Internasional
Trump Batalkan Perjanjian dengan Iran
AS kembali menyeranf Iran pada Rabu pagi.
WASHINGTON -- Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para wartawan di KTT NATO di Ankara bahwa menurutnya nota kesepahaman dengan Iran sudah berakhir. Ini ia sampaikan menyusul serangan yang dilakukan AS ke Iran pada Rabu pagi.
"Buang-buang waktu saja berurusan dengan mereka," ujar Trump dilansir Aljazirah, kemarin.
"Tadi malam kami melancarkan serangan yang sangat dahsyat terhadap orang-orang yang sangat berbahaya dari Iran. Mereka sakit, ada yang tidak beres dengan mereka."
Presiden Trump, yang beberapa minggu lalu sempat melontarkan pujian bagi para pemimpin Iran, kali ini melontarkan pernyataan yang sangat keras.
"Ada yang tidak beres dengan mereka. Mereka sakit. Mereka orang-orang jahat. Mereka pemain kotor," ujarnya.
Akan tetapi, ada pula komentar lain. "Saya mungkin akan membiarkan para negosiator hebat saya terus berunding." Hal ini mengindikasikan bahwa pernyataan Trump bisa jadi sekadar gertakan keras.
Presiden AS melontarkan kritik keras terhadap negara-negara anggota NATO dalam KTT NATO di Ankara, menyoroti apa yang ia sebut sebagai kurangnya dukungan mereka bagi AS selama konflik dengan Iran.
Kepala NATO, Mark Rutte, yang duduk di samping Trump, menyatakan bahwa 5.000 pesawat lepas landas dari bandara-bandara Eropa sebagai bentuk dukungan terhadap operasi AS di Iran. “Eropa merupakan satu landasan besar bagi proyeksi kekuatan Amerika Serikat".
Trump menepis pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa Inggris tidak mengizinkan penggunaan seluruh pangkalan militernya, sementara Italia dinilai "sangat buruk" dalam memberikan dukungan berupa penyediaan pangkalan bagi AS.
Pada Rabu pagi, Amerika Serikat mengumumkan telah melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran sebagai respons atas dugaan serangan Teheran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran mengecam langkah Washington dan menegaskan akan mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk melindungi kepentingan nasionalnya.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukannya telah memulai "serangkaian serangan kuat" terhadap Iran. Menurut CENTCOM, operasi tersebut bertujuan memberikan "biaya yang mahal" kepada Iran atas dugaan penargetan kapal-kapal dagang yang diawaki warga sipil di perairan internasional.
Dalam pernyataannya di platform X, CENTCOM menyebut serangan AS dilakukan sebagai respons atas dugaan serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz. Washington menilai tindakan tersebut tidak beralasan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan bahwa Teheran akan mengambil segala langkah yang diperlukan untuk menjaga kepentingan serta keamanan nasionalnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah ledakan dilaporkan terjadi di wilayah selatan Iran. Kantor berita Fars melaporkan asap hitam terlihat di belakang pasar ikan di Bandar Abbas setelah proyektil menghantam dermaga perikanan dan membakar beberapa kapal nelayan.
Media-media Iran juga melaporkan ledakan di sejumlah lokasi, termasuk di sekitar Sirik, Pulau Qeshm, dan Bandar Abbas. Televisi pemerintah Iran menyebut sedikitnya enam ledakan terdengar di Pulau Qeshm, pulau terbesar di sekitar Selat Hormuz yang memiliki posisi strategis dalam pengawasan jalur pelayaran tersebut.
Selain itu, sedikitnya tujuh ledakan dilaporkan terjadi di kawasan Pelabuhan Sirik yang juga berada di jalur strategis Selat Hormuz. Media pemerintah Iran menyebut proyektil menghantam dermaga komersial di Sirik, dermaga perikanan di Desa Ziyarat, serta memicu beberapa ledakan di area pelabuhan.
Situasi di Selat Hormuz dilaporkan kembali memanas setelah sebelumnya hanya terjadi konfrontasi terbatas pascapenandatanganan nota kesepahaman (MoU) terkait pengelolaan kawasan tersebut.
Di sisi diplomatik, Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Amerika Serikat melanggar Pasal 10 dalam MoU setelah mencabut pengecualian sementara terhadap sanksi penjualan minyak Iran. Dalam pernyataannya, Teheran menyebut keputusan Departemen Keuangan AS sebagai pelanggaran nyata terhadap nota kesepahaman yang ditandatangani pada 18 Juni.
Iran menilai pencabutan kebijakan tersebut, yang dilakukan kurang dari 20 hari setelah penandatanganan MoU, menunjukkan itikad tidak baik Washington dan menjadi bukti bahwa pemerintah AS tidak dapat dipercaya. Teheran juga menuduh AS berulang kali melanggar isi nota kesepahaman, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui tindakan Israel di Lebanon.
Kementerian tersebut menyatakan bahwa pada Rabu dini hari, "militer AS yang bertindak sebagai teroris, dalam pelanggaran nyata terhadap Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB, melakukan agresi militer terhadap sejumlah pusat pemantauan dan pengawasan di pesisir selatan Iran." Pihaknya mencatat bahwa serangan-serangan ini "merupakan pelanggaran mencolok terhadap Ayat 1 Nota Kesepahaman tentang Pengakhiran Perang, yang mengamanatkan penghentian operasi militer".
Pernyataan tersebut juga menyoroti "kewajiban hukum internasional bagi semua pemerintah, khususnya negara-negara tetangga yang terletak di pesisir selatan Teluk Persia, untuk mencegah pihak agresor menggunakan wilayah dan fasilitas mereka guna melakukan tindakan agresif terhadap Republik Islam Iran."
Ditambahkan pula bahwa setiap kerja sama dalam melakukan kejahatan agresi terhadap Iran merupakan bentuk keterlibatan dan partisipasi dalam kejahatan tersebut.
Sembari mengingatkan Dewan Keamanan PBB dan Sekretaris Jenderal mengenai tanggung jawab mereka, kementerian tersebut menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran "tidak akan ragu untuk mempertahankan integritas wilayah, kedaulatan nasional, dan keamanan nasional Iran dari agresi militer AS sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB, serta akan menargetkan sumber dan asal-usul agresi tersebut", demikian bunyi pernyataan itu.
Sementara itu, Iran juga membantah tuduhan Qatar terkait dugaan serangan terhadap kapal pengangkut LNG yang berafiliasi dengan Qatar di Selat Hormuz. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut tuduhan tersebut membingungkan dan menegaskan Iran tetap berkomitmen menjaga keselamatan pelayaran di jalur strategis tersebut sesuai ketentuan dalam nota kesepahaman.
Sebelumnya, Qatar memanggil wakil duta besar Iran dan menyampaikan nota protes resmi atas dugaan penargetan kapal LNG Qatar di dekat Selat Hormuz.
Kecaman juga datang dari Bahrain. Pemerintah Bahrain mengecam dugaan serangan Iran terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi dan Qatar yang melintasi Selat Hormuz. Manama menyebut insiden tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional serta ancaman bagi keamanan maritim dan pasokan energi global.
Kementerian Luar Negeri Bahrain menyatakan solidaritas kepada Arab Saudi dan Qatar serta mendesak masyarakat internasional mengambil langkah untuk melindungi kebebasan navigasi dan mencegah insiden serupa.
Hingga kini, Iran belum secara tegas membenarkan maupun membantah tuduhan melakukan serangan di sekitar Selat Hormuz. Teheran justru menegaskan haknya mengelola jalur pelayaran tersebut berdasarkan nota kesepahaman yang berlaku.
Iran juga meminta seluruh kapal yang melintasi rute yang telah ditentukan untuk berkoordinasi dengan otoritas Iran. Pernyataan serupa sebelumnya juga disampaikan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang menegaskan setiap pelayaran di Selat Hormuz harus mendapat koordinasi dengan Iran.
Serangan militer AS terjadi tidak lama setelah Washington mencabut pengecualian sementara terhadap sanksi minyak Iran, sehingga meningkatkan tekanan terhadap Teheran di tengah proses perundingan kedua negara mengenai penyelesaian konflik. Pada Selasa, Departemen Keuangan AS membatalkan lisensi yang sebelumnya diumumkan pada Juni dan mengizinkan Iran memproduksi, menjual, serta mengirim minyak mentah hingga 21 Agustus.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan upaya Amerika Serikat membangun jalur alternatif di Selat Hormuz hanya akan menggagalkan perundingan antara kedua negara.
"Sudah sangat jelas bahwa Amerika Serikat akan membawa perundingan dengan Iran menuju kegagalan," kata Rezaei kepada televisi pemerintah Iran.
Rezaei, yang juga anggota Dewan Kemaslahatan Iran, turut menyerukan penarikan pasukan Amerika Serikat dari kawasan Timur Tengah serta menuntut pembalasan terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas terbunuhnya mantan pemimpin Iran.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
