Iqtishodia
Dracula Economy
Dracula yang haus darah diasosiasikan dengan riba dalam sistem ekonomi.
OLEH Laily Dwi Arsyianti (CIBEST IPB University)
Istilah Dracula Economy dipopulerkan oleh Dr Hendri Tanjung dalam novel Ekonomi Syariah serta disampaikan dalam International Workshop on Teaching Wealth Management from Islamic Perspective: Insights from Southeast Asia di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Dracula disematkan pada makhluk fiktif yang digambarkan sangat haus akan darah manusia. Dracula ditakdirkan bisa hidup selamanya. Meskipun demikian, Dracula memiliki kelemahan meski digambarkan bisa bertahan hidup asalkan tidak bersentuhan dengan sinar matahari ataupun diburu dengan senjata perak. Dracula yang haus darah diasosiasikan dengan riba dalam sistem ekonomi.
Jika Dracula haus darah manusia, riba haus darah ekonomi. Pengenalan terhadap riba sudah digambarkan oleh Allah sejak tahap pertama pelarangannya dalam Surat Ar Rum ayat 39. Allah mengajak manusia untuk berpikir, mempelajari, serta membandingkan antara riba dan zakat. Sebagaimana ekonomi yang berlaku saat itu, riba telah mengakar menjadi budaya di masyarakat pada masa Rasulullah SAW. Hampir setiap orang tidak terlepas dari mindset dan kebiasaan riba.
Sebagaimana wahyu pertama yang diturunkan mengajak kita untuk membaca, membaca adalah jendela ilmu, dan ilmu adalah asupan bagi pikiran. Allah mengajak kita untuk membandingkan antara riba dan zakat. Riba, secara kasat mata dan persepsi yang terbangun, seolah-olah meningkatkan dan menambah harta. Uang Rp 1 juta dapat bertambah menjadi Rp 1,5 juta.
Uang dalam sekejap bertambah hanya dengan meminjamkannya kepada orang lain sebagai konsekuensi tidak dapat menikmatinya saat ini, dengan opportunity cost nilai mata uang yang semakin menurun atau harga barang yang semakin meningkat sehingga daya beli menurun.
Sementara itu, zakat secara kasat mata dan dalam persepsi masyarakat seolah-olah mengurangi harta. Setiap harta yang melebihi nisab wajib dikeluarkan zakatnya. Harta Rp 1 miliar yang dikeluarkan zakatnya akan menyisakan Rp 975 juta.
Namun, Allah mengajak kita untuk melihatnya dari kacamata yang lebih visioner, luas, dan makro. Jika mustahik ditransformasi menjadi muzakki, permintaan terhadap barang secara agregat bahkan daya beli dapat meningkat. Secara makro, hal ini akan membantu meningkatkan perekonomian.
Hasil penelitian Lesmana (2026) menunjukkan zakat dapat mengurangi kesenjangan pendapatan di Indonesia meski baru sebesar 0,003 persen pada tingkat kepercayaan 90 persen. Javtri (2026) menunjukkan zakat di negara-negara OKI masih belum secara signifikan memengaruhi output ekonomi. Hal ini bisa jadi karena zakat yang tersalurkan belum optimal. Zakat yang tersalurkan belum optimal bisa jadi karena zakat yang terkumpul juga belum optimal. Apakah persepsi masyarakat masih didominasi oleh Dracula Economy?
Riba pada dasarnya adalah keinginan untuk mendapatkan tambahan uang secara instan. Inilah yang kemudian menjadikannya haus akan darah ekonomi, yaitu uang.
Cuan menjadi the ultimate goal, meski diperoleh dengan cara yang tidak halal. Dampaknya secara ekonomi hanya akan bertumpuk secara eksklusif pada kalangan tertentu, yaitu mereka yang memiliki uang. Kalangan the haves akan semakin kaya dan the have nots akan semakin terpuruk karena harus memberikan lebih banyak uang kepada kelompok yang memiliki modal.
Sementara itu, zakat menjadi kurang menarik karena dampaknya tidak terlihat secara instan. Diperlukan waktu untuk mengubah mustahik menjadi muzakki. Proses sangat dihargai dan dampaknya secara makro akan menghidupkan ekonomi secara lebih merata.
Harta secara fitrah menjadi ujian bagi manusia. Riba yang secara kasat mata seolah menambah harta menjadi bagian dari ujian tersebut. Sebagaimana hidupnya drakula yang sangat bergantung pada darah yang diisapnya, riba hidup dari hasrat memperoleh uang secara instan meski harus mematikan yang lain.
Karena itu, mindset riba (mindset borjuis) perlu diubah menjadi lebih berzakat (mindset sosial). Mindset ini kemudian dapat mengarahkan sikap dan pada akhirnya menjadi perilaku yang, jika dilakukan secara konsisten, akan menjadi kebiasaan untuk mewujudkan ekonomi yang lebih maju dan merata.
Tingkat literasi keuangan syariah yang lebih tinggi daripada inklusi keuangan syariah, apakah benar disebabkan oleh aksesibilitas yang kurang terjangkau, atau justru Dracula Economy sedang mendominasi saat ini? Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah dan senantiasa mendapatkan petunjuk menuju jalan yang benar. Wallahu a’lam bishshawab.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
