Ekonomi
KESGI 50 Gabungkan Kinerja ESG dan Fundamental Emiten
Investor mendapat gambaran lebih utuh sebelum memilih emiten.
JAKARTA — Investor pasar modal menghadapi kebutuhan untuk menilai kinerja keberlanjutan sekaligus kesehatan fundamental emiten sebelum mengambil keputusan investasi. Kebutuhan tersebut mendorong pengembangan KESGI 50 Index yang menggabungkan penilaian ESG, fundamental, likuiditas, free float, dan valuasi emiten dalam satu indeks.
Co-founder dan Chief Content Officer Katadata Heri Susanto mengatakan, investor kerap menghadapi dilema ketika memilih antara emiten dengan kinerja ESG baik tetapi profitabilitas dan likuiditas saham belum optimal, atau emiten dengan fundamental kuat namun kinerja ESG belum optimal.
“Selain informasi performa ESG, investor juga butuh informasi emiten ESG mana yang juga memiliki fundamental sehat dan bankable. KESGI 50 hadir untuk menjembatani dua kebutuhan itu sekaligus,” kata Heri dalam kegiatan Sustainability Action for The Future Economy (SAFE) 2026 di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
KESGI 50 menggunakan tiga lensa fundamental, yakni performa ESG yang mengacu pada metodologi Katadata ESG Insight (KESGI), kualitas fundamental emiten, serta kelayakan pasar seperti likuiditas dan free float.
Indeks tersebut juga memasukkan market valuation sebagai aspek tambahan untuk membedakan emiten berkualitas dengan daya tarik valuasi.
Pendekatan tersebut menempatkan kinerja ESG dan kondisi keuangan perusahaan dalam penilaian yang sama. Dengan demikian, investor tidak hanya memperoleh informasi mengenai pengelolaan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, tetapi juga dapat melihat kondisi fundamental serta karakteristik saham emiten.
KESGI 50 juga diposisikan sebagai pelengkap terhadap sejumlah indeks ESG yang telah tersedia di Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti IDX ESG Leaders dan ESG Quality 45 IDX KEHATI. Perbedaannya terletak pada penggunaan data ESG berbasis konteks Indonesia yang kemudian dikaitkan dengan kondisi pasar.
“Bagi investor, KESGI 50 menjadi filter yang lebih andal untuk emiten yang ESG-nya sehat sekaligus performa finansial yang andal. Bagi emiten, masuk dalam 50 konstituen ini menjadi insentif nyata untuk terus memperbaiki disclosure ESG dan fundamental bisnisnya,” pungkas Heri.
Pengembangan indeks tersebut berlangsung ketika informasi ESG semakin menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai perusahaan. Namun, kualitas pengelolaan ESG tetap perlu dibaca bersama kemampuan perusahaan menjaga kinerja keuangan dan kondisi saham di pasar.
Sebelumnya, Katadata telah mengembangkan dashboard Katadata ESG Insight yang mengukur kinerja keberlanjutan melalui sekitar 100 indikator. KESGI 50 selanjutnya direncanakan diluncurkan dalam waktu dekat di Bursa Efek Indonesia.
Kehadiran indeks yang menggabungkan aspek ESG dan fundamental menunjukkan semakin luasnya kebutuhan terhadap informasi perusahaan yang tidak hanya menggambarkan kinerja keberlanjutan, tetapi juga relevan dengan kondisi bisnis dan pasar.
Bagi investor, kombinasi tersebut menjadi informasi tambahan untuk melihat perusahaan dari sisi keberlanjutan sekaligus kemampuan finansialnya.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
