran, dengan kota Kazerun sebagai targetnya. Fars terletak di wilayah tengah Iran. Selanjutnya, di Provinsi Khuzestan, setidaknya tiga lokasi terkena serangan. Wilayah ini dianggap sebagai jantung industri minyak Iran.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan "kecaman keras" terhadap serangan berkelanjutan Iran terhadap Yordania, demikian dilaporkan kantor berita Saudi, SPA.
Dalam sebuah pernyataan, kementerian tersebut menegaskan kembali solidaritasnya dengan Yordania serta mendukung "segala langkah yang diambil untuk menghadapi serangan Iran, yang melanggar hukum internasional dan prinsip-prinsip hubungan bertetangga yang baik".
"Kerajaan menekankan pentingnya penghentian segera serangan terang-terangan Iran terhadap Yordania dan negara-negara lain di kawasan tersebut, serta menggarisbawahi perlunya langkah-langkah serius untuk menjaga keamanan dan stabilitas negara-negara di kawasan beserta rakyatnya," tambah pernyataan itu.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
