Sastra
Hujan Begitu Lebat
Oleh DAMAY AR-RAHMAN
Lembut belaian ibu, meninggalkan rindu yang menuntun langkahku untuk bersiap-siap menuju kampung. Ia begitu sabar menghadapi egoku yang keras dan begitu membenci sosok lelaki yang kusebut itu. Memang, ia bersalah atas segala peristiwa kematian adik. Tetapi, perlu diketahui bahwa tanpanya aku juga tidak ada, bahwa tanpanya aku juga ibu akan gelandangan.
Tetapi, mengapa semua perbuatan itu seketika hanyut oleh debu-debu jalan raya yang ia tinggalkan demi proyek besar di kebun sawit seluas ratusan hektar. Ibu, saat itu mengeluh sakit di kepalanya. Ia sempat dirawat selama sebelas hari. Aku masih sekolah madrasah, dan seseorang diperbantukan untuk menjaga adikku.
Ayah, ia begitu tidak tega meninggalkan ibu yang sedang dirawat, tapi satu sisi proyek begitu berarti bagi masa depan keluarga. Maka dari itu, ayah pergi bersama baby sitter beserta adikku. Tidak ada keluarga yang bisa dihubungi, semua begitu jauh baik soal jarak maupun karena berat melangkah. Iya, ayahku saat itu masih belum apa-apa. Rumah kami juga masih menumpang dan ayah hanya punya mobil truk itupun belum lunas.
Berdasarkan cerita ibu, ayah itu perantau ke Jakarta. Ibu, adalah mahasiswa ilmu geografi bertemu dengannya saat sedang demo di depan gedung dewan tahun 1998. Ayah saat itu, dengan jaket coklat saat bertugas sebagai pengantar surat rupanya turut meramaikan demo membuat mereka saling berpandangan dan ibu terkesima melihat ayah yang begitu mengebu-ngebu. Namun, ibu bukanlah wanita yang mudah menjalin cinta. Pertemuan mereka memang sudah direka Tuhan selama lima bulan. Setelah bertemu di depan kantor dewan, mereka dipertemukan lagi di perpustakaan wilayah, lalu berkenalan dan sering makan bersama.
Sadar jika wanita yang didekati ayah bukanlah gadis sembarangan. Ia mati-matian untuk bekerja agar bisa memberikan mahar terbaik. Sempat ditolak dan dipandang sebelah mata, tetapi ibu akhirnya yakin dan siap melarikan diri untuk menikah.
Tahun 1999 di Desember tanggal dua puluh empat kala itu, sebuah mobil sedan berwarna silver terparkir di area Kantor Urusan Agama. Ibu begitu jelita dengan kerudung putihnya. Ayah, wibawa meski tidak memakai jas pengantin. Mereka saling tersenyum dan dengan lantang ayah mengikrarkan janji suci dengan mahar berbentuk cincin serta kalung emas, dan seperangkat alat shalat. Dihadiri oleh wali mempelai wanita di kampung jauh dari ibu kota pihak ibu, cukup menjadi saksi. Khawatir akan terjadi hal yang tidak-tidak, maka keluarga dari pihak ibu lebih baik dinikahkan saja walau kakek belum merestui.
2003 di Januari tanggal dua puluh sembilan menjelang azan asar. Aku lahir, ayah mengazankanku. Ia menamaiku Ahmad Malaka. Tetapi, aku disapa Malaka, kata ayah lebih suka jika didengar. Nama itu tidak asing terdengar bukan! Ayah menganguminya. Jelas ia sosok teladan. Tahun berganti tahun, 2004 ayah mendapat kerjasama di Pulau Murmala. Katanya ada lahan besar di sana dapat ditanami sawit dan untung besar. Namun sesuatu terjadi.
Tak pernah terbayangkan, getaran hebat berkekuatan sembilan koma tiga skala liter mengguncang tanah yang disapa sebagai daerah Api terutama di Pulau itu merupakan pusat terjadi getaran hebat. Hewan-hewan berlari tidak karuan, burung-burung terbang saling bertabrakan, dan air laut yang bergelombang tiba-tiba surut ke belakang ikan-ikan begitu banyak terdampar didaratan. Seorang ketua kampung berteriak kencang.
“Tak usah hiraukan keadaan laut. Ayo lari, kita akan terkepung dan air laut juga naik.”
Ayah awalnya mengira tidak ada apa-apa. Tetapi, ia memaksa ke tanah itu untuk melihat siklus tanah. Benar saja, dalam sekejab air laut naik dengan sangat tinggi. Perkiraan itu, disaksikan orang-orang di pulau dengan membaca tanda-tanda alam. Ternyata, air laut naik bukan pertama kali di tahun itu, melaikan sudah belasan kali. Untunglah, ayah yang begitu keras kepala selamat dan dievakuasi meski mengalami luka hebat di bagian kakinya. Iapun pulang memberikan pelukan dan tangisan besar ibu yang depresi berhari-hari.
Ibu, di delapan bulan setelah air laut naik, kabarnya sebuah wilayah bagian barat telah berdamai. Porak poranda air laut naik, memberikan jalan dari permasalahan daerah dan negara selama tiga puluh tahun. Akhirnya bukti dari hikmah sebuah kejadian terbukti. Ibu bercerita hingga memberikan sejarah yang mendunia.
“Lalu sebuah malapetaka kembali lagi.”
Ucapan itu terserap hingga ke rongga-rongga dada. Cerita itu dikisahkan sepanjang malam di mana saat itu, ibu sedang mengandung adikku.
2025 tahun yang angkanya dari 2004 berjarak hampir dua puluh tahun. Tidak ada yang tahu, bahwa baby sitter yang menjaga adikku adalah kiriman kakek untuk merusak rumah tangga ayah dan ibu. Belum usai soal pergelatan di 1998 dan 2004, 2025 sesuatu mencekam terjadi di akhir November hingga awal Desember.
Bukankah berdekatan dengan musibah-musibah itu. Sebelum tiba mimpi buruk. Tetanggaku yang memiliki putri kembar akan melangsungkan pernikahan secara barat. Katanya terlalu kaku menggunakan baju adat. Mengapa demikian, kataku yang belum menemukan pasangan damai setelah habis aku dibabak belur oleh tipu muslihat seperti tanah hijau yang kerontang akibat ditebang. Apakah sebab musibah terjadi akibat acuhnya terhadap budaya dahulu. Memang ini zaman modern canggih serta bebas. Apapun bisa berlaku melalui kamera. Sedikit-dikit memposting mulai yang waras hingga tidak masuk akal.
Ayah berkata saat duduk bersamaku di tengah badai angin barat saat kami berjalan-jalan di lapangan Lang Panjang.
“Kau tidak perlu menjadi biang kerok untuk terkenal. Atau menonjol dari gaya aneh-aneh. Lihat saja nanti, dunia akan dipenuhi orang-orang lalai karena teknologi.”
Ya teknologi membuat siapapun lebih semangat. Semangat bekerja bagi manusia cerdas atau semangat menghujat bagi pendusta. Masalahnya, orang-orang begitu bodoh sampai lupa daerah tersebut adalah lepas dari kerusakan sejak zaman sebelum tanah air ini ada. Kisah pengantin soal kebarat-baratan itu benar-benar meninggalkan adat kita.
Tunangan didatangi pria, mana ada dalam budaya kita. Lalu baju-baju menonjolkan lekuk tubuh, mana ada dalam syariat kita. Parahnya, tak ada hal-hal yang menunjukkan sisi religi di acara pestanya. Seperti ini wilayah bebas. Akhirnya, ayah yang memang sejak zaman keras terhadap sesuatu yang salah. Menemui mereka dan terjadilah perselisihan.
Aku di kejauhan, melihat itu agak ngilu. Apa yang harus diperdebatkan dengan kebiasaan bodoh. Akupun pergi menuju ibu. Tinggallah ayah. Bersuara lantam hingga bibirnya banyak mengeluarkan gas dan liur adu pendapat. Seperti kita lihat, tidak ada perhelatan tanpa sebab bukan. Ayah itu sosok pemimpin bagi aku yang hanya tanah dipenuhi rumput dan pohon-pohon. Ibu, juga adalah aliran sungai lembut yang tiba-tiba berpaling melalui air matanya hingga menjadi luapan kemarahan luar biasa akibat ayah yang sering meninggalkannya dengan lumpuh. Seketika semua seperti bumi sebelum Adan dan Hawa diturunkan. Maka jangan macam-macam dengan hujan di mata ibu ayah!
DamayAr-Rahman atau Damayanti, berdomisili di Aceh Kota Lhokseumawe. Lulusan Bahasa Indonesia Universitas Malikussaleh dan Magister Pendidikan Agama Islam IAIN Lhokseumawe. Bergiat sebagai pendidik di SMA dan operator di lembaga pendidikan Islam.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
