Ekonomi
Menuju Indonesia Emas 2045, Saatnya Memperkuat Fondasi Ekonomi Nasional
Ketahanan ekonomi, hilirisasi, dan inklusi menjadi kunci menghadapi tantangan global.
OLEH Halimatus Sakdia (Praktisi dan Pengamat Ekonomi)
80 tahun kemerdekaan Indonesia bukan sekadar angka dalam perjalanan sejarah. Momentum ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali sejauh mana bangsa mampu membangun fondasi kehidupan bernegara, terutama di bidang ekonomi. Kemerdekaan tidak cukup hanya diperingati melalui upacara dan seremoni. Kemerdekaan harus terus diisi dengan pembangunan yang mampu menghadirkan kesejahteraan, memperkuat kemandirian, dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi seluruh rakyat.
Dari Ekonomi Bertahan Menuju Ekonomi Bertumbuh
Tema Indonesia Emas 2045 menjadi cita-cita besar yang menuntut kesiapan sejak hari ini. Pada usia 100 tahun kemerdekaan, Indonesia diharapkan mampu menjadi negara maju dengan perekonomian yang kuat, sumber daya manusia yang unggul, serta pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan tersebut, fondasi ekonomi menjadi salah satu faktor yang paling penting.
Perjalanan ekonomi Indonesia selama delapan dekade menunjukkan proses yang tidak selalu mudah. Indonesia pernah menghadapi krisis ekonomi, gejolak politik, tekanan global, pandemi, hingga perubahan besar dalam struktur perekonomian dunia. Berbagai tantangan tersebut membentuk daya tahan ekonomi nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan I 2026 ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama pada 2025. Dari sisi produksi, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen. Sementara itu, dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P) mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 21,81 persen.
Perekonomian Indonesia masih didominasi lapangan usaha industri pengolahan sebesar 19,07 persen, diikuti perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 13,28 persen, pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 12,67 persen, konstruksi sebesar 9,81 persen, serta pertambangan dan penggalian sebesar 8,69 persen. Kontribusi kelima lapangan usaha tersebut terhadap perekonomian Indonesia mencapai 63,52 persen.
Dalam konteks tersebut, fondasi ekonomi Indonesia harus terus diperkuat melalui berbagai agenda strategis, seperti pembangunan infrastruktur, transformasi digital, hilirisasi sumber daya alam, penguatan industri, pengembangan ekonomi kreatif, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Namun, pekerjaan rumah masih sangat besar. Indonesia tidak boleh hanya menjadi negara yang kaya sumber daya alam, tetapi juga harus mampu mengolah dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya tersebut. Hilirisasi harus memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian nasional, termasuk melalui peningkatan kapasitas industri dalam negeri, transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta keterlibatan pelaku usaha kecil dan masyarakat lokal.
Inklusivitas Menjadi Kunci
Fondasi ekonomi yang kokoh tidak akan berarti apabila manfaat pertumbuhan hanya dirasakan oleh sebagian kecil masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi Indonesia harus berjalan seiring dengan agenda inklusi ekonomi.
Masyarakat di daerah, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perempuan, generasi muda, serta kelompok masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya memperoleh akses terhadap sumber daya ekonomi harus menjadi bagian penting dari pembangunan nasional. Akses terhadap pendidikan, pembiayaan, teknologi, pasar, dan layanan keuangan perlu terus diperluas.
Dalam hal ini, inklusi keuangan memiliki peran yang sangat strategis. Masyarakat yang memiliki akses terhadap layanan keuangan akan memiliki peluang lebih besar untuk menabung, memperoleh pembiayaan, mengembangkan usaha, dan meningkatkan kesejahteraan. Namun, inklusi keuangan tidak boleh berhenti pada kepemilikan rekening atau akses terhadap produk keuangan. Masyarakat juga harus memiliki literasi yang memadai agar mampu menggunakan layanan keuangan secara bijaksana dan produktif.
Penguatan ekonomi syariah juga menjadi bagian penting dari agenda pembangunan ekonomi nasional. Ekonomi syariah memiliki potensi besar untuk memperluas akses ekonomi, memperkuat sektor usaha mikro dan kecil, serta mendorong aktivitas ekonomi yang berorientasi pada keadilan dan keberlanjutan.
Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi syariah. Populasi Muslim yang besar, pertumbuhan industri halal, perkembangan keuangan syariah, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi halal merupakan potensi yang perlu dikembangkan secara lebih terintegrasi.
Tantangan Global dan Kemandirian Ekonomi
Di tengah ketidakpastian global, Indonesia juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan geopolitik, perang dagang, perubahan iklim, fluktuasi harga komoditas, serta perkembangan teknologi dapat memberikan dampak langsung terhadap perekonomian nasional.
Menurut International Monetary Fund (IMF) dalam laporan World Economic Outlook, dengan asumsi konflik terbatas, pertumbuhan global diproyeksikan sebesar 3,1 persen pada 2026 dan 3,2 persen pada 2027. Angka tersebut berada di bawah capaian terkini dan jauh di bawah rata-rata sebelum pandemi. Inflasi global diperkirakan meningkat pada 2026 dan kembali menurun pada 2027. Tekanan terkonsentrasi di pasar negara berkembang, terutama negara pengimpor komoditas yang telah memiliki kerentanan sebelumnya. Risiko juga berada di sisi negatif, antara lain akibat konflik yang berkepanjangan, fragmentasi geopolitik yang semakin dalam, serta perlambatan produktivitas.
Situasi tersebut mengajarkan satu hal penting, yakni Indonesia harus memperkuat kemandirian ekonomi tanpa menutup diri dari dunia internasional.
Kemandirian bukan berarti berdiri sendiri tanpa kerja sama dengan negara lain. Kemandirian berarti memiliki kapasitas untuk menentukan arah pembangunan, mengelola sumber daya secara bijaksana, memperkuat industri nasional, serta tidak terlalu bergantung pada pihak eksternal dalam sektor-sektor strategis. Kemandirian ekonomi juga harus dibangun melalui penguatan sektor pangan dan energi.
Memperkuat Fondasi, Mempercepat Transformasi
80 tahun kemerdekaan memberikan pelajaran bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak dibangun dalam semalam. Fondasi ekonomi yang kokoh membutuhkan konsistensi kebijakan, kualitas institusi, kepastian hukum, sumber daya manusia yang unggul, serta partisipasi seluruh elemen masyarakat.
Indonesia telah memiliki berbagai modal penting untuk menjadi negara maju. Demografi yang besar, sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang luas, posisi strategis, serta potensi ekonomi digital dan ekonomi syariah merupakan kekuatan yang tidak dimiliki semua negara.
Namun, modal tersebut harus dikelola dengan tata kelola yang baik. Kekayaan alam harus memberikan nilai tambah. Bonus demografi harus menjadi kekuatan, bukan beban. Digitalisasi harus memperluas kesempatan, bukan memperlebar kesenjangan. Pertumbuhan ekonomi harus menciptakan kesejahteraan, bukan sekadar meningkatkan angka statistik.
Indonesia Emas 2045 tidak boleh hanya menjadi slogan. Cita-cita tersebut harus diterjemahkan menjadi agenda pembangunan yang konkret dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, kemerdekaan ekonomi adalah ketika setiap warga negara memiliki kesempatan yang adil untuk hidup sejahtera, memperoleh pendidikan yang layak, mendapatkan akses terhadap pekerjaan dan pembiayaan, serta mampu berpartisipasi dalam pembangunan.
Indonesia Emas 2045 bukanlah hadiah yang akan datang dengan sendirinya. Cita-cita tersebut merupakan hasil dari keputusan yang dibuat hari ini. Jika fondasi ekonomi terus diperkuat melalui pembangunan yang inklusif, inovatif, berkelanjutan, dan berkeadilan, cita-cita menjadi negara maju bukanlah sebuah utopia.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
