Puisi Kembang Alam | Daan Yahya/Republika

Sastra

Kembang Alam

Puisi-Puisi M Febriansyah

Oleh M FEBRIANSYAH

Kembang Alam

 

Dan kau pun tumbuh sebagai kembang yang disirami Jibril 

Yang tak habis-habisnya menguarkan wangi pada kemarau 

Dan menghempaskan nyala majusi di taman bunga 

Seperti pucuk lilin yang menggigil di musim dingin 

 

Engkau pun melihat Jibril

Yang menitahkan sayapnya pada malam hari

ketika kami tertidur. Pada riak angin yang mengindap-indap

di tangkaimu dan berkata:—Masehi telah gugur

 

Ada mayat perempuan terbangun dari bawah gurun mencari ayahnya 

Ada menara-menara mencair dari kisra meracuni rajanya 

Sekumpul gajah tertelan batu di sekitar ka`bah dan berlutut pada petuah

Sekumpul batu menelan ka`bah di sekitar gajah dan bertaubat pada sejarah 

 

Jibril pun mulai meresap di antara kelopak-kelopakmu yang harum 

Memetikmu menuju rahasia Nur ala nur 

Kemudian tak lama—kau pulang. Kami pun terbangun 

Seketika seluruh awan adalah kembang tubuhmu yang ranum

 

Cirebon, 2026

***

 

Binti Khuwailid

 

Ketika darah telah menjadi legam 

Ia pun mengutuk dirinya menjadi doa-doa

Yang tak suntuk semalaman

 

Doa-doa yang terus menggantung 

di batin Gua 

Antara jabal nur dan lembah waktu yang kesepian

 

Doa-doa yang terus benderang—

Sebagai hidangan yang dijarang keimanan

Seorang perempuan

 

Cirebon, 2026

***

 

Sajak Sufistik

 

Ketika malam menjadi payau di pangkuan-Mu

Mataku menjadi sepi 

Seperti azali. Yang gelisah 

Ingin menyingkap jejak-jejak-Mu 

Yang engkau tenun di balik jubah para nabi 

 

Cirebon, 2026

***

 

Pemusnahan Darwis

 

Di ruang penuh kehampaan

Tubuhku yang telanjang sudah dirasuki alunan seruling dan gendang

 

Tubuhku mulai diputar-putar bagai pusaran lautan 

Dan kulihat sekumpul rindu berdatangan dari bulu-buluku

 

Membakar kedua mataku dengan cinta yang mereka janjikan

Di ruang penuh kehampaan. Di nelangsanya hatiku

 

Kulihat manusia-manusia hampir padam 

di bawah cahaya lampu. Namun sekumpul rindu

 

 satu-persatu menyerap di pori-poriku dan berseru

 “Kaulah cahaya itu!”

 

Tubuhku semakin berputar tanpa menciptakan bayang-bayang

Tubuhku melambung di angkasa kesadaran

 

Tubuhku semakin menghilang

Tubuhku diunggis alunan seruling dan gendang

 

Cirebon, 2026

***

 

Takhdzim

 

Tidak, Kiai

Bau kecutmu bukanlah berasal dari kami 

Bau kecutmu yang kau beri pada napas padi-padi 

Adalah bau tubuhmu sendiri:

Tubuhmu yang semakin telanjang 

Semakin mengkilap 

Dan dipertontonkan pada kami 

 

Tidak, Kiai

Semakin telanjang dan mengkilap tubuhmu 

bukanlah mula-mula dari kami 

kaulah yang membuat sorban dan kemejamu 

terhempas jauh di lembah kering 

kaulah yang membuat sarungmu berkibar 

di atas tebing dan ranting-ranting

 

Bukan, Kiai

Bukanlah kami penanam padi ketika maghrib bersumpah

ingin memberkatinya sampai mati 

Bukan, Kiai

Bukan pula kami yang melucutimu hingga hina seperti ini

 

Cirebon, 2026

***

 

M Febriansyah, lahir pada 28 Februari 2004 di kota Cirebon provinsi Jawa Barat. Ia seorang mahasiswa prodi Tasawuf dan Psikoterapi di Univesitas Muhammadiyah Cirebon. Dan masih menyantri di pondok Buntet Pesantren Cirebon. Beberapa puisinya sudah ada yang terpilih dan dimuat di sayembara buku-buku antologi puisi dan media sastra online di Indonesia.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat