Pendidikan tinggi (ilustrasi). | Republika-Daan Yahya

Nasional

Perguruan Tinggi Mulai Padukan AI, Metaverse, dan Dampak Sosial

Transformasi pendidikan perlu berjalan seiring dengan perkembangan teknologi.

JAKARTA — Perguruan tinggi mulai menggabungkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), teknologi metaverse, dan program pemberdayaan masyarakat dalam model pembelajaran. Pendekatan ini dinilai semakin penting untuk menyiapkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus memahami tantangan sosial yang berkembang di masyarakat.

Perubahan tersebut terlihat dalam ajang World University Rankings for Innovation (WURI) 2026 yang menilai inovasi, dampak nyata, kolaborasi industri, dan kontribusi sosial perguruan tinggi. Berbeda dengan pemeringkatan akademik konvensional, WURI menitikberatkan pada kemampuan kampus menghadirkan solusi terhadap berbagai tantangan global.

Dalam pemeringkatan tahun ini, President University menempati peringkat 165 dunia untuk kategori Overall Ranking. Kampus tersebut juga masuk 100 besar dunia pada 18 kategori inovasi serta menembus lima besar dunia pada kategori Culture/Value, Infrastructure/Technologies, AI-Based Learning and Learning Transformation, dan Inclusive Social Innovation for the Underserved.

Wakil Rektor Bidang Akademik, Riset, dan Inovasi President University, Dr. Adhi Setyo Santoso, mengatakan transformasi pendidikan perlu berjalan seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.

“Berbagai inovasi dalam pembelajaran sehari-hari terus kami kembangkan untuk memastikan mahasiswa mampu mengikuti perkembangan global, sehingga ilmu yang diperoleh tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat diterapkan secara langsung,” kata Adhi dalam siaran pers, Rabu (3/6/2026).

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pembelajaran berbasis metaverse melalui RobloxVerse Learning. Program ini memungkinkan mahasiswa mengikuti simulasi virtual, mulai dari laboratorium, mock trial, hingga Model United Nations (MUN), dalam lingkungan digital yang lebih interaktif.

Selain itu, kampus juga mengembangkan HumAIn Learning yang memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung personalisasi pembelajaran, analisis proses belajar, penerjemahan materi, hingga fitur multilingual image-to-speech.

Pemanfaatan AI juga diarahkan untuk membantu mahasiswa memahami penggunaan teknologi dalam berbagai bidang pekerjaan, seperti analisis pemasaran, pengembangan website, hingga pengecekan dokumen legal. Kampus menegaskan teknologi tersebut digunakan untuk memperkuat proses pembelajaran, bukan menggantikan peran dosen.

Di luar aspek teknologi, penguatan dampak sosial turut menjadi fokus. Melalui program Green Hands, Strong Futures, kampus mengembangkan pemberdayaan petani perempuan berbasis pertanian berkelanjutan dan penguatan ekonomi komunitas. Sementara melalui Culture of Care, kampus mendorong penguatan nilai empati, etika, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Tren ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak lagi hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada integrasi teknologi dan kontribusi sosial sebagai bekal menghadapi perubahan global.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat