Puisi Gema di Ujung Kaktus | Daan Yahya/Republika

Sastra

Gema di Ujung Kaktus

Puisi-Puisi PN Estu

Oleh PN ESTU

Peron Tanpa Nama

 

I.

ia adalah cericit burung yang kurindu

ia adalah nafasmu yang tertinggal

basah di pipiku

ia getarmu

lengkungkan senyumku

 

dan ia

hanya ada di sunyiku

di padamnya lampu-lampu

 

aku menari dalam lukisku

terbaring dalam luapku;

 

huruf-huruf meliuk

merajut selendang

membelai tangan

 

tariku seanggun bunga sepatu

bergoyang lembut di tangkainya

merah merona

lebar kelopaknya

penawar yang memandangnya

 

getir yang hinggap

dari sengat laba-laba

atau lebah

yang bermain madu mesra

hanya noktah

yang tinggal sesat

lalu pudar;

 

garis-garis pena

menggurat di mahkota bunga

 

aku kembali dalam lukisku

terbaring dalam luapku

 

II.

dan aku terus mengayun pena

sejauh langkah yang kupeta

terkadang berhenti

melempar bayang

ke sungai di ngarai

atau di pucuk bukit

yang telah lama mencakar langit

aku singgah

saperti di ujung jarum

 

waktu menghentikanku di peron tanpa nama

makna membuka gerbongnya

aku dibawanya lebih cepat dari kuda

meninggalkan kota

yang menua di pelupuk mata

walau tampak bunga-bunga

bermandi lampu kota

 

III.

ia tinggal

menjadi gerak tubuhku

mencium bau

meraba rasa

mencecap kasar lembutnya kata

mengayun dari singkap-singkap rantingnya

 

aku melaju di sejurus makna

di ujung nama

 

***

20 Februari 2026

 

Pengelana Rindu

 

aku, pengelana yang terlempar dari tubuhMu

bagaimana aku menyatu

hanyalah mabuk rindu memelukMu

 

rindu terikat limit antara aku dan Kamu

menubuh getar

di rentang yang Kau gulirkan

 

jika aku adalah Kamu,

bagaimana rindu menari?

bagaimana cinta menyandarkan tubuhnya?

 

aku, serpihan

terus berputar

mengitari galaksi diri

 

sementara Kau adalah kesendirian

yang meniupkan cinta sebagai ruang

 

ruang yang melahirkan getar

getar yang menjabat dengarku menjadi rindu

menari jiwa

memenuhi panggilanMu

 

***

30 April 2026

 

Gema di Ujung Kaktus

 

aku masih kesepian

seperti dua puluh hingga lima belas tahun silam

sendirian

bagai pejalan sunyi di padang sahara

 

namun begitulah terkadang kembang

ada juga yang mungil menyembul di ujung kaktus

menerima dingin dan panas gurun

sebelum akhirnya terbang juga

mengembara bersama angin

 

yang kadang mendarat pada goa dingin

yang nyanyiannya adalah gema batin

di dinding-dindingnya

mengucur rasa

menghidupkan apa yang tinggal

 

lalu dua tiga warsa

nyanyian terbang melintas benua

dari bunga kecil menyimpan putih mentari

dan meliaran gugusan bintang

menyembulkan hijau daun-daun

bagi nafas-nafas melintas zaman

 

***

11 Mei 2026

 

Emulsi

 

tatkala kuhanya ingin bersamamu

kau tersnyum padaku

berkata, “bersamai sesama.”

 

tatkala kulakukan,

kau memintaku

tuk tetap berkasih denganmu

 

oh kekasih

tatkala kuhanya ingat kamu

melayang dadaku

mengapung nafasku

kau tersenyum

memanggilku lembut

 

senyummu tak lepas dari ingatku

belaimu kembali memintaku

bersamai sesama

 

langit-langit otak serasa retak

tulang-tulangku lumpuh tak gerak

senyummu

bak selendak waktu

terus menarik tanganku

 

kapan kau menetap

hingga senyummu

tak lagi patah

di cerminku

 

***

26 Mei 2026 

 

Cawan Petri

 

aku mendengar dinding-dinding berdering

memanggil;

percakapan kita

yang kau pahat di dinding rumahmu

 

rumah yang kau tinggalkan

untuk terus bisa kusinggahi

tatkala jalanan berkabut

tatkala asap mengikat degup

 

gedung-gedung saling bertikai

dengan akar rumput

bising motor bersahut-sahut

omong-omong meletup-letup

di bola mata juga lubang telinga

dan sirine menenggelamkan dada

 

kau mematri getar kita

melintas nyala pelita

sebelum akhirnya

kembali di wangi kamboja

 

getar menggambar interval

kenangan

memantulkan gema

di batin dan kepala

 

jari-jariku meraba darah

dan kubenamkan di tubuh puisi

aromamu

mengkristal

di cawan petri

 

***

26 Mei 2026 


PN Estu, tinggal di Sidoarjo. Puisi-puisinya termuat di media cetak juga daring. Terhimpun juga dalam berbagai antalogi bersama di antaranya yang terbaru: Semesta Ingatan: Trauma dan Imaji Kebebasan (Temu Karya Serumpun, 2025), Sipakamase (PPA, 2025), A Tribute to Pipiet Senja (2025), Kepak Sayap Bunda (TISI&PPPA RI, 2025), Tanda Cinta Bagi Korban Bencana Sumatra (2025), Manuskrip Indonesia, Kumpulan Puisi Kebangsaan (2026). Pernah dikenal sebagai Putri N.P (Rubrik Sajak, Jawa Pos, 2025).

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat