Sastra
Mengintai Peking
Oleh A RANTOJATI
Jika matahari terbit di langit timur dan menyingkap kabut tipis yang melingkupi deretan jati di Jatimaras, akan tampak para petani menyusuri jalan kecil di sisi Kali Anyar menuju area persawahan di sisi barat kampung. Maka pada saat itu kawanan bondol peking yang baru terbangun oleh tempias cahaya pagi berkicau, menyambut langkah para petani yang bertolak meladang, baik laki maupun perempuan. Kawanan burung itu akan melompat dari dahan jati ke dahan jati lainnya. Di antaranya ada yang sampai mematahkan ranting jati kering dan menimpa mata cangkul yang dipanggul salah seorang petani itu.
Pada mulanya, orang-orang Jatimaras percaya bahwa jika kawanan bondol peking itu berkicau ketika para petani melewati deretan pohon jati di pinggir jalan kecil itu, hasil panen di kampung ini akan melimpah. Kicau mereka semacam doa bagi petani Jatimaras yang bertolak ke ladang. Meskipun kawanan burung itu kelak akan ikut “menyerang” sawah mereka, tak sedikitpun para petani Jatimaras keberatan dan merasa dirugikan. Mereka tak pernah menganggap kawanan burung itu sebagai hama apalagi petaka. Bagi para petani Jatimaras, itu adalah cara terbaik untuk berbagi dengan alam. Ada bondol peking berarti ada padi yang melimpah di sawah mereka, dan ada padi berarti ada kehidupan bagi para petani Jatimaras—setidaknya untuk satu musim ke depan. Begitulah keyakinan para petani Jatimaras.
Kupikir kawanan bondol peking itu pun merasakan hal yang sama. Bagi mereka, derap langkah para petani di jalan kecil itu menjadi penanda baik bagi kehidupan mereka. Ketika ada petani yang berjalan menyusuri jalan kecil di sisi Kali Anyar yang menuju sawah pagi hari dengan memanggul cangkul di bahu kiri dan menenteng jerigen air di tangan kanan, berarti dalam satu musim ke depan akan ada tempat bagi kawanan burung itu untuk menggantungkan hidup. Ada petani berarti ada padi. Ada padi berarti ada kehidupan bagi burung-burung itu. Barangkali itulah yang membikin burung-burung itu gemar berkicau pagi hari. Kicau mereka menjadi tembang suka cita petani Jatimaras. Betapa manusia dan alam membentuk jalinan erat, bukan?
Sayangnya dalam beberapa tahun terakhir, alam seolah menunjukkan wajah yang berbeda. Kemarau semakin panjang daripada tahun yang sudah-sudah. Padi-padi gabug. Deretan jati lebih dulu ranggas sebelum disentuh angin kemarau. Dan sawah-sawah semakin sunyi, hanya menyisa siut angin yang kering dan cemas. Dan burung-burung? Mereka ganjil! Ganjil! Ada yang cemas pada kicau mereka di dahan pohon jati. Biasanya, kicau kawanan burung kecil itu terdengar seperti kicau kenari yang mampu membikin hati para petani tenteram dan bersemangat pergi ke sawah. Kali ini mereka seperti berteriak dan menjerit. Mereka mencerecet! Mencerecet!
Kawanan burung itu tampak begitu gelisah. Patahan ranting pohonan randu yang mereka injak tak lagi menimpa mata cangkul petani dan memperdengarkan denting kecil yang menenangkan. Kepak sayap kawanan burung itu hanya menambah gigil angin kemarau yang sampai ke kampung ini sejak sebulan lalu. Para petani yang biasanya lewat jalan kecil itu tak lagi memperdengarkan langkah kaki yang saling sambut. Hanya ada sunyi pada kersik rumput dan daun-daun kering yang biasanya sesekali terinjak. Jika kuingat-ingat, memang hanya kurang dari 20 petani yang lewat jalan kecil dengan deretan pohon jati dan randu alas.
Jumlah mereka terus berkurang. Kupikir ini penanda buruk bagi kawanan burung itu. Tiada langkah kaki petani sewaktu pagi berarti tak kan ada lautan padi. Tak ada lautan padi berarti tiada penghidupan bagi kawanan bondol peking dalam satu musim mendatang. Maka mereka gelisah! Mereka mencerecet! Gerakan mereka tak lagi teratur seperti pada tahun yang sudah-sudah. Dan sarang-sarang mereka pada dahan-dahan trembesi semakin sedikit.
Angin kemarau pada sore yang gigil membuat daun-daun jati berderak jatuh ke tanah Jatimaras satu per satu. Dari arah persawahan yang masih ditumbuhi rumput tampak sekawanan bondol peking terbang, kembali ke sarang. Salah satu dari kawanan itu memutar arah, kembali ke rerumputan. Digigitnya bunga rumput yang cukup biji dan dibawanya terbang. Ia menghadiahkan bunga rumput itu untuk betinanya yang mengerami telur di sarang.
Burung itu hinggap di dahan trembesi yang tinggi dan masih cukup rindang. Pada musim kemarau seperti ini, pohon trembesi memang tempat yang tepat untuk bersarang. Pohon jati dan randu alas yang tumbuh di pinggir jalan kecil menuju persawahan itu mulai kering dan ranggas karena bersepakat dengan cuaca.
“Tidak bisa ditunda?” Peking betina menatap pejantannya ketika tiba dan memberikan bunga rumput yang dibawanya. Dari mata mereka yang hitam kecil, terlihat kegelisahan yang dalam.
“Mereka sudah siap.” Pejantan itu melompat ke dekat betinanya yang sedang mengerami telur. Digeliatkannya sayap kirinya.
“Lalu telur kita?”
Kepala betina itu menunduk sesaat. Bunga rumput yang dibawakan pejantan belum juga disentuhnya. Betina itu mengarahkan pandangannya ke sisi kiri dan menatap mata pejantan. Ada keheningan yang tak terbantahkan dari tatapan keduanya.
“Aku pun tak tega. Tidak ada pilihan.”
“Kita masih bisa makan biji rumput, bukan?”
“Kemarau semakin panjang. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan.” Pejantan itu melompat dan mengepakkan sayapnya. Ia terbang ke salah satu ranting yang tak jauh dari sarangnya.
“Dan kita akan kelaparan. Begitu?” Betina itu membalas. Ia bangkit dari eramannya dan melompat ke sisi pejantannya.
“Kita perlu makanan!”
Pejantan itu mendongak ke langit. Cahaya senja menembusi celah daun-daun trembesi. Begitu merah dan gelisah. Pejantan itu berpikir nasib matahari yang terbenam itu seperti nasib kawanan mereka saat ini.
“Tapi telur kita butuh eraman.” Betina itu beberapa kali melompat dan berdiri tepat di sisi kiri pejantan. Keduanya sama-sama menatap matahari yang sekarat dan dunia yang berulang kali berubah gelap.
“Jika mereka menetas?”
“Kau pandai mendebat.” Betina merapatkan tubuhnya ke pejantannya. Ia mengerti betul pejantannya begitu cemas—seperti dirinya. Maka sebisa mungkin ia berusaha menenangkan pejantannya, meskipun ia sendiri jauh lebih kalut.
“Deretan jati dan trembesi ini begitu berharga bagi kita.”
Suara pejantan itu semakin lirih seiring datangnya petang. Kemudian disentuhkannya paruhnya yang pendek pada kepala si betina.
“Leluhur kita sudah beranak pinak di sini. Trembesi ini bukan lagi sekadar pohon, melainkan juga rumah.” Betina itu mengusapkan kepalanya pada pejantan. Saat seperti ini menjadi saat yang paling tepat untuk kawanan bondol peking seperti mereka menikmati cahaya bulan yang mulai muncul di langit timur pada musim kemarau. Angin dingin yang berhembus saat ini seharusnya membuat kawanan burung itu lebih menikmati kehangatan sarang mereka.
Tapi tidak kali ini. Angin kemarau selepas senja menambah gigil kegelisahan mereka. Kawanan burung itu tidak bisa memastikan bunga rumput yang tumbuh di tanggul dan persawahan besok pagi masih ada. Pada kemarau panjang seperti ini, tak banyak rumput yang tumbuh subur dengan bebungaan yang cukup biji untuk dijadikan makanan. Serangga kecil sebagai pengganti bebijian pun bakal sulit didapatkan.
Biasanya, pada kemarau seperti ini, mereka masih bisa tenang. Dengan mengarahkan pandang mata mereka ke arah barat sana, akan tampak lautan padi milik para petani Jatimaras. Dari sana tercium aroma padi-padi ranum yang segar menenteramkan. Dan pada saat itu pula kawanan capung dan belalang yang saling berlesatan membuat anak-anak kampung berlari kegirangan. Anak-anak itu akan memburu capung-capung aneka warna dengan sebatang lidi yang diolesi getah kendal di ujungnya. Sementara di tanggul Kali Anyar, anak-anak yang lain memburu kawanan capung itu dengan kayu yang diikati plastik transparan sebagai perangkapnya.
Ada pula di antara anak-anak itu yang sekadar duduk-duduk di bawah pohon palem pinggir tanggul sambil memandangi Gunung Ciremai di sisi selatan. Gunung itu akan tampak jauh lebih jelas pada musim kemarau seperti ini, sebab kabut dan awan putih yang menyelimuti gunung itu pada musim hujan akan menyingkir.
Akan tetapi beberapa musim ini, area persawahan itu makin sepi petani. Kawanan bondol itu hanya mendapati beberapa petani saja yang masih bergulat dengan lumpur sawah dan air kali yang makin keruh. Bahkan bagian demi bagian sawah para petani itu mulai dijual dan dijadikan pekarangan yang siap ditanami beton, batu bata, dan besi.
Dari tahun ke tahun sawah-sawah menjadi lebih sempit dari tahun yang sudah-sudah. Selepas panen, batang-batang padi dibakar dan lahan persawahan dibiarkan begitu saja sampai pada akhirnya sepetak demi sepetak ditimbun dengan tanah yang diangkut truk. Tiada lagi padi dan palawija. Hanya tonggak-tonggak ukur yang siap digantikan pondasi batu dan beton.
Anak-anak yang dulu berlarian di tanggul kali mengejar ratusan capung yang terbang rendah telah dewasa dan bertolak ke kota-kota besar. Mereka bergulat dengan segala yang ada di sana: gedung, toko, pabrik, jalan beraspal, klakson dan kemacetan jalan raya, dan gemerlap lampu kota. Mereka yang kembali ke kampung tak lagi paham cara mengayunkan cangkul ke tanah, menanam padi, atau sekadar menyiangi rumput di sawah dan ladang. Mereka hanya pandai menanam beton dan kawat jeruji untuk sarang mereka sendiri. Kota hanya mengajarkan bagaimana caranya mengambil dan mengisap, tanpa mengajarkan cara menanam dan merawat. Demikian pikir kawanan bondol peking Jatimaras ini.
Kawanan bondol peking itu semakin berkurang dari waktu ke waktu. Kawanan yang masih tinggal di pohonan pinggir persawahan Jatimaras pun jadi memiliki kicauan yang berbeda dari sebelumnya, kicauan yang gelisah.
Matahari kembali menampakkan wajahnya yang lebih terang dan mengusir gigil angin pagi kemarau ini. Sinarnya yang terlalu hangat menjadikan daun-daun jati dan randu alas gugur dan ranggas. Di antara deretan pohon jati dan randu alas itu, sepokok trembesi berdiri sebagai satu-satunya pohon yang tetap rindang dan dihuni kawanan burung. Sepasang bondol peking yang telah melewati malam kemarau yang dingin itu menggeliat di sarangnya. Di dahan dan ranting trembesi itu, kawanan bondol peking yang lebih dahulu bangun melompat dan berkicau dengan suara mencerecet, pertanda mereka gelisah sebab hanya melihat beberapa petani saja yang berjalan menuju area persawahan. Itu pun tanpa memanggul cangkul di bahu kiri dan menjinjing jerigen air di tangan kanan. Hanya membawa patok dan meteran.
“Petaka! Petaka!” Salah satu bondol peking melesat tergesa dari dahan trembesi di ujung barat.
“Ini salah para petani itu,” tuduh bondol peking pejantan yang baru menggeliat itu.
“Hush! Kita sudah berhutang banyak pada para petani itu.” Si betina coba menenangkan pejantan.
“Mereka meninggalkan sawah dan ladang!” Pejantan melompat-lompat tak karuan.
“Dan membuat kita kelaparan maksudmu?” Mata betina itu semakin membulat dan hitam. Betina itu mulai jengkel dengan tingkah si jantan. Berkali-kali ia berusaha menenangkan pejantannya, tapi sia-sia.
“Tanah ini tak akan bisa dicangkul lagi!” Pejantan itu. Ia mencerecet.
“Anak para petani itu tidak mewarisi kebijaksanaan moyang mereka!” Dua bondol peking lain datang dari dahan di sisi selatan dan bergabung dengan sepasang bondol peking itu.
“Kita pergi!” desak salah satu burung pendatang itu.
“Telur kita?” cegah si betina dengan cemas.
“Tidak mungkin kita bawa,” jawab si jantan. Ia menunduk, tak berani menatap mata betinanya.
“Kita terlalu kecil, tak kan sanggup membawa sarang dengan empat telur di dalamnya,” lanjut si jantan dengan suara tertahan. Paruhnya yang kecil terkatup.
“Buat sarang lain di tempat baru. Tetaskan telur yang jauh lebih banyak dan aman di sana!” Burung-burung lain menimpali. Kata-kata mereka memang terdengar begitu menyakitkan bagi sepasang bondol peking itu. Bagaimana mungkin mereka dengan mudah meninggalkan telur-telur itu. Tapi mereka tahu, dua burung pendatang itu tidak bermaksud menyakiti mereka. Mereka hanya bermaksud meyakinkan sepasang bondol peking itu untuk segera pergi ke tempat yang jauh lebih menghidupi. Sepasang burung itu sadar betul, apa yang mereka alami juga dialami oleh berpasang-pasang bondol peking lain, bahkan kawanan burung lain. Keadaan memang begitu mendesak. Kemarau panjang seperti ini kelak akan mendatangkan kelaparan bagi kawanan burung pemakan biji seperti mereka jika tidak diimbangi dengan ketersediaan padi yang ditanam para petani.
“Perlu kami pecahkan telur-telur itu?”
“Atau tetap tinggal dan mati kelaparan?” tanya salah satu burung pendatang tanpa merasa bersimpati sedikit pun. Tapi apa yang dikatakan burung itu memang ada benarnya juga, pikir sepasang bondol peking itu.
“Jangan sentuh telurku!” Betina itu bersiap menghalau dua burung yang mendekat.
“Jangan bercanda!” sergah pejantan kepada betinanya.
“Kalau mereka menetas, siapa yang akan merawat dan memberi makanan? Kau tega!?” Suara pejantan itu bergetar. Angin kemarau kembali berembus dan menghujankan daun-daun trembesi kering. Selebihnya hanya hening. Keempat burung itu diam dan saling pandang.
“Jangan sentuh telur-telur itu!” Betina itu berpaling kepada keempat telur yang teronggok di sarangnya.
“Alam punya cara sendiri untuk menciptakan keajaiban!” Betina mendekati telur-telur itu dan menutup sarang dengan daun-daun kering. Bukan hal yang mudah untuk meninggalkan sarang yang bertelur seperti itu. Tetapi alam punya kehendak lain.
“Baik. Kita berangkat.” Keempat burung itu mengepakkan sayap dan bertolak meninggalkan trembesi. Kepakan sayap-sayap kecil empat burung itu membuat daun-daun trembesi bergetar. Tetapi betina itu tiba-tiba terhenti dan hinggap pada sebuah ranting. Ditatapnya tiga burung lain yang tetap terbang di depannya. Ia begitu saja melompat ke ranting di belakangnya dan memutar haluan. Ia kembali menuju sarang dan telur-telurnya.
“Tidak! Telurku! Aku ingin menjaga telur-telurku!” Betina itu melesat melewati dahan dan serpihan daun-daun trembesi. Pejantan ikut berhenti dan berbalik mendahului betinanya menuju sarang. Mata bulatnya tajam menatap betinanya. Pejantan itu mencerecet. Kemudian ia berbalik menatap keempat telur yang baru berumur 10 hari itu.
Dengan paruhnya yang kecil dan pendek, ia mematuk-matuk cangkang telur itu. Ia berusaha memecahkan keempat telur itu, sementara betinanya bergegas menubruknya. Dahan trembesi itu pun dipenuhi cerecetan sepasang bondol peking itu. Angin kemarau bertiup kencang dan menggetarkan ranting-ranting trembesi.
Cahaya matahari menembusi celah-celah daun. Daun-daun trembesi kering rontok. Lengang kemarau pada dahan-dahan trembesi pecah. Sementara keributan sepasang bondol peking terjadi, suara meletup dan sebuah peluru mengoyak sarang itu. Burung-burung itu berhambur—kalap dan terbang meninggalkan sarang tanpa salam perpisahan. Mereka terbang meninggalkan tajuk trembesi dengan penuh cerecetan. Trembesi kembali senyap. Daun-daun kembali digetarkan angin. Dalam lengang itu, umpatanku menggema di telingaku sendiri setelah kutarik pelatuk itu, “Kirik! Meleset!”
A Rantojati menulis cerita pendek dan puisi. Sejumlah puisinya terhimpun dalam antologi bersama Buku Nasib (2015) dan Merayakan Pagebluk (2020). Beberapa cerpennya pernah dimuat dalam media digital. Selain menulis, ia juga bergelut sebagai penyunting naskah lepas dan periset. Penulis kelahiran Cirebon ini bermukim di Kota Serang sambil mengamati bunga sepatu di pekarangan. Ia bisa disapa melalui akun instagramnya, @anto.rantojati, atau pos-el anto.rantojati@gmail.com.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
