Cerpen Perempuan dan Bulan | Daan Yahya/Republika

Sastra

Perempuan dan Bulan

Oleh SURIA TRESNA

 

“Aku mengantuk, Bang….” Piana membalikkan badan, memunggungi suaminya.

Wajah perempuan itu terlihat pucat di bawah bias cahaya rembulan yang masuk lewat celah jendela. Ia sengaja menempatkan posisi tempat tidurnya bersisian dengan jendela kamar yang tirainya dibiarkan terbuka. Hanya bulan tempatnya bercerita. Tentang masa depan yang tak pernah membayang. Atau tentang harapan yang tak pernah pulang.

“Mengantuk lagi alasanmu. Dari tadi kulihat kau sibuk saja melihat hape.” Adri, suaminya, tak kuasa menyembunyikan rasa kesal.

“Ini sudah tiga minggu,” lanjutnya.

Piana duduk dengan tergesa. Matanya merah, menatap Adri dengan napas tersengal. Ia berbisik, namun ucapannya mampu menyayat siapa pun yang mendengarnya. Piana mendesis tak kuasa menahan lagi.

“Aku lelah, Bang. Aku tidak berselera. Besok seragamku datang, COD. Akan kupakai untuk pelantikan hari Senin. Sementara uang tidak ada. Tadi kurir sudah datang, kusuruh dia balik lagi besok.”

Bulir bening mengalir dari bola matanya. Bulan, begitu dulu Adri sering memanggilnya. Perempuan bermata bulan. Namun ke mana perginya mata indah itu? Yang tampak hanya kawah gunung api yang sekarang melelehkan lahar panas.

“Besok kucarikan kau uang, tenang saja,” Adri melembutkan suaranya sambil mengelus punggung istrinya itu.

Piana menepis tangan suaminya.

 “Sudah tiga hari kau bilang begitu. Tiga kali pula kusuruh kurir itu pulang. Katanya besok kalau tidak kutebus juga, baju itu akan dipulangkan.”

“Untuk apa kau ikut pelantikan itu, ha? Kabarnya tidak ada juga gajinya.” Adri bangkit dari duduknya. Sebenarnya dia juga merasa sangat iba melihat istrinya itu. Namun ia juga sudah berusaha. Nasib baik masih saja belum memihak mereka.

“Biarlah tak bergaji, yang penting orang tuaku bangga. Perjuanganku bertahun-tahun. Daripada kau, Bang. Sudahlah tak bergaji, tak berseragam pula!” Piana mulai naik pitam. Ia sangat ingin mengikuti pelantikan itu. Di tengah kesumpekan ekonomi yang terus menghimpit, setidaknya dengan seragam kebanggaan itu ia bisa menegakkan kepala di hadapan orang tua dan masyarakat. Piana ingin sedikit merasa bahagia.

Adri tak lagi mendengar repetan istrinya dan menghilang di gelap malam. Piana mengusap kedua matanya. Ia tahu suaminya juga sudah berusaha keras menghidupi mereka. Namun seperti kata orang-orang, keadaan sedang sulit. 

Suaminya dulu juga seorang pegawai honorer. Akan tetapi sudah enam bulan mereka tak menerima gaji. Akhirnya ia berhenti dan mulai bekerja serabutan. Kadang pulang membawa uang. Kadang hanya membawa lelah.

Rembulan sudah meninggi. Piana tak bisa menatapnya lagi dari balik jendela. Matanya perlahan mulai terkatup rapat. Ia tertidur bersedekap dengan bayi yang masih asyik menyusu.

Beberapa hari ini Piana sempat terhibur. Ia bercerita dengan riang kepada bulan. Adri diterima menjadi kenek proyek pelebaran jalan. Namun, setelah seminggu bekerja, pimpinan proyeknya menghilang entah ke mana. Piana yang murung kembali bersedih kepada bulan. Sudah lama sekali tidak terdengar canda tawa sepasang suami istri itu. Hanya bulan teman Piana.

Piana merasa sesak tak tertahanan di dalam dadanya. Ketiga anaknya masih kecil. Semua teman dan keluarga sudah dihutangi. Ia malu. Ia tetap menjalankan honornya dengan harapan suatu saat diangkat menjadi pegawai pemerintah. Dan akhirnya, saat yang ditunggu itu tiba. Meski gaji belum jelas, cahaya kecil itu menghangatkan hati Piana. 

Sejak undangan pelantikan keluar, teman-teman Piana sibuk mencari seragam. Sepatu baru, tas baru, bahkan ada yang dibelikan motor baru oleh suaminya. Bagi sebagian mereka, bekerja hanya soal prestise. Kebun luas, suami mapan. Gaji bukan prioritas. Sementara bagi Piana, sudah lima botol pertalite yang ia utangi untuk berangkat ke kantor. Adri sering melarang.

 “Hanya menghabiskan bensin, tak digaji pula.” 

Namun, Piana tetap berharap pada perjuangan lima belas tahun menjadi honorer.

Piana memesan seragam motif batik Kusuma Bangsa yang sudah lama ia idam-idamkan itu lewat marketplace dengan sistem COD. Namun jangankan menebus baju, sudah seminggu keluarganya hanya makan telur pecah dari kandang, harganya lebih murah. Itu pun dibeli dari uang kiriman ibunya.

 

***

 

Ihsan, anak bungsunya, menggeliat. Piana melirik jam. Pukul 06.30. Si kecil menangis ingin menyusu. Piana menggendongnya sambil membangunkan dua anaknya yang akan bersekolah. Ia lupa jam berapa akhirnya tertidur semalam. 

Piana tertegun. Biasanya Adri yang membangunkan mereka. Ke mana dia? Tidak biasanya ia tak pulang. Piana terlalu lelah untuk berpikir. Ia membuka kulkas yang sudah longgar karetnya. Mengambil telur di dalam plastik, mencampurnya dengan garam.

“Telur gulung lagi, Bu?” Rina, anak kedua, bersuara.

“Jangan mengeluh. Sudah syukur bisa makan,” sahut Cici, anak pertama mereka.

Biasanya Piana akan marah mendengar mereka bertengkar pagi-pagi. Namun hari ini, tenaganya sudah habis.

Ke mana Adri?

Anak-anak berangkat sekolah tanpa uang jajan. Untungnya kini sekolah memberi makan siang. Piana sangat bersyukur. Anaknya kenyang sampai sore. Ia hanya perlu memikirkan makan malam.

Bayi 15 bulan itu kembali menyusu. Piana resah. Ia akan berangkat kerja. Adri yang biasanya menjaga bayi mereka.

Beberapa saat kemudian suara motor yang sangat dikenalnya mendekat. Itu Adri.

“Kau dari mana, Bang?” tanya Piana.

“Tak perlu kau tahu,” jawab Adri acuh.

Piana memberikan bayi mereka kepada suaminya. Ia bersiap berangkat ke kantor untuk absen. Sejak tak digaji, mereka hanya absen pagi lalu pulang kembali. Nanti balik lagi absen di sore hari.

Piana menatap suaminya lama. Adri tampak segar. Rambutnya basah. Ada perasaan aneh di hati Piana. Namun ia ia sudah hampir terlambat.

“Bagaimana, Piana? Seragammu sudah datang?” tanya temannya di kantor.

“Iya, nanti siang. Akan kutebus,” jawab Piana mantap, meski hatinya gamang.

***

Saat pulang, Piana melihat Adri tertidur lelap bersama bayi mereka. Di meja ada dua mangkuk bubur ayam. Satu belum tersentuh, yang satu lagi hanya bersisa sedikit. Kemudian matanya tertumbuk pada sesuatu di atas meja. Tiga lembar uang seratus ribu.

Dari mana uang itu?

Piana membangunkan Adri. Peluh membasahi wajahnya. Bola matanya nyalang, tubuhnya bergetar menahan sesak.

“Ke mana kau semalam, Bang? Jawab aku jujur!”

“Aku ke mandor Alex. Aku mengancamnya kalau tidak dibayar,” jawab Adri dingin. 

“Itu uang untuk seragammu.”

“Di mana kau tidur semalam?”

“Tak perlu kau tahu.”

Piana melempar mangkuk bubur ke dinding. 

“Apa benar kata Amel? Ia melihat kau keluar dari rumah janda itu pagi ini?”

Adri menunduk, meremas rambutnya.

“Jawab aku, Bang! Piana merenggut lengan suaminya itu.

Adri menghela napas panjang. Penyesalan yang dalam terlihat jelas di raut wajahnya. Suara lirih itu kemudian keluar dari mulutnya.

“Seratus ribu, Piana. Dia hanya minta seratus ribu. Sementara kau minta seharga seragammu itu.”

Tubuh Piana melorot di lantai, Ia menatap nanar ke jendela kamar.

Bulan…. Di mana? 

Saat ini Piana sangat ingin memeluk bulan.

 

Suria Tresna lahir di Padang, daerah tepi laut, Bungus Teluk Kabung. Saat ini berdomisili di Pasaman Barat. Aktif mengelola TBM Kreatif Lestari Pasbar. Tergabung dalam Sekolah Menulis elipsis , Forum TBM Sumbar, dan merupakan Sekretaris Komunitas Read Aloud Pasaman Barat. Menulis beberapa buku solo, di antaranya 35 Dongeng Pengantar Tidur: Petualangan ke Dunia Bawah Laut (Cerita Anak), Bisik Ombak Bungus (Kumpulan Puisi), Siampa di Rumah Gadang (Lolos dalam Sayembara Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat tahun 2025) serta Rumah Baru Baniang (Lolos dalam Sayembara Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat tahun 2026).

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat