Puisi Cerita Orang Urban Mengingat Masa Kecil | Daan Yahya/Republika

Sastra

Cerita Orang Urban Mengingat Masa Kecil

Oleh KHA. MAJDI

Cerita Orang Urban Mengingat Masa Kecil (I)

 

Siapakah yang mencacah ingatan menjadi yatim piatu

Yang kesepian di sudut kota. Suara ibu telah berhenti terdengar

Kata-kata meringkuk di belakang rumah. Hanya abu kesunyian

Bekas peleburan tulang seorang ayah. Terjali dalam keretakan malam

 

Di sini aku menghidu wangi darah yang menempel di kokoh batu

Sekar halus bunga-bunga memancar dari utara. Persis ketika ingatan bangkit

Di atas kuburan api. Ia membaluri setiap kerikil

Yang terserak-serak di sepanjang jalan

 

Ingatan masa kecil seperti duka terpencil yang sembunyi

Di halus rambut anak kecilmu. Namun, erangan gagak malam

Memanaskan karat tubuh kecilnya seperti besi tua yang disepuh

Api segala cahaya. Di manakah aku? Aku, di manakah?

 

Aku bertanya:

Kepada siapakah ingatan meminta jalan pulang

Kepada kuburkah. Atau pikiran-pikiran moderna?

 

Lombok, 2026

***

 

Cerita Orang Urban Mengingat Masa Kecil (II)

 

Malam merebahkan tubuhku di pinggir kota tua

Di seberang jalan menuju lautmu lampu-lampu taman

Menyemburkan kuning api kemurungan. Aku menangkapnya pelan

Sambil menelan darah kabut. Lalu aku membaringkan

Tubuhku di atas suara-suara yang tidak kukenal. Membiarkan diriku

Dilindas deru-deru mesin yang saling buru di bening udara paling malam

 

Aku menertawakan kesendirianku mungkin juga kematianku

Sedang orang gila di dekatku menangis sersedu-sedu melihatku

Tertawa tanpa rasa bersalah. Dan cahaya yang kental itu berhenti

Menyentuh bayanganku dalam ketiadaan yang telah lenyap

Pada dinding sebuah bangunan

 

Aku tertawa sambil menghikmati seluruh bunyi-bunyian;

Seluruh ingatan masa kecil manakala aku masih bisa berpeluk

Pada ketulusan buaian. Namun tidak satupun dapat kutangkap

Dalam terang bebintang. Kecuali hanya bau bangkai malam

Yang terhidu lewat penciuman paling majal

 

Adakah malam yang bersedia membawaku kembali pada ingatan lain

Ketika aku masih sanggup bersila seperti kukuh batu

Di hadapanmu sambil semadi bersama ilalang pegunungan

Seraya menerjemahkan suara-suara jeritan orang urban

Seperti padi yang yang menghikmati seluruh suara samar di ladang orang

 

Lombok, 2026

***

 

Cerita Orang Urban Mengingat Masa Kecil (III)

 

Sebuah kursi menopang tubuhmu ketika malam hampir tumpas

Jarak laut tinggal sejengkal dari bibirmu. Membuat luka menganga

Semakin perih serasa dilumat lidah garam. Laut itu begitu dekat

Melekat di tengkuk seorang perempuan. Campak!

 

Mata malam membuka jalan-jalan. Membiarkan angin maut

Pelan-pelan menyusup seperti bajak laut yang meranggas hening lelautan

Jalan-jalan di kota membelah malam kemudian. Sebagai balas dendam;

Jalan-jalan itu menciptakan bengkahan bagi kematian ikan-ikan

 

Di manakah jalan menuju masa kecil manakala suara ngilu tetulang

Lebih nyaring dari jeritan ingatan. Aku semakin dingin dan menggigil

Setelah manis anggur yang kuteguk berhenti membiusku

Membakarku. Mencakarku dalam beku mata elang

 

Aku semakin luput dari ingatan yang membawaku ke tempat ini

Kota, di manakah kau sembunyikan ingatan masa kecilku?

Beri aku kandil. Aku hanya ingin jadi damar yang sedikit terang

Dalam gua dangkal yang sembunyikan bayang-bayang ingatan

 

Lombok, 2026

***

 

Cerita Orang Urban Mengingat Masa Kecil (IV)

 

Jalan-jalan bermekaran. Sebagian semata lurus

Semacam pikiran masa kecilmu. Sebagiannya lengkung

Dan simpang serupa guritan pada telapak tangan

Yang memikul piatu tubuh kelabumu

 

Di sudutmu, Kota. Karung loak dipanggul di punggung malam

Keringat anyir para pemulung berserakan di jalan-jalan

Hingga lampu-lampumu menuntunnya menuju rumah masa lalu

Tempat cerita cinta tumbuh tersia-tersia. Tempat sakit dan derita

Sepakat memeluknya; di antara tubuh lingsir dan perih kelopak mata

 

Aku berjalan pelan. Sesekali aku menjatuhkan tubuhku

Di sebuah kursi panjang yang menghadap ke jalan

Sambil melihat bentangan aku membiarkan suara sendiri

Tenggelam dalam suara-suara yang tidak kukenal. Sedang di atasnya

Lelaki tua berjalan tertaih-tatih memikul simpang siur perjalanan

 

Aku tersungkur mengukur jarak tempuh; jarak yang gagal

Mempertemukanku dengan seseorang. Sebab jari seorang penyair

Lebih dulu mengukurnya dalam ketepatan kata-kata. Dengan mata pena

Penyair itu mencakar tubuh seekor elang yang mengitari suluh sepanjang malam

 

Tetapi aku bukan seekor elang, Tuanku. Sebab di tubuhku masih melekat

Segala sisik ikan. Insangku masih kuat menopang denyut gelompang

Walau pasir pesisirku hanyalah tempat singgah bagi sampan-sampan

Dengannya aku bangkit meneruka ingatan demi ingatan

 

Lombok, 2026

***

 

Cerita Orang Urban Mengingat Masa Kecil (V)

 

Semenjak kematian itu malam hanya mengandung suaka

Bagi ingatan masa kecilku. Aku melepaskan diri

Satu jalan lintang menyeretku ke sebuah jurang. Sebuah peti mati

Bagi sekerat daging dendam yang telah padam

Aku terbenam. Lepas dari ingatan

 

Aku ingin menemukan dirimu di kedalaman. Dalam mantra

Yang diberikan leluhurku. Mantra yang menjadikanmu

Sebatang kayu emas yang terpancang sekukuh tiang-tiang palsu

Di atas letih belasan perjalanan

 

Di sini di jalan yang kupijaki

Kudapati gerimis memercikkan tempias darah di matamu

Hingga tersentuh dingin ujung namaku: Merah!

Aku segera melompat dari kata yang satu menuju kata yang lain

Sebab aku tidak ingin air mata yang nakal itu

Membuat waktu menggigil dalam diriku

 

O, masa kecil. Di mana kausimpan ingatan kita

Yang naif itu? Sebab betapa kasihan sepanjang jalan

Aku hanya bisa memikul busuk dendam di lekuk dada orang

Maka demi dirimu: Maafkanlah. Sudikanlah. Perkenankanlah

Sajak-sajak kecil ini sebagai tebusan. Agar aku dapat melihatmu kembali

Walau hanya dari teluk paling timur dari nasib bangsaku

 

Lombok, 2026

 

Kha. Majdi, lahir di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 9 Agustus. Mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor, Lombok, dengan konsentrasi Hukum Ekonomi Syari’ah. Aktif bergiat di komunitas Kelas Reading Buya Syafii, sebuah komunitas nirlaba yang berfokus pada pemikiran Islam dan pembacaan Sastra di Lombok Timur. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai yang tersiar di berbagai media digital, baik daerah maupun nasional. Bisa dihubungi di email: khaerulmajdisyahdana@gmail.com.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat